Langsung ke konten utama

Jalan-Jalan ke Lembang Part 2 (selesai)

Sepulang dari De'Ranch.
kami bermaksud mencari makan siang.
ternyata Mbah sedang ingin makan pepes dan makanan khas Sunda lainnya.

akhirnya diputuskan untuk bersantap siang di "Ampera" rumah makan Sunda. Namun ternyata "Ampera" cabang Lembang sedang penuh-penuhnya. Maklum saat itu jam makan siang.
Akhirnya diputuskan untuk menunda makan siang dan kembali ke Villa Air.

Sesampainya di Villa, saya, dhira, dan Om Idrul memutuskan untuk berenang.
Namun karena cuaca masih panas kami menunda hingga jam 4 sore.
Setelah shalat ashar, kami berangkat menuju kolam renang yang berada tepat di samping villa air.
Berbekal voucher dari pihak pengelola, kami pun masuk ke counter "ticket".
Namun petugasnya kemudian berkata, "Kami tutup jam setengah 5 ya,".
Tercenganglah kami bertiga. Akhirnya setelah berfikir sejenak, kami memutuskan untuk tetap berenang meskipun hanya sekitar 20menit. "Kepalang tanggung. Udah nyampe sini, Mana besok kan kita sudah pulang," pikir kami.

Akhirnya kami pun memutuskan untuk berenang.
Saya dan dhira lomba berenang dan saya kalah telak.
ha..ha.. Dhira mah udah les renang dan udah sampai kelas senior.
Lha saya cuma tau main air. :D

Setelah 20 menit berlalu, kami pun selesai.
Namun sial bagi saya. Saat mengambil handuk, handuk saya terjatuh dan jadi basah kuyup.
Dan kesialan lain datang, saat ke ruang ganti ternyata air di rang ganti sudah berhenti.
(T_T)
jadilah saya dan Dhira hanya berganti baju tanpa sempat berbilas. Sedangkan om idrul memutuskan untuk kembali ke Villa sambil berbasah-basahan.
Ah, ternyata sesi mandi dengan mengantri kembali berlanjut.
"Ah, lebih lama mengantrti mandi dari pada berenangnya," celetuk saya sambil tertawa.

Malam itu, akhirnya kami mencari rumah makan "Ampera" yang kondusif bagi Ibu.
Dan kami ternyata berakhir di "Ampera" Dago.
"Ah ini mah bisa sekalian pulang ke kost-an" kata saya. Dan langsung ditanggapi oleh Om Sultan dengan tawaran untuk mengaantar saya pulang. :D
Tapi saya memilih untuk tetap ikut rombongan. Karena besok masih ada sesi jalan-jalan lagi.
 ***

Hari Jum'at.
Villa diramaikan oleh kegiatan beres-beres.
Mencuci piring dan menyimpannya kembali ke dalam kardus untuk diangkut.
Melipat pakaian kotor, dan mengumpulkan kembali semua "alat tempur" mulai dari alat mandi, charger hp, hingga buku-buku bacaan.
Setelah itu pada jam setengah 11 kami meninggal villa sekaligus check-out dan bertolak menuju Tangkuban Perahu.

Sesampainya di Tangkuban Perahu, kami disambut hujan rintik dan angin yang cukup kuat.
Sehingga niat jalan-jalan diurungkan.
Terutama karena Zafran mulai rewel. Dia tidak lagi bersemangat dengan acara jalan-jalan ini.
Akhirnya setelah beberapa kali sesi foto, wisata di Tangkuban Perahu pun diakhiri.

Setelah itu kita singgah di salah satu warung makan Sunda.
Namun tampaknya mood liburan sebagian besar anggota rombongan telah mencapai anti-klimaks.
Ditambah lagi menu makanannya cukup mengecewakan.
Akhirnya setelah itu diputuskan untuk pulang.

Kali ini rombongan 1 dan 2 kembali berpisah jadwal keberangkatannya.
Rombongan 1 yakni mobil Mbah lebih dulu berangkat dengan tujuan langsung pulang ke Bekasi.
Sedangkan rombongan 2 masuk ke kota Bandung karena mengantar saya ke kost-an.
Dan akhirnya di Dago Pojok saya memisahkan diri dari rombongan 2.

Alhamdulillah dapat pengalaman jalan-jalan dan liburan.
Sayang, harapan kecil saya bisa bertemu dengan "The guy next door" tidak terpenuhi.
Ha..ha..
Belum nemu jodoh di Lembang nih judulnya. :)
.




Komentar

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…