Jumat, 06 Desember 2013

CineUs



 
Penulis : Evi Sri Rezeki
Penerbit: Noura Books
Cetakan: I, Agustus 2013
Jumlah Hal.  : 304 halaman
ISBN: 978-602-7816-56-5

Demi menang di Festival Film Remaja, Lena rela melakukan apa saja. Bukan hanya demi misi mengalahkan mantan pacarnya yang juga ikut berkompetisi, tetapi karena dia pun harus mempertahankan Klub Film sekolahnya. Soalnya klub kecilnya bersama Dania dan Dion itu kurang didukung oleh pihak sekolah. Padahal salah satu kreativitas siswa bikin film, kan! 

Untung ada satu orang yang bikin hari-hari Lena jadi lebih seru. Si cowok misterius yang kadang muncul dari balik semak-semak. Apaaa? Eh, dia bukan hantu, lho … tapi dia memang punya tempat persembunyian ajaib, mungkin di sanalah tempat dia membuat web series terkenal favorit Lena. Nah, siapa tahu cowok itu bisa membantu Lena biar menang di festival. 

Kisah Lena ini seperti film komedi-romantis yang seru. Jadi, selamat tonton, eh, baca! :)

CineUs adalah buku pertama dari seri S-Club, cerita tentang seru-seruan di klub-klub sekolah.
***

Novel CineUs adalah sebuah novel dengan tujuan pembaca (yang saya yakini) adalah remaja. Ini saya tangkap baik secara implisit maupun eksplisit. CineUs mengetengahkan problematika remaja tapi dari sisi yang lebih tangguh.  Bukan novel yang berfokus pada romansa, melainkan pada sisi persahabatan dan perjuangan mempertahankan impian.

Selasa, 26 November 2013

Buku2 yang Ingin saya miliki ^_^


Akhir tahun gini grup Blogger Buku Indonesia sudah mulai riuh dengan event “Secret Santa”. Peserta event ini akan menjadi “santa” bagi perserta lainnya. Jadi saya akan memberi dan menerima hadiah juga, sebab di luar sana akan ada satu orang yang jadi “santa” untuk saya juga.

Lucunya saat diminta membuat daftar buku yang diinginkan saya jadi bingung sendiri. Kenapa?? Mungkin karena banyaknya buku yang saya inginkan dan saya bingung menyortirnya menjadi yang PALING saya inginkan. Akhirnya terbitlah daftar ini di akun Goodreads saya:

1. The Prague Cemetery oleh Umberto Eco (terjemahan)
2. 2 States karya Chetan Bhagat (Terjemahan)
3. Honeymoon with My Brother karya Franz Wisner (Terjemahan)
4. The Gift karya Cecelia Ahern (Import, karena setahu saya terjemahannya belum ada)
5. The Every Year Collection karya Cecilia Ahern (import)
6. Slammed karya Colleen Hoover (terjemahan)
7. Point of Retreat karya Collen Hoover (terjemahan)
8. Memang Jodoh karya Marah Rusli
9. Mum’s List karya St.John Greene (terjemahan)

Selain itu saya juga ingin memiliki 3 karya Jodip Picoult (impor) yang belum diterjemahkan ke Bahasa. Buku-buku tersbeut adalah:
- The Storyteller
- The Pact
- Change of Heart

Selain itu ada beberapa buku non fiksi yang ingin saya miliki yaitu:
1. Sejarah Perempuan Indonesia karya Cora Vreede-De Stuers terbiatan Komunitas Bambu
2. Kahlil Gibran di Indonesia terbitan Komunitas Bambu
3. Kakawin Sutasoma oleh Mpu Tantular terbitan Komunitas Bambu
4. Sejarah Rempah karya Jack Turner terbitana Komunitas Bambu

Semua ini adalah daftar baru dari buku yang saya update akhir tahun lalu. Dari semua wishlist 2013 saya (yang saya update tahun 2012 di blog ini) hanya Seri Lima Sekawan yang belum berhasil terwujud (^_^) *alhamdulilah*
Jadi seri lima sekawan masih terus mejadi wishlist dari tahun ke tahun. Ha..ha.. (^_^)v

Minggu, 24 November 2013

Beruang Matahari, Komunitas yang Cinta Anak Yatim



Bicara tentang komunitas di Bandung rasanya tidak akan ada habisnya. Kota ini didaulat sebagai kota yang punya banyak komunitas dan anak muda yang kreatif dan gaul. Rasanya jika kita punya hobi, maka tidak akan sulit menemukan komunitas untuk hobby tersebut di Bandung ini.

Nah, kalau ditanya komunitas yang kegiatannya menolong orang-orang yang tidak mampu, maka saya mengenal satu komunitas seperti itu. Yup, namanya Beruang Matahari. Komunitas ini berkonsentrasi pada kegiatan pembinaan untuk adik-adik di panti asuhan. 

Mengenai nama, sekedar info aja nih. Beruang Matahari itu beneran ada lho! mereka adalah jenis beruang yang tidak melakukan hibernasi, cenderung setia, dan loyal. Beruang Matahari hanya ada di Asia Tenggara khususnya di Kalimantan. Hebatnya Beruang Matahari mempunyai kebiasaan yang berbeda dari beruang lainnya, dimana jenis ini selalu menggendong bayinya di kaki belakangnya, dan terus menjaga bayinya hingga 2 tahun lamanya, suatu hal yang tidak terdapat pada jenis beruang lain. Ini tentu sesuai dengan tujuan Beruang Matahari yang ingin membantu menyiapkan adik-adik panti bermasyarakat.

http://beruangmatahari.com/wp-content/uploads/2013/01/yea1forslide.jpg


Beruang Matahari melakukan pembinaan tapi bukan pembinaan serius seperti diajari menjahit, beternak, dan lain-lain. Beruang Matahari lebih pada membangun softskill mereka. Heh? Softskil itu maksudnya apa??
 

Yuk Berteman dengan Teknologi



Pagi ini Bandung cerah, rasanya berjalan-jalan keliling kota bisa menjadi salah satu alternatif menyenangkan. Berbekal sebuah smartphone maka banyak aktivitas yang bisa dilakukan termasuk mengabadikan hal-hal yang menarik untuk diceritakan kembali ke teman-teman atau saudara.

Abad 21 datang membawa teknologi yang semakin maju dan kini tumbuh dengan pesat. Benar-benar memudahkan kita berkomunikasi dengan SIAPA PUN! Dan kini era smartphone datang dan membanjiri toko serta mewarnai kehidupan manusia.

Dahulu, untuk jalan-jalan seseorang harus membawa kamera, handphone, bahkan tape recorder untuk membuat cerita yang menyeluruh tentang hal menarik yang mereka temui. Kini, berbekal sebuah smartphone semua cerita bisa kita lengkapi dengan foto dan vidoe serta siap di posting ke berbagai akun media sosial dan dikirim ke email sahabat yang ada di belahan dunia lain.

Ya, teknologi sudah berhasil memudahkan (bahkan sebenarnya memanjakan) kita. Tapi, kok rasanya ada yang berubah yah? Berubah bagiamana maksud kamu, Tria??

Minggu, 17 November 2013

Curhat "Tukang Sampah" di Berbagai Sosial Media

Selamat sore.
Selamat datang hujan.
Selamat menjelang langit gelap yang berteman bintang.

Sudah lama juga tidak menulis dengan rutin di blog ini.
Bukan..bukan karena saya berhenti menulis. Melainkan saya menyebarkan tulisan dalam berbagai media. Memanfaatkan berbagai kemudahan teknologi yang semakin mendukung para penulis untuk terus "nyampah" dan berserapah (mungkin?? ^_^)

Senin, 04 November 2013

Mencatat Sudut Kota: Belajar Pelayanan Publik dari Perumahan Tua



Bandung, 3 November 2013
Oleh: Atria Dewi Sartika

Setelah beberapa kali gagal ikut serta, kali ini saya kembali mengikuti kegiatan ngaleut bersama Komunitas Aleut. Kembali berjalan-jalan dan mengenal (lebih banyak lagi!) sudut kota Bandung. Benar adanya filosofi Komunitas Aleut yang kegiatannya adalah ngaleut yang berarti berjalan bersama-sama. Dengan berjalan kaki, kita akan menemukan apa yang selama ini kita lewatkan saat berkendara.

Kali ini saya berkenalan dengan beberapa jalanan yang belum pernah saya lewati, diantaranya adalah Jl. Geusanulun, Jl. Adipati Kertabumi, dan Jl. Aria Jipang. Sedangkan jalan lain seperti Jl. Trunojoyo; Jl. Maulana Yusup; dan Jl.Pangeran Kornel sudah sering saya lewati. Nah ternyata dengan menyusurinya sambil berjalan kaki, saya merasa seperti baru pertama kali melewati ketiga jalan tersebut.

Pertama kali melewati Jl. Geusanulun membuat saya sumringah. Kenapa? Karena masih banyak rumah-rumah tua di sana. Ada sejumlah rumah yang bahkan sepertinya belum mendapatkan perubahan signifikan, kecuali perubahan pada atap; kaca jendela; dan pintu. Bahkan di sini saya dan teman-teman dari Komunitas Aleut melihat sebuah rumah yang masih memiliki nama yang terpahat di dindingnya. Rumah itu bernama “Gerardine”. Orang Belanda dahulu, biasanya menamai rumah mereka dengan nama anak perempuan pertamanya. Maka asyiklah saya menduga-duga apakah benar nama anak perempuan pertama pemilik pertama rumah ini adalah “Gerardine”? Cantikkah ia? Apakah dengan menamai rumah ini ia menjadi mudah ditemukan oleh para pemujanya? Apakah jodohnya cepat datang? *efek kebanyakan baca Historical Romance*

Rumah bertuliskan "Gerardine"

Selasa, 29 Oktober 2013

Sumpah Pemuda dan Semangat Muda?! Tidak Perlu Hebat

Semangat pagi!!!

Numpang nge-share kebingungan..

Kemarin2 saya sibuk nonton berita tentang berbagai aksi ceremonia Sumpah Pemuda. Mulai dari anak-anak di sekolah yang berada di dekat lokasi prostitusi "diarahkan" untuk membuat Sumpah "Bertanah air satu, tanah air bebas prostitusi" usianya aja masih 13 tahun, memangnya dia paham? Sampai aksi di jalanan.

Jujur saya bingung, bagian mananya semangat Sumpah Pemuda yang ingin ditanamkan kembali? Dan kenapa harus muluk-muluk sih.

Saya membayangkan semua pemuda-pemudi Indonesia (termasuk yg sudah tdk masuk kelompok itu namun tetap berjiwa muda) mau berjanji pada diri sendiri untuk selalu menepati janji, maka akan banyak perubahan baik di Indonesia ini.

"Ok, kita ketemu jam 8 di kampus", itu janji simple. Maknanya bukan pada kita sekedar ketemu, tapi juga datang sesuai waktu yang dijanjikan. Yup, "tepat waktu" belum jadi budaya di Indonesia.

Selasa, 08 Oktober 2013

Sahabat Bosscha Berziarah ke Makam Bosscha



Hari Kamis, 3 Oktober 2013, Friends of Bosscha bersama teman-teman dari Komunitas Aleut! melakukan ziarah bersama ke pengalengan. Setelah pada malam sebelumnya, saya dan teman-teman mengikuti kegiatan peneropongan  bintang sekaligus Launching bersama Friends of Bosscha (baca Lilin Kecil Sahabat Bosscha). 

Lantas, apa yang dilakukan Sahabat Bosscha di Pengalengan? Ada apa di Pengalengan? Pengalengan, tepatnya di Perkebunan Teh Malabar, adalah tempat peristirahatan terakhir KAR Bosscha. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya sempat menyinggung tentang beberapa sumbangsih KAR Bosscha. Sedikit saya tuliskan tentang riwayat hidup Bosscha.

Makam KAR Bosscha
Karel Albert Rudolf Bosscha lahir di Den Haag pada tanggal 15 Mei 1865. Beliau menghembuskan nafas terakhir di Malabar, Pangalengan, 26 November 1928. Beliau hidup dengan kecintaan pada ilmu pengetahuan. Ini ada hubungannya dengan latar belakang beliau. Ayah KAR Bosscha, Johannes Bosscha, adalah seorang Guru Besar Fisika. Namun sayangnya KAR Bosscha tidak berhasil menyelesaikan pendidikannya di Politeknik.
KAR Bosscha kemudian datang ke Hindia Belanda pada 1887 untuk  membantu pamannya, Edward Julius Kerkhoven, di Perkebunan Sinagar, dekat Cibadak, Sukabumi. Namun KAR Bosscha merasa kurang cocok di sana. Ia pun memutuskan membantu ekspedisi adiknya, Ir. Jan Bosscha ke Kalimantan. Namun ternyata di Kalimantan pun KAR Bosscha tidak merasa cocok. Akhirnya ia kembali ke Priangan. Akhirnya pada tahun 1896 oleh sepupu dari pihak ibunya, Edward Kerkhoven, KAR Bosscha di serahi tanggung jawab untuk mengelola perkebunan Malabar. Dari sinilah sumbangsih KAR Bosscha bermula.
Kecintaan Bosscha pada ilmu pengetahuan akhirnya tersalurkan. Bosscha membangun sebuah pembangkit listrik dengan menggunakan aliran sungai. Listrik ini digunakan untuk mengaktifkan mesin pelayu yang diciptakan oleh KAR Bosscha. Tindakan KAR Bosscha yang memanfaatkan alam dan iptek ternyata mampu mengembangkan Perkebunan Teh Malabar yang dikelolanya. Bahkan pada tahun 1910 perkebunan tersebut sempat dinyatakan sebagai perkebunan teh terbesar di dunia, sebuah prestasi yang sangat besar.
Kondisi ini juga memberi Bosscha kemapanan finansial. Namun ia tidak menikmatinya untuk dirinya sendiri. Bosscha membangun 420 bedeng-bedeng sebagai hunian untuk pekerja pribumi di perkebunannya. Kini dari 420 bedeng-bedeng tersebut, hanya tersisa 1 yang disebut bumi hideng. Sebutan bumi hideng ini muncul karena dindingnya dilapisi aspal dan minyak tanah sehingga berwarna hitam(dalam bahasa Sunda disebut hideng).

Lilin Kecil Sahabat Bosscha

Rabu, 2 Oktober 2013, jam 5 sore saya sudah sampai di Observatorium Bosscha bersama dua orang teman. Di tengah jalan, kami sempat bertemu gerimis. Namun syukurlah sesampainya kami di Bosscha yang ada hanya awan mendung. Saya segera menyapa Pak Mahasena, Kepala Observatorium Bosscha, yang tampak asyik berkumpul dengan staff Observatorium Bosscha. Saya pun kemudian menyapa Pak Eka Budianta yang sedang menjalani sesi wawancara dengan seorang wartawan. Tak lama kemudian Pak Eka mengajak saya melihat pohon yang ditanam oleh Sahabat Bosscha yakni sebuah Pohon Ketapang Kencana dan Pohon Cemara Lilin.
Waktu pun berlalu, pukul 19.00 langit kota Lembang nampak masih diselimuti awan. Hawa dingin semakin terasa memaksa saya merapatkan jaket. Tampak oleh saya sejumlah orang tengah bercengkrama di teras Wisma Kerkhoven. Nampak di sebuah meja panjang berjajar jagung bakar, bajigur, bandrek, ketan bakar, dan ubi cilembu yang siap santap. Saya pun mengambil segelas bandrek untuk menghangatkan badan.

Kamis, 12 September 2013

Kartini Pribadi Mandiri




Penulis: Haryati Soebadio & Saparinah Sadli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 1990
Jumlah hal.: 130 halaman
ISBN: 979-511-095-0

Buku ini ditulis oleh dua orang perempuan Indonesia. Yang bahkan keduanya punya latar belakang yang masih dekat dengan Kartini yakni dari golongan priyayi Jawa. Maka penyelaman kedua penulis dalam ranah pemikiran Kartini mungkin akan lebih baik karena dapat mengerti kondisi di lingkungan sekitar Kartini.

Buku ini membuka pembahasannya dengan menjelaskan proses sosial politik Eropa Barat di masa Kartini. Eropa Barat digambarkan sebagai negeri para penjajah yang situasi politiknya akan ikut mempengaruhi situasi politik di Indonesia sebagai wilayah jajahan mereka. Diceritakan secara singkat tentang perkembangan ethische politiek atau politik etis. Salah satu penafsiran tentang politik etis yang disebutkan di sini adalah bahwa politik tersebut bermakna “untuk membina dan membimbing penduduk pribumi ke arah kemajuan supaya bisa mencapai kemerdekaan menurut pola Barat dengan penjajah sebagai pemimpin”. Ada pula fakta menarik yang disebutkan dalam buku ini mengenai politik etis yaitu seperti yang tertulis di halaman 12.
“Suatu hal yang menarik perhatian dalam hubungan kita di sini, ialah bahwa pencetus ide yang berkembang menjadi ethische politiek adalah Van Deventer, yang akibatnya sering dinamakan ‘Bapak Politik Etis’. Dan yang kemudian memberi namanya kepada jenis pendidikan wanita pribumi Indonesia, yaitu Van Deventerschool.”

Setelah membahas tentang kondisi politik di luar lingkungan Kartini, penulis kemudian menjabarkan latar belakang keluarga Kartini. Kartini berasal dari
keluarga yang memiliki pola pikir yang lebih modern dari keluarga Jawa lainnya di zamannya. Kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro, mengusahakan pendidikan Belanda pada keempat anak laki-lakinya. Karena saat itu belum ada sekolah Belanda yang bisa dimasuki oleh orang pribumi. Beliau menggaji guru Belanda untuk mengajari anak-anaknya di rumah.  Ayah Kartini kemudian melakukan hal serupa. Ia bahkan mengambil sikap yang lebih berani. Ia menyekolahkan anak-anak perempuannya di sekolah Belanda. Padahal saat itu hanya anak laki-lakilah yang diizinkan mengenyam pendidikan di sekolah.

Namun sayangnya sang Ayah tetap tidak mampu melawan adat yang menuntut agar Kartini dipingit saat berusia 12 tahun. Kartini pun berhenti dari sekolah.

Jumat, 06 September 2013

Tarakan "Pearl Harbour" Indonesia



Penulis: Iwan Santosa
Penerbit: PT Primamedia Pustaka
Cetakan: Maret 2005
Jumlah hal.: 190 halaman
ISBN: 979-696-301-9
Dipinjam dari: Bang Ridwan

Saat membaca judulnya saya langsung tergugah. Ya, sudah menjadi bagian dari psikologi pembaca untuk  tertarik dengan hal-hal yang familiar dengan hidup mereka. Melihat kata Tarakan dalam judul buku ini membuat saya tertarik membacanya. Alasannya cukup sentimentil. Saya pernah tinggal di kota ini dan sampai sekarang masih menganggap kota itu sebagai salah satu “rumah” tempat saya pulang.
Salah satu hal yang membuat saya tertarik dengan buku ini adalah adanya keterangan dari sampul yang menuliskan

”Sebuah tank Matilda milik Angkatan Darat Australia mendarat di Pantai Lingkas melintasi jembatan ponton besi yang disiapkan kesatuan Zeni Angkatan Laut AS “Sea Bee”. Dewasa ini kawasan tersebut dinamakan “Jembatan Besi” untuk mengenang operasi amfibi Sekutu di Tarakan”
Keterangan itu jelas menggugah saya yang mengenal daerah tersebut dan bahkan dulu sering melewatinya. Akhirnya saya pun tertarik meminjam buku ini.

Membaca bagian awal buku ini diangkat tentang kekuatan militer Jepang. Mereka melakukan penyerangan bersamaan di beberapa titik di wilayah kekuasaan AS-Sekutu. Penulis meyakini bahwa serangan itu dilakukan untuk melemahkan sekutu sehingga Jepang bisa menguasai Nusantara dan wilayah Asia Tenggara untuk mendapatkan minyak bumi. Ini karena Jepang menyadari bahwa kebutuhan akan minyak dan gas sangat penting bagi negara industri. Dan wilayah Nusantara yang paling dekat dengan Jepang adalah Pulau Tarakan. Pulau Tarakan pada saat itu mampu menghasilkan 80.000 ton minyak per bulan. Akhirnya sampailah tentara Jepang pada dini hari 11 Januari 1942.

“Satuan khusus Angkatan Laut Jepang yang ditugaskan untuk mengambil alih Tarakan, merupakan bagian dari rencana Gurita Tengah (Central Octopus). Panglima Angkatan Laut Jepang termahsyur Takeo Kurita memerintah unit tempur ini bergerak dari dua arah di utara melalui Kepulauan Filipina dan satuan dari Kepulauan Palau di utara Papua di bawah komando Mayor Jenderal Shizou Sakaguchi.” (Hal. 14)

Sabtu, 24 Agustus 2013

Quote-ku #1

"Tuhan memberi seseorang ujian selalu bersama sebuah kunci jawabannya. Hanya saja manusia belum mencarinya dengan teliti. Berharap jawaban diturunkan dari langit. Padahal 'contekan' nya sudah ada di dekatnya."

Jumat, 23 Agustus 2013

TIPS MENULIS RESENSI BUKU


Halo!


pinterest.com

Buat kamu hobi yang banget baca buku dan ingin berbagi pengalaman membaca dengan teman-teman atau lebih banyak orang di luar sana, kamu bisa loh membuat review dari buku-buku yang kamu baca di blog, facebook atau media apapun yang kamu suka. Atau bahkan kamu pengen banget bisa menulis dengan baik? Hmm... kamu tau gak sih kalo menulis resensi buku bisa menjadi awalan yang baik buat kamu belajar menulis. 

Nah, biar tulisan resensi kamu enak dibaca, PlotPoint punya tips menulis resensi buku nih. Silahkan disimak dan diresapi baik-baik ya guys. :) Hehe...

1. Sinopsis tidak sama dengan resensi.
2. Beberapa elemen penting dalam resensi: penokohan (karakternya siapa aja? apa yang menarik?); alur cerita (flashback? alur lurus? atau maju-mundur?); penjelasan plot cerita (sinopsis singkat, hindari spoiler!); dan sudut pandang (siapa naratornya? menggunakan sudut pandang orang pertama? atau orang ketiga?)
3. Jangan klise! Hindari komentar yang terlalu umum seperti: “Karakternya sangat hidup”, atau “Saya menangis semalaman membaca buku ini”. Ambil kutipan singkat dari dalam buku yang menggambarkan pendapat kita itu. Kalau karakternya unik, ambil cuplikan adegan yang memperlihatkan di mana uniknya karakter tersebut.
4. Do your homework: Research! Cari background resensi yang menarik, fakta unik atau hal-hal yang tidak diketahui orang banyak. Misalnya, saat meresensi Twilight, tulis sedikit sejarah singkat vampir di dunia literatur dan perkembangannya dari Vlad Tepes si Dracula sampai Edward Cullen. Cari hal-hal yang akan menarik perhatian pembaca.
5. Sertakan elemen pendukung: bahas dari segi cover, terjemahan, editing, ukuran font, juga info-info tambahan seperti apakah buku ini termasuk bestseller atau pernah meraih penghargaan tertentu.
6. Biasakan sertakan info lengkap buku tersebut (judul, cetakan keberapa, penerbit, penulis, jumlah halaman, bahkan harga buku). Untuk resensi online, disarankan minimal 2000 karakter (jangan terlalu pendek, tapi jangan kepanjangan juga), dan kalau bisa dibuat judul yang menarik (jangan selalu menggunakan judul buku sebagai judul resensi).

Selamat meresensi!

Sabtu, 27 Juli 2013

Sedikit Bernostalgia Pada Dunia Literasi-ku



Sudah lama rasanya saya tidak membuat curhatan pribadi di blog ini. Dari niat awal membuat blog untuk menuliskan resensi buku dan cerita jalan-jalan yang sempat beberapa kali saya lakukan, blog ini berhasil mencapai usia yang jauh lebih panjang dari blog-blog lain yang sebelumnya saya buat. Dengan tulisan yang lebih sering di update tentu saja. Nasib blog-blog lain yang saya buat dengan semangat menggebu-gebu untuk menuliskan buah pikiran saya kini benar-benar lapuk dimakan waktu. Seingat saya, blog pertama saya buat saat saya masih duduk di bangku SMA kelas 1. Berbarengan dengan membuat akun Friendster yang baru booming di Indonesia saat itu. Sayangnya sekarang saya sudah melupakan URL-nya.

Nasib blog-blog ini mengingatkan saya pada nasib diary-diary yang saya tulis sejak SD. Semuanya hanya berhasil terisi maksilam ¼ halaman. Bukan hal yang patut dibanggakan. Tapi itu bisa menjadi salah satu penanda bagi awal kesukaan saya menulis. Seingat saya, saat SD saya pernah memenuhi sebuah buku dengan puisi kanak-kanak saya tentang hal-hal yang saya sukai atau hal-hal yang saya miliki. Sayangnya karena harus pindah beberapa kali karena pekerjaan orang tua, buku itu pun hilang entah kemana. Tertinggal di sofa rumah di Palopo, atau dibuang bersama perkakas-perkakas yang sudah tidak layak untuk disumbang ke ibu-ibu yang sering membantu mama saya di Palopo dulu.

Maka jika ada yang bertanya, sejak kapan kamu suka menulis, maka saya mungkin akan menjawab sejak saya kecil. Sejak saya bisa menulis. Sejak saya gemar merengek pada mama untuk dibelikan buku tulis dengan sampul yang menawan yang kemudiGan saya tulisi dengan kalimat pembuka “Dear, diary”.

Selasa, 23 Juli 2013

Jilbab..mengganggu pikiranku



hm..beberapa hari ini saya beberapa kali membaca tulisan "Jilbab Antem" atau "Ciput Antem". Sejak tinggal di Bandung dan jadi anak kost-kostan, saya bisa tergolong "Kudet" (Kurang Update -istilah ini pun baru saya ketahui beberapa hari lalu (-_-")). Sejak dulu menonton tv tidak pernah menjadi aktivitas yang saya gemari. Membaca majalah fashion pun saya lakukan dengan teknik membaca skimming dan sekedar melihat gambar-gambar yang menarik.

Nah istilah "Antem" ini pun baru saya ketahui setelah tanpa sengaja membacanya disebuah review buku tentang hijabers-hijabers-an. Kata Antem ternyata merujuk pada frasa "Anti Tembem". Ya, ternyata ada sejumlah muslimah yang ragu pakai jilbab karena takut terlihat semakin tembem atau chubby. Nah buku ini mencoba memberika tips-tips cara memakai jilbab agar tidak membuat pipi terlihat tembem.

Selasa, 16 Juli 2013

Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe)




Penulis                 : Haryoto Kunto
Penerbit              : Granesia
Cetakan               : Pertama 1996
Jumlah hal.         : 114 halaman

Buku Ramadhan di Priangan ini adalah salah satu bacaan yang menarik untuk menghabiskan waktu menanti waktu berbuka puasa tiba. Meskipun membahas sejarah dan hal-hal berbau tempo doeloe, buku ini ditulis menggunakan bahasa tutur sehingga lebih mudah dipahami. Menyenangkan membaca suasana Ramadhan masa lalu yang pasti sudah banyak berbeda.

Masyarakat Bandung benar-benar membuat “sambutan” khusus untuk bulan Ramadhan ini. Diceritakan fenomena yang tidak mungkin lagi dirasakan oleh masyarakat Bandung masa kini. Salah satunya adalah cerita bahwa dulu bunyi kentongan Mesjid Agung Bandung bisa terdengar sampai ke wilayah Bandung Utara seperti wilayah Dago Simpang, Mentos (Jl.Siliwangi sekarnag), Terpedo (Wastukencana). Fenomena ini tidak akan lagi bisa terulang sebab meskipun kentongan sudah diganti dengan pengeras suara, tetap saja bunyi dari Masjid Agung tersebut tidak akan terdengar lagi ke wilayah Dago. Kondisi ini bisa menjadi cermin tentang bagaimana kondisi alam dan masih sepinya Bandung hingga awal tahun 1900-an.

Gelap Terang Hidup Kartini



Penulis                 :Tim Penulis Tempo
Penerbit              : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan               : Pertama, Juni 2013
Jumlah hal.         : 148 halaman

Seorang Raden Ajeng Kartini merupakan sosok yang banyak dikenal oleh bangsa Indonesia. Mulai dari anak-anak SD sampai generasi-generasi yang lebih tua.  Namun bentuk pengenalan yang diketahui masyarakat umum hanyalah sedikit. Mereka hanya akan berkata bahwa, “Kartini adalah pahlawan perempuan. Ia memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh pendidikan. Menyuarakan tentang persamaan derajat perempuan dan pria,”.

Sejujurnya kalau saya ingin mendebat salah satu pernyataan tentang “Kartini adalah orang pertama yang mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi” maka ada data yang bisa dijadikan perbandingan. Seorang Raden Dewi Sartika, pahlawan perempuan dari tanah Sunda, telah lebih dulu membuat sekolah ini. Dewi Sartika tercatat telah mulai mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi sejak 1902 di halaman belakang ibunya. Sekolah itu bernama “Sakola Istri”. Sekolah yang dibuatnya ini diketahui oleh C.Den Hammer (Inspektur Pengajaran Hindia Belanda) dan sempat dicurigai mengingat latar belakang keluarga Dewi Sartika. Kemudian pada tahun 1904 Sakola Istri pindah ke halaman pendopo alun-alun.

Kalau dari segi lebih dahulu membuka sekolah, maka dari yang saya baca, Kartini baru membuka sekolahnya pada tahun 1903 dan tipenya mirip dengan Sakola Istri. Kartini membuka sekolah di beranda belakang rumah ayahnya seorang Bupati Jepara. Selain itu sekolah Kartini diisi oleh anak-anak dari gologan priyayi, sedangkan Dewi Sartika sejak awal mendirikan sekolah menolak klasifikasi seperti itu. Menurut Dewi Sartika semua perempuan berhak mendapatkan pendidikan. Untuk membaca lebih banyak tentang Dewi Sartika silahkan baca di sini.

Namun di luar itu semua, dengan membaca buku Gelap Terang Hidup Kartini ini kita akan membaca kehidupan Kartini dalam bentuk yang lebih kompleks. Kita akan disuguhkan mengenai bagaimana kecerdasan seorang Kartini berkembang dan fakor-faktor yang mempengaruhi pemikiran-pemikiran yang ia tuliskan dalam suratnya. Proses pingitan yang dijalani oleh Kartini karena tuntutan adat, menjadi penghalang bagi berkembangnya seorang Kartini tapi sekaligus menjadi titik awal bagi Kartini untuk lebih membuka wawasan. Dalam masa pingitan inilah Kartini menjadi produktif menuliskan gagasan-gagasannya kepada sahabat-sahabat pena yang ternyata mereka bukanlah orang-orang biasa saja.

Senin, 15 Juli 2013

Apresiasi Film "Le Grand Voyage"




Siang ini Aleutian! nggak jalan-jalan menyusuri kota Bandung. Kali ini kita menyusuri kehidupan (tsaaahh) melalui apresiasi film. Ya, Le Grand Voyage adalah film yang dipilih untuk menghabiskan waktu sambil menunggu info adzan Maghrib di TimeLine Twitter (ha..ha.. generasi zaman sekarang..)
Berikut profil Le Grand Voyage
Directed by
Produced by
Written by
Starring
Distributed by
Pyramide Distribution
Release date(s)
  • September 7, 2004
Running time
108 minutes

Le Grand Voyage adalah sebuah film berbahasa Perancis tentang perjalan seorang ayah dan anaknya menuju Mekah untuk menunaikan ibadah Haji. Film ini diawali dengan kesibukan sang anak, Reda, yang tengah memperbaiki sebuah mobil. Setibanya di rumah ia mendapat kabar bahwa ia harus menggantikan kakaknya menyupiri sang ayah ke Mekah. Hal ini karena kakaknya, Khalid, ugal-ugalan di jalan sehingga SIM nya dicabut. Jadilah dengan berat hati ia menemani sang ayah menempuh perjalanan tersebut.

Berangkat dari Perancis, perjalanan sejauh 5.000 km itu pun menjadi sebuah perjalanan panjang dengan banyak ibrah (hikmah). Namun jangan salah, meskipun membahas mengenai perjalanan haji ayah Reda, namun dimensi keislaman dalam film ini tidaklah menjadi hal yang paling ditonjolkan. Film ini mengangkat Islam dari sudut pandang yang berbeda.

Jumat, 28 Juni 2013

Wajah Makassar Hari Ini

Setelah cukup lama tidak menginjakkan kaki di kota Daeng, maka saya jadi sedikit lebih sensitif tentang apa yang terjadi dengan kota itu. Makassar sejak dulu memang terkenal sebagai kota yang panas, mengingat posisinya yang terletak di pinggir pantai, maka hal itu menjadi hal yang wajar. Namun kedatangan saya setelah merantau ke tanah Sunda, dan hidup dalam kondisi yang lebih sejuk dan dingin, membuat saya menjadi semakin sensitif di Makassar.

Dulu saat masih tinggal di Makassar, maka hawa panasnya menjadi hal yang biasa. Terjebak di angkot selama satu jam lebih demi mencapai Kampus Unhas pun saya jalani dengan biasa saja, meski rasanya saya bak ikan kering yang dijemur. Namun sejak tahun lalu, saat berlibur dari kepenatan kuliah, saya mulai lebih perasa atas panas matahari di Makassar. Saat harus menjelaskannya, saya akan berkata, "Panas di Makassar sekarang benar-benar terik. Rasanya seperti ditusuk-tusuk di bagian kulit yang tidak terlindung oleh kain pakaian".
Ya, benar. Dulu saya hanya akan berkata, ya Makassar panas seperti biasa. Tapi kini membandingkannya dengan saat Bandung sedang terik-teriknya hingga membuat penduduknya berpeluh dan berkesah pun tetap masih lebih panas kota Makassar.

Dan kini, saat dua hari lalu saya melihat jalanan di Pettarani, maka saya hanya bisa beristigfar sambil menggelengkan kepala. Taman yang terletak di tengah jalan yang menjadi pemisah jalan, hancur dilindas oleh Bulldozer. Benar-benar hancur dan rata bersama tanah. Saya kemudian sempat membaca sekilas di salah satu harian di Makassar bahwa keputusan itu diambil karena pertimbangan ekonomi. Perluasan jalan dibutuhkan untuk mengurangi kemacetan Makassar yang saya yakin lebih parah daripada Bandung. Namun dana untuk pembebesan lahan di pinggir jalan utama tersebut sangat besar jumlah, hingga akhirnya diputuskanlah untuk mengorbankan partisi jalan yang hijau tersebut.

Membaca hal itu saya lantas berkomentar di hadapan teman-teman saya, "Mereka ini seperti orang bodoh saja. Sibuk berbicara solusi tapi tutup mata terhada penyebabnya. Kemacetan di Makassar itu efek jumlah pengendara mobil dan motor. Ya coba batasi penggunaan kendaraan bermotor entah dengan pajak kendaraan yang dinaikkan atau hal lainnya," gerutuku. Lantas seorang teman berkata, "Ah ko itu kaya' tidak tau saja siapa pemilik usaha dealer mobil terbesar di sini". Benar juga, siapa yang tidak tahun usaha "Hadji Kalla" yang merupakan perusahaan penyalur mobil terbesar dan ternama di Sulawesi Selatan.

Tapi otak saya terus berfikir, orang-orang berbondong2 ingin memiliki kendaraan pribadi karena kondisi jalanan di kota Makassar tidak rama untuk pejalan kaki. Contoh:
1. Di jalan-jalan utama di Kota Makassar masih minim trotoar, terutama yang berada di area ruko-ruko.
2. Minimnya pohon-pohon yang terletak di pinggir jalan untuk meneduhkan para pejalan kaki.
3. Di jalan yang lebar seperti Pettarani sangat sedikit jumlah jembatan penyebrangan, sehingga sangat sulit dan berbahaya bagi pejalan kaki untuk menyebrang.

Bayangkan jika pejalan kaki berkurang karena kondisi jalanan yang ramah, maka untuk menempuh tujuan yang tidak terlalu jauh mereka bisa memilih menggunakan angkutan umum dan berjalan kaki. Tapi dengan kondisi sekarang, sekedar dari lampu merah Pettarani-Hertasning menuju Ramayana Pettarani saja, orang akan lebih suka naik motor atau mobil pribadi.

Kemacetan Makassar sejujurnya bagi saya adalah bentuk kegagalan pemerintah kota Makassar dalam memanage masalah transportasi di kota ini. Luas jalan Pettarani itu, 3 kali lebih luas dari jalan Dago yang ada di Bandung atau sedikit lebih luas dari jalan Soekarno-Hatta. Namun, pemerintah kota Bandung masih lebih siap menghadapi kemacetan yang terjadi terutama saat weekend. Bandung itu macet pada waktu weekend oleh pendatang yang berasal dari luar kota untuk berlibur atau jalan-jalan di Bandung. Sedangkan di Makassar, kemacetan itu terjadi setiap hari dan berasal dari orang Makassar itu sendiri. Maka wajar jika saya mempertanyakan kegagalan pemerintah.

Inilah wajah Makassar saat ini. Kota yang "baru" menjadi metropolitan namun belum siap menghadi resiko dalam menyandang status tersebut. Benahi kota ini, jangan hanya berfokus pada ekonomi namun juga pada ekosistem dan lingkungan hidup. Jangan ulangi "dosa" Jakarta dan kemudian berbangga bahwa kemacetan dan banjir menjadi bukti bahwa Makassar pun sebuah kota besar dan maju seperti Jakarta.

Selasa, 25 Juni 2013

Makassar International Writers Festival 2013

Malam ini saya alhamdulillah sempat menghadiri pembukaan "Makassar International Writers Festival 2013". Ini menjadi moment pengingat bahwa Makassar tidak selalu dianggap sebagai kota para demonstran.
Kegiatan ini menjadi ritual pulang kampung untuk mereka yg merantau ke berbagai kota hingga negara dan menjadi media bagi mereka untuk membangun kota ini. Kegiatan ini juga jadi bukti dan buah cinta para budayawan yang ada di dalam rumah budaya bernama Rumahta'.

Makassar International Writers Festival 2013 ini adalah perhelatan ke-3. Dan kali ini penulis yang ikut berasal dari 8 negara diantaranya Australia, Singapura,  dan Malaysia. Harapannya Festival ini bisa menjadi catatan sejarah sendiri bagi kota Makassar.

Acara Makassar International Writers Festival 2013 ini dibuka oleh Walikota Makassar dengan menulis dan membacakan penggalan puisi AM Dg Myala. AM Dg Myala adalah salah seorang sastrawan era Pujangga Baru yg berasal dari Makassar. Festival kali ini pun mengambil tema "Tribute for AM Dg Myala"
Salah satu acara malam ini pun adalah pemutaran film dokumenter tentang pencarian jejak atas karya AM Dg Myala. Dicritakan kesulitan dalam mencari jejak karya beliau. Kabarnya beliau menulis skitar tahun 1932. (Ah dapat ilmu baru lagi. Dan daftar buku yg akan dicari diloakan Palasari pun nambah lagi (^_^)v).

Setelah pemutara film dokumenter, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi yang disertai teatrikal puisi tentang berlayar. Ah, memukau. Ada satu moment yang cukup membius saat salah satu pemain tetater mengangkat sampan buatan dan menghadapkannya ke langit. Dari tempat aku melihat, bulan tepat berada di atas sampan tersebut. Dan dengan pemandangan atap Benteng Rotterdam yang menyimpan sejarah panjang perjuangan untuk meraih kebebasan dari penjajah, maka saya merasa moment itu menjadi sebuah moment magis.

Selama duduk menonton pembukaan Makassar  International Writers Festival 2013 kita akan mendengar musik lagu2 tradisional khas Makassar. Dan ada pula jajanan khas Makassar seperti Pisang Epe' dan Sarabba. Yang saya sesali adalah saya tidak membawa gadget apapun yang memadai untuk memotret di malam hari. Jadi saya harus berpuas diri merekam setiap moment dalam pembukaan tersebut di kepala saya (^_^)

Senin, 27 Mei 2013

Menengok kembali my wish book list

Di akhir tahun 2012 saya sempat memposting mengenai buku-buku yang menjadi target saya untuk segera dimiliki (baca selengkapnya di sini )
Ada yang berhasil saya miliki dan sudah dibuat resensinya yakni:
Catatan Musim - Tyas Effendi 
Jostein Gaarder - Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Jostein Gaarder - Misteri Soliter


Nah ternyata ada beberapa yang berhasil saya miliki namun belum sempat dibaca.
Yaitu: Seri The Lord of The Rings (masih belum sempat membaca ulang buku ini)
dan
 Dunia Sophie by Jostein Gaarder (buku lain entah kenapa selalu lebih menarik)
 
Ada juga beberapa yang sudah dibaca namun belum sempat dibuat resensinya.
CInta Kemarin - Dila Putri (buku ini dipinjam oleh ibu kost saya. Jadi belum bisa dibuat resensinya)

Goodbye Happiness - Arini Putri  (selalu lupa membuat resensinya..he..he..)

Tapi yang paling sedih adalah ada juga yang belum berhasil saya miliki yaitu : Seri Lima Sekawan yang lengkap (T_T)

selain itu daftar buku yang ingin saya miliki (lainnya) dan kemudian berhasil saya miliki adalah buku:
1. The various Flavours of coffee by Anthony Capella
2. The Language of Flowers by Vanessa Diffenbough
3. Libri di Luca by Mikkel Birkegaard
4. Karya-Karya Umberto Uco

he..he..sebenarnya masih ada lagi sih..
tapi berhubung saya harus segera offline..lain kali saya buat sesi lanjutannya.. (^_^)v

Meniti Jembatan Emas



Penulis                 : Yan Daryono
Penerbit              : PT Grafiti Budi Utami
Cetakan               : Pertama, 2008
Jumlah hal.         : 369 halaman

Jika berbicara tentang pahlawan wanita Indonesia, maka nama RA Kartini menjadi nama yang paling familiar. Hal ini mungkin ada hubungannya dengan kurikulum sekolah kita yang memang lebih mengedepankan sepak terjang seorang Kartini (entah dengan alasan apa *maaf ini pendapat pribadi*). Nama Raden Dewi Sartika tidak cukup dikenal bahkan oleh mereka yang tinggal di kota Bandung. Perempuan-perempuan Bandung kadang lebih banyak tahu tentang RA Kartini daripada Raden Dewi Sartika.

Hal ini cukup disesalkan. Bisa jadi karena tulisan tentang R.Dewi Sartika masih sangat sedikit. Saya sendiri saat mencoba mencari buku-buku tentang beliau hanya berhasil menemukan 3 buku yang benar-benar berisi tentang kisah hidup dan perjuangan beliau.  Selain ketiga buku tersebut, penulis berhasil menemukan 2 buku yang merupakan kumpulan tulisan yang salah satu tulisannya membahas tentang Dewi Sartika. Tapi sudahlah, tak perlu membahas hal ini cukup jauh. Lebih baik saya berfokus pada buku yang ingin saya resensi.

Buku “Meniti Jembatan Emas” adalah buku yang mencoba mem-fiksi-kan kisah hidup Raden Dewi Sartika. Buku ini secara runut, berdasarkan kronologi waktu, bercerita tentang perjuangan Dewi Sartika muda saat merintis “Sakola Istri” yang kemudian berubah nama menjadi “Sakola Kautamaan Istri” yang kemudian berubah menjadi “Sekolah Raden Dewi”. Perjalanan ini tidak mudah, karena ternyata mendapat tentangan bahkan dari kaum Menak yang notabene adalah orang pribumi. 

Dari segi isi, data di dalam buku ini cukup bisa dipercaya meskipun saat mencoba mengenali daerah-daerah yang dideskripsikan oleh penulisnya, ada kebingungan tersendiri. Selain itu dari segi gaya bahasa, novel ini terlalu hiperbola. Sejujurnya gaya bahasa ini cukup membuat bosan. Namun saya pribadi meneruskan membaca novel ini karena memerlukan informasi lebih banyak tentang R.Dewi Sartika. 

Dari segi sampul pun, buku ini kurang menarik. Selain itu masih sedikit yang mengetahui keberadaan buku ini. Hanya mereka yang benar-benar tertarik dengan sosok Raden Dewi Sartika lah yang akan menemukan informasi tentang buku ini. Setahu saya, bahkan penerbitnya pun kini sulit ditelusuri keberadaannya. Dan bisa jadi buku ini memang hanya pernah sekali diterbitkan. ( - _ - “)

Yah diluar apresiasi saya atas niat baik penulis yang mencoba mendokumentasikan hidup seorang Raden Dewi Sartika, buku ini jika harus saya beri nilai dalam skala 1 – 10 maka saya beri nilai 6,5. (maaf pak (^_^))v

Semoga setelah ini semakin banyak orang yang tertarik membaca dan menulis tentang Raden Dewi Sartika. Jika ingin membaca sepak terjang beliau lebih banyak silakan buka link ini

Minggu, 26 Mei 2013

Sekedar menulis seadanya



Sudah cukup lama saya tidak menuliskan apapun di blog ini. Bukan tidak punya waktu tapi benar-benar sedang tidak punya ide menulis hal-hal ringan kecuali jika pembaca tidak keberatan untuk membaca keluhan-keluhan rendahan yang berisi kalimat, “Ah, Bandung dingin banget bikin saya ingin segera pulang ke Makassar”, atau sekedar keluhan bahwa, “Thesis ini tidak tahu harus saya apakan lagi. Please help!!” atau pun serangkaian keluhan bak anak ABG labil.

Selain itu kondisi kesehatanku dalam sebulan terakhir benar-benar menurun drastis radang lambung berhasil memaksa orang seperti saya yang biasanya tidak pernah bisa diam dan selalu aktif bergerak ke sana kemari harus puas berbaring berhari-hari di kamar kost-an. Aktivitas terberat hanyalah saat harus naik turun tangga mengambil makanan yang dibawakan oleh teman atau akang-akang pengantar delivery (pssstttt.. di  Bandung ini akang-akang petugas delivery banyak yang cukup sedap dipandang )..he..he..(^_^)v

Akhirnya saat itu karena tidak bisa beraktivitas apapun bahkan duduk pun sulit maka option yang paling memungkinkan untuk saya lakukan adalah menamatkan sejumlah buku yang selama ini nyaris tidak pernah sempat aku baca. Ya lagi-lagi genrenya novel..(melirik dengan penuh rasa bersalah pada bahan thesis yang berbahasa Inggris dan isi yang “berat”)
Sebut saja sejumlah  buku yang berhasil saya tamatkan (tidak berurutan waktunya):



3.       The Hunter by Asa Nonami




Kondisi yang tidak memungkinkan untuk menghadapi laptop dalam waktu lama dalam kondisi duduk tampaknya harus segera diakali. Karena saat ini sakit saya kembali kambuh dan membuat saya tidak bisa menulis banyak. Niatan untuk meresensi buku tersebut di www.atriadanbuku.blogspot.com  ,blog khusus saya untuk meresensi buku, pun tidak pernah bisa selesai.

Rabu, 24 April 2013

Kutipan "Perpustakaan Bibbi Bokken"

"Ini pemikiran yang penting, Nils. Maksudku, fantasi tak berbeda dengan kebohongan. Terkadang fantasi adalah kebohongan itu sendiri."

"Jika fantasi sama dengan kebohongan, para penulis mestilah merupakan pembohong yang paling antusias. Maksudku mereka hidup dari situ dan orang-orang dengan sukarela membeli kebohongan mereka."

"Aku rasa, beberapa orang senang berbohong, sedangkan yang lain senang dibohongi. Dalam setiap masyarakat, dibangun gedung-gedung besar yang didalamnya kebohongan berkumpul berbaris-baris, dan kita menyebutnya sebagai perpustakaan. Kita pun dapat menjulukinya sebagai "laboratorium kebohongan" atau yang paling mirip2 itu. Mungkin paling baik kita menamai perpustakaan dengan "tempat penyimpanan lelucon dan fakta""

Selasa, 23 April 2013

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita




Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.

Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.

Beliau adalah perempuan yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. R. Dewi Sartika adalah perempuan Menak (priyayi) yang enggan dibatasi oleh kekakangan adat yang menurutnya tidak akan membawa kesejahteraan bagi banyak orang. Beliau berasal dari keturunan yang sangat dekat dengan pemerintahan Bandung. Dewi Sartika lahir di Bandung pada 4 Desember 1884 dari ayah yang bernama Raden Rangga Somanagara dan ibu yang bernama Raden Ayu Rajapermas. Kakek dari ibunya adalah mantan Bupati Bandung yakni Adipati Wiranatakusumah IV atau yang disebut Dalem Bintang.

Pada tahun 1891, ayahnya diangkat menjadi Patih Bandung. Sejak itu beliau menghabiskan masa kecilnya di Kepatihan yang kini disebut Jalan Kepatihan. Selain itu, berkat pemikiran modern ayahnya, Dewi Sartika sempat mengenyam pendidikan di Erste Klasse School yang setingkat dengan sekolah dasar. Saat itulah beliau belajar membaca, menulis dan sedikit bahasa Belanda. Beliau hanya bersekolah sampai tingkatan yang setara dengan kelas 2 SD karena ayahnya terlibat dalam sebuah kasus politik yang akhirnya membuat ayahnya diasingkan.

Kasus yang melibatkan ayahnya dikenal sebagai “Peristiwa Dinamit Bandung”. Kejadiannya terjadi pada tanggal 14 dan 17 Juli 1893. Somanegara memberontak pemerintahan Bupati RA Martanegara yang baru saja diangkat menjadi Bupati Bandung menggantikan R.A. Kusumadilaga yang meninggal pada 11 April 1893. Pemberontakan ini dilakukan karena kekecewaan Somanegara sebab RA Martanegara bahkan tidak menjadi tokoh yang dianggap sebagai calon potensial untuk menggantikan RA Kusumadilaga. Somanegara dan ayahnya (kakek Dewi Sartika), R. Demang Suriadipraja, menyusun rencana untuk mengacaukan kondisi di Bandung. Pada tanggal 14 Juli saat dilakukan pesta penyambutan RA Martanegara sebagai Bupati Bandung, muncul ledakan yang berasal dari arah timur Alun-Alun yang ternyata adalah bunyi ledakan dinamit di jembatan Kali Cikapundung. Kemudian pada tanggal 17 Juli kembali dilakukan peledakan di pacuan kuda Tegallega. Namun saat itu pelaku peledakan berhasil ditangkap dan ditelusurilah otak dari kejadian tersebut. Tanggal 21 Juli dilakukan razia dan penangkapan terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai pelaku kejadian tersebut. Hingga akhirnya dinyatakanlah bahwa Somanegara dan ayahnya sebagai otak dan pelaku kejadian peledakan tersebut. Akhirnya oleh Gubernur Jendral diputuskanlah bahwa Somanegara diasingkan ke Ternate dan RD Suriadipraja diasingkan ke Pontianak.

Tahun 1894, berangkatlah Somanegara ke pengasingannya di Ternate didampingi oleh istrinya, Rajapermas. Sedangkan Dewi Sartika dan ketiga saudaranya dititipkan kepada keluarga di Bandung dengan terpisah-pisah. Dewi Sartika sendiri di titipkan di pamannya Raden Demang Suriakarta Adiningrat (kakak dari ibunya)yang saat itu menjabat sebagai Patih Afdeling Cicalengka. Kehidupan Dewi Sartika di Cicalengka tidaklah mudah karena berstatus sebagai anak dari seorang buangan politik sehingga orang-orang berhati-hati bersikap terhadap Dewi Sartika. Mereka takut dianggap terlibat dengan skandal politik.