Sabtu, 19 Januari 2013

#Kopdar4 @KlubBuku_BDG dan launching buku “GBS Tak Menghalangi Langkahku”





Hari ini, jam 13.00 selepas kuliah saya segera melangkahkan kaki menuju gedung Graha Kompas Gramedia di jalan R.E Martadinata Bandung. Mood saya sempat memburuk karena kebiasaan angkot ngetem terlalu lama untuk menunggu penumpang membuat saya semakin terlambat menghadiri acara yang ingin saya hadiri di Gedung Kompas Gramedia tersebut. Belum lagi ternyata saya sempat nyasar mencari alamat gedung tersebut, maklum karena pada dasarnya saya adalah pendatang di Kota Bandung ini.

Akhirnya saya berhasil menemukan Gedung yang dimaksud. Setelah bertanya ke satpam saya diarahkan ke lantai dua. Ternyata tempat launching buku yang menurut info akan dilaksanakan di lantai 4 ternyata dipindahkan ke lantai 2. Ya, hari ini saya menghadiri launching buku “GBS Tak Menghalangi Langkahku: Kisah Nyata Ogest, mantan penyanyi Cilik Menghadapi Guillain Barre Syndrom”. Honestly,ini saya menghadiri launching buku dan kali ini saya hadir dengan undangan dari penulis bukunya yakni Mbak Risma Inoy dan editornya Mbak Triani Retno. Jangan salah undangannya bukan untuk saya pribadi melainkan untuk Klub Buku Bandung.

Syukurlah ketika saya datang acara belum di mulai. Saya pun segera masuk ke dalam ruangan launching dan menyapa penulisnya Mbak Risma yang tampil ceria dengan rok kuning dan jilbab bermotif abstrak warna warni. Di dekat panggung saya melihat Ogest yang akrab di sapa Aa’ Ogest tengah dikerubuti sejumlah orang. Aa’ Ogest ini tampaknya menjadikan bertopi sebagai ciri khasnya.

Tak lama kemudian wanita berjilbab merah maron mengambil mic dan membuka acara. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan do’a oleh Pak Didin yang ternyata menurut informasi memiliki anak yang sempat terkena penyakit GBS dan berhasil sembuh. Setelah itu, sesi berikutnya menampilkan live performance oleh salah satu band dari Bandung. Dan sejujurnya saya tidak pernah berhasil mendengarkan secara jelas nama bandnya (maaf pembaca) tapi saya mengenali vokalisnya memiliki wajah yang familiar bagi saya. Ternyata saya sempat mendengar bahwa ia adalah anggota band Caffein, band yang sempat booming di zaman saya SMP :D

Setelah itu kita kemudian masuk ke sesi sharing penulis dan dengan Aa’ Ogest. Tadinya akan ada dokter yang dihadirkan untuk menjelaskan mengenai penyakit GBS ini, namun ia berhalangan hadir. Maka jadilah saat itu Mbak Risma dan Aa Ogest menjadi nara sumber yang menjawab pertanyaan orang yang hadir di acara tersebut tentang GBS.

Sesi ngobrol dengan penulis dan Aa Ogest
Sebelumnya Mbak Risma menceritakan awal perkenalannya dengan Aa Ogest. Awalnya Mbak Risma tertarik dengan lagu yang ia dengar di facebook. Ia kemudian bertanya kepada kerabatnya, The Dian, yang kemudian member tahu bahwa yang mencipta dan menyanyikan lagu tersebut adalah suaminya, Aa Ogest. Maka dimulailah perkenalan itu. Mbak Risma kemudian tertarik menulis tentang Aa Ogest. Awalnya hanya di Notes Facebook namun oleh Mbak Triani Retno atau Mbak Eno disarankan menjadikannya buku. Mbak Eno yang sebelumnya menjadi editor buku pertama Mbak Irma kemudian member deadline bagi Mbak Risma untuk menyelesaikan tulisan mengenai Aa Ogest dalam dua bulan. Nah setelah itu dimulai lah perjuangan Mbak Risma menulis di tengah-tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Ia pun ‘dihantui’ oleh Mbak Eno sang editor yang super disiplin untuk benar-benar menyelesaikan naskahnya dalam dua bulan.

Selama proses penulisannya menurut penuturan Mbak Risma, ia belajar banyak hal melalui Aa Ogest. Aa Ogest yang lumpuh dari leher ke bawah menghadapi banyak tantangan dalam hidupnya. Ia harus tidur miring ke kiri namun semua itu dijalaninya dengan tabah. Selain itu ada pengalaman ketika Mbak Risma dan Aa Ogest terjebak macet. Mbak Risma yang bergerak-gerak gelisah akhirnya dibuat malu oleh ketabahan Aa Ogest duduk diam tanpa bergerak hingga berkeringat dingin. Mbak Risma melakukan beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Aa Ogest dalam keterbatasannya seperti  nge-chat menggunakan jari tengah yang tertekuk kea rah kepalan. Ternyata membuat Mbak Risma merasa tertekun. Namun Aa Ogest yang sebelumnya pernah hidup normal mampu menyesuaikan diri dengan keterbatasan yang kini dimilikinya. Ah, Mbak RIsma selama penulisannya belajar untuk tidak lagi mudah mengeluh menghadapi hidupnya. Semoga kita yang membaca buku itu pun bisa belajar hal yang sama.

Selanjutnya Pak Ogest menceritakan kisah hidupnya dengan terbata-bata dan mata yang berkaca-kaca. Ia mengucapkan terima kasih pada Alm.ibunya yang pada awal kepenulisan buku itu masih hidup dan selalu mendukung dan merawat Aa Ogest dengan penuh kesabaran. Namun saat buku ini dilaunching beliau telah menghadap Sang Ilahi. Ia pun berterimakasih pada istrinya yang dengan sabar menemaninya dan pada anaknya yang tidak merasa malu memiliki seorang Ayah yang memiliki keterbatasan seperti dirinya.

Aa' Ogest performance dengan teman2nya
Kemudian dibuka sesi pertanyaan yang berhadiah. Sejumlah hadirin mempertanyakan mengenai detail penyakit GBS atau Guillain Barre Syndrome (GBS). Ini sedikit keterangan tentang GBS yang saya ambil dari pengantar buku “GBS Tak Menghalangi Langkahku” dan dari keterangan yang disampaikan oleh Mbak Risma dan Aa Ogest. GBS merupakan peradangan yang terjadi pada sejumlah akar saraf di susunan saraf tepi. GBS merupakan penyakit autoimun yang menyerang sususan saraf tepi. Panyakit ini tidak menular dan bukan karena keturuna. Hampir dua pertiga pasien memiliki riwayat infeksi bakteri atau virus sebelum terjadinya GBS. Umumnya berupa infeksi saluran pernapasa atau infeksi saluran pencernaan. Itulah sebabnya ciri—ciri GPS biasanya adalah flu yang berkepanjangan dan diare. Kemudian gejala selanjutnya adalah mati rasa atau kebas pada jari dan kelemahan otot-otot tungkai atas hingga tidak dapat berjalan. Setelah itu secara bertahap GBS akan menyebabkan kelumpuhan seluruh anggota tubuh. Oiya, untuk mendeteksi GBS ini hanya dengan MRI.

Diceritakan bahwa pertama kali mengalami gejala-gejala GBS, Aa Ogest mengabaikannya. Ia menganggap flu yang berkepanjangan sebagai hal yang biasa dan tidak mampu didramatisir. Padahal ternyata itu adalah tanda-tanda awal GBS. Selain itu pihak rumah sakit sendiri terlambat mendeteksi penyakit yang diderita Aa Ogest. Sebenarnya GBS bisa disembuhkan jika diberi terapi pengaturan system daya tahan tubuh (immunomodulator) serta immunoglobuilin Intervena dan pertukaran plasma yang mempunyai  efektivitas sama diketahui dapat mempercebat penyembuhan. Aksi setelah sesi bertanya, para penanya diberi hadiah. Pssstt.. 2 anak klub buku berhasil memboyong pulang masing-masing 1 hadiah yang kemungkinan adalah buku.

Setelah itu akhirnya kegiatan ditutup dengan performance Aa Ogest bersama temannya. Harus saya akui bahwa suara Aa Ogest cukup bagus. Yang hebat, tidak jarang penderita GBS mengalami sesak nafas. Namun dengan semangat yang tidak memudar Aa Ogest terus berkarya. Aa Ogest menyanyikan dua buku yang mewakili cerita hatinya salah satunya adalah lagu “Nurjanah” yang diartikan cahaya surga yang ia dedikasikan untuk ibunya. Setelah itu ada performance juga dari Yanna, vokalis The Marvells yang merupakan sahabat Ogest. Setelah itu ada juga performance dari Delicious Band. Dan akhirnya ditutup dengan performance dari Faby Macellia jebolan Mamamia yang kini berkiprah sebagai penyanyi dan pemain sinetron. Faby dan Yanna termasuk orang-orang yang hidupnya disentuh oleh Aa’ Ogest dan perjuangannya menghadapi GBS.

Hari ini saya pulang membawa banyak hal. Selain dua buku gratis karena sukses menjawab dua pertanyaan. Saya juga pulang dengan membawa ilmu tentang kehidupan. Dan tentu saja semakin mengenal banyak orang.

Terimakasih ya Allah untuk hari yang indah ini 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)