Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

CineUs

Penulis : Evi Sri Rezeki Penerbit: Noura Books Cetakan: I, Agustus 2013 Jumlah Hal.  : 304 halaman ISBN: 978-602-7816-56-5
Demi menang di Festival Film Remaja, Lena rela melakukan apa saja. Bukan hanya demi misi mengalahkan mantan pacarnya yang juga ikut berkompetisi, tetapi karena dia pun harus mempertahankan Klub Film sekolahnya. Soalnya klub kecilnya bersama Dania dan Dion itu kurang didukung oleh pihak sekolah. Padahal salah satu kreativitas siswa bikin film, kan! 
Untung ada satu orang yang bikin hari-hari Lena jadi lebih seru. Si cowok misterius yang kadang muncul dari balik semak-semak. Apaaa? Eh, dia bukan hantu, lho … tapi dia memang punya tempat persembunyian ajaib, mungkin di sanalah tempat dia membuat web series terkenal favorit Lena. Nah, siapa tahu cowok itu bisa membantu Lena biar menang di festival. 
Kisah Lena ini seperti film komedi-romantis yang seru. Jadi, selamat tonton, eh, baca! :)
CineUs adalah buku pertama dari seri S-Club, cerita tentang seru-seruan di klub-klub seko…

Buku2 yang Ingin saya miliki ^_^

Akhir tahun gini grup Blogger Buku Indonesia sudah mulai riuh dengan event “Secret Santa”. Peserta event ini akan menjadi “santa” bagi perserta lainnya. Jadi saya akan memberi dan menerima hadiah juga, sebab di luar sana akan ada satu orang yang jadi “santa” untuk saya juga.

Lucunya saat diminta membuat daftar buku yang diinginkan saya jadi bingung sendiri. Kenapa?? Mungkin karena banyaknya buku yang saya inginkan dan saya bingung menyortirnya menjadi yang PALING saya inginkan. Akhirnya terbitlah daftar ini di akun Goodreads saya:

1. The Prague Cemetery oleh Umberto Eco (terjemahan)
2. 2 States karya Chetan Bhagat (Terjemahan)
3. Honeymoon with My Brother karya Franz Wisner (Terjemahan)
4. The Gift karya Cecelia Ahern (Import, karena setahu saya terjemahannya belum ada)
5. The Every Year Collection karya Cecilia Ahern (import)
6. Slammed karya Colleen Hoover (terjemahan)
7. Point of Retreat karya Collen Hoover (terjemahan)
8. Memang Jodoh karya Marah Rusli
9. Mum’s List karya …

Beruang Matahari, Komunitas yang Cinta Anak Yatim

Bicara tentang komunitas di Bandung rasanya tidak akan ada habisnya. Kota ini didaulat sebagai kota yang punya banyak komunitas dan anak muda yang kreatif dan gaul. Rasanya jika kita punya hobi, maka tidak akan sulit menemukan komunitas untuk hobby tersebut di Bandung ini.
Nah, kalau ditanya komunitas yang kegiatannya menolong orang-orang yang tidak mampu, maka saya mengenal satu komunitas seperti itu. Yup, namanya Beruang Matahari. Komunitas ini berkonsentrasi pada kegiatan pembinaan untuk adik-adik di panti asuhan. 
Mengenai nama, sekedar info aja nih. Beruang Matahari itu beneran ada lho! mereka adalah jenis beruang yang tidak melakukan hibernasi, cenderung setia, dan loyal. Beruang Matahari hanya ada di Asia Tenggara khususnya di Kalimantan. Hebatnya Beruang Matahari mempunyai kebiasaan yang berbeda dari beruang lainnya, dimana jenis ini selalu menggendong bayinya di kaki belakangnya, dan terus menjaga bayinya hingga 2 tahun lamanya, suatu hal yang tidak terdapat pada jenis b…

Yuk Berteman dengan Teknologi

Pagi ini Bandung cerah, rasanya berjalan-jalan keliling kota bisa menjadi salah satu alternatif menyenangkan. Berbekal sebuah smartphone maka banyak aktivitas yang bisa dilakukan termasuk mengabadikan hal-hal yang menarik untuk diceritakan kembali ke teman-teman atau saudara.
Abad 21 datang membawa teknologi yang semakin maju dan kini tumbuh dengan pesat. Benar-benar memudahkan kita berkomunikasi dengan SIAPA PUN! Dan kini era smartphone datang dan membanjiri toko serta mewarnai kehidupan manusia.
Dahulu, untuk jalan-jalan seseorang harus membawa kamera, handphone, bahkan tape recorder untuk membuat cerita yang menyeluruh tentang hal menarik yang mereka temui. Kini, berbekal sebuah smartphone semua cerita bisa kita lengkapi dengan foto dan vidoe serta siap di posting ke berbagai akun media sosial dan dikirim ke email sahabat yang ada di belahan dunia lain.
Ya, teknologi sudah berhasil memudahkan (bahkan sebenarnya memanjakan) kita. Tapi, kok rasanya ada yang berubah yah? Berubah bagi…

Curhat "Tukang Sampah" di Berbagai Sosial Media

Selamat sore.
Selamat datang hujan.
Selamat menjelang langit gelap yang berteman bintang.

Sudah lama juga tidak menulis dengan rutin di blog ini.
Bukan..bukan karena saya berhenti menulis. Melainkan saya menyebarkan tulisan dalam berbagai media. Memanfaatkan berbagai kemudahan teknologi yang semakin mendukung para penulis untuk terus "nyampah" dan berserapah (mungkin?? ^_^)

Mencatat Sudut Kota: Belajar Pelayanan Publik dari Perumahan Tua

Bandung, 3 November 2013 Oleh: Atria Dewi Sartika
Setelah beberapa kali gagal ikut serta, kali ini saya kembali mengikuti kegiatan ngaleut bersama Komunitas Aleut. Kembali berjalan-jalan dan mengenal (lebih banyak lagi!) sudut kota Bandung. Benar adanya filosofi Komunitas Aleut yang kegiatannya adalah ngaleut yang berarti berjalan bersama-sama. Dengan berjalan kaki, kita akan menemukan apa yang selama ini kita lewatkan saat berkendara.
Kali ini saya berkenalan dengan beberapa jalanan yang belum pernah saya lewati, diantaranya adalah Jl. Geusanulun, Jl. Adipati Kertabumi, dan Jl. Aria Jipang. Sedangkan jalan lain seperti Jl. Trunojoyo; Jl. Maulana Yusup; dan Jl.Pangeran Kornel sudah sering saya lewati. Nah ternyata dengan menyusurinya sambil berjalan kaki, saya merasa seperti baru pertama kali melewati ketiga jalan tersebut.
Pertama kali melewati Jl. Geusanulun membuat saya sumringah. Kenapa? Karena masih banyak rumah-rumah tua di sana. Ada sejumlah rumah yang bahkan sepertinya belum m…

Sumpah Pemuda dan Semangat Muda?! Tidak Perlu Hebat

Semangat pagi!!!

Numpang nge-share kebingungan..

Kemarin2 saya sibuk nonton berita tentang berbagai aksi ceremonia Sumpah Pemuda. Mulai dari anak-anak di sekolah yang berada di dekat lokasi prostitusi "diarahkan" untuk membuat Sumpah "Bertanah air satu, tanah air bebas prostitusi" usianya aja masih 13 tahun, memangnya dia paham? Sampai aksi di jalanan.

Jujur saya bingung, bagian mananya semangat Sumpah Pemuda yang ingin ditanamkan kembali? Dan kenapa harus muluk-muluk sih.

Saya membayangkan semua pemuda-pemudi Indonesia (termasuk yg sudah tdk masuk kelompok itu namun tetap berjiwa muda) mau berjanji pada diri sendiri untuk selalu menepati janji, maka akan banyak perubahan baik di Indonesia ini.

"Ok, kita ketemu jam 8 di kampus", itu janji simple. Maknanya bukan pada kita sekedar ketemu, tapi juga datang sesuai waktu yang dijanjikan. Yup, "tepat waktu" belum jadi budaya di Indonesia.

Sahabat Bosscha Berziarah ke Makam Bosscha

Hari Kamis, 3 Oktober 2013, Friends of Bosscha bersama teman-teman dari Komunitas Aleut! melakukan ziarah bersama ke pengalengan. Setelah pada malam sebelumnya, saya dan teman-teman mengikuti kegiatan peneropongan  bintang sekaligus Launching bersama Friends of Bosscha (baca Lilin Kecil Sahabat Bosscha). 
Lantas, apa yang dilakukan Sahabat Bosscha di Pengalengan? Ada apa di Pengalengan? Pengalengan, tepatnya di Perkebunan Teh Malabar, adalah tempat peristirahatan terakhir KAR Bosscha. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya sempat menyinggung tentang beberapa sumbangsih KAR Bosscha. Sedikit saya tuliskan tentang riwayat hidup Bosscha.
Karel Albert Rudolf Bosscha lahir di Den Haag pada tanggal 15 Mei 1865. Beliau menghembuskan nafas terakhir di Malabar, Pangalengan, 26 November 1928. Beliau hidup dengan kecintaan pada ilmu pengetahuan. Ini ada hubungannya dengan latar belakang beliau. Ayah KAR Bosscha, Johannes Bosscha, adalah seorang Guru Besar Fisika. Namun sayangnya KAR Bosscha tidak berh…

Lilin Kecil Sahabat Bosscha

Rabu, 2 Oktober 2013, jam 5 sore saya sudah sampai di Observatorium Bosscha bersama dua orang teman. Di tengah jalan, kami sempat bertemu gerimis. Namun syukurlah sesampainya kami di Bosscha yang ada hanya awan mendung. Saya segera menyapa Pak Mahasena, Kepala Observatorium Bosscha, yang tampak asyik berkumpul dengan staff Observatorium Bosscha. Saya pun kemudian menyapa Pak Eka Budianta yang sedang menjalani sesi wawancara dengan seorang wartawan. Tak lama kemudian Pak Eka mengajak saya melihat pohon yang ditanam oleh Sahabat Bosscha yakni sebuah Pohon Ketapang Kencana dan Pohon Cemara Lilin.
Waktu pun berlalu, pukul 19.00 langit kota Lembang nampak masih diselimuti awan. Hawa dingin semakin terasa memaksa saya merapatkan jaket. Tampak oleh saya sejumlah orang tengah bercengkrama di teras Wisma Kerkhoven. Nampak di sebuah meja panjang berjajar jagung bakar, bajigur, bandrek, ketan bakar, dan ubi cilembu yang siap santap. Saya pun mengambil segelas bandrek untuk menghangatkan badan.

Kartini Pribadi Mandiri

Penulis: Haryati Soebadio & Saparinah Sadli Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Cetakan: 1990 Jumlah hal.: 130 halaman ISBN: 979-511-095-0
Buku ini ditulis oleh dua orang perempuan Indonesia. Yang bahkan keduanya punya latar belakang yang masih dekat dengan Kartini yakni dari golongan priyayi Jawa. Maka penyelaman kedua penulis dalam ranah pemikiran Kartini mungkin akan lebih baik karena dapat mengerti kondisi di lingkungan sekitar Kartini.
Buku ini membuka pembahasannya dengan menjelaskan proses sosial politik Eropa Barat di masa Kartini. Eropa Barat digambarkan sebagai negeri para penjajah yang situasi politiknya akan ikut mempengaruhi situasi politik di Indonesia sebagai wilayah jajahan mereka. Diceritakan secara singkat tentang perkembangan ethische politiek atau politik etis. Salah satu penafsiran tentang politik etis yang disebutkan di sini adalah bahwa politik tersebut bermakna “untuk membina dan membimbing penduduk pribumi ke arah kemajuan supaya bisa mencapai kemerdekaan menurut…

Tarakan "Pearl Harbour" Indonesia

Penulis: Iwan Santosa Penerbit: PT Primamedia Pustaka Cetakan: Maret 2005 Jumlah hal.: 190 halaman ISBN: 979-696-301-9 Dipinjam dari: Bang Ridwan
Saat membaca judulnya saya langsung tergugah. Ya, sudah menjadi bagian dari psikologi pembaca untuktertarik dengan hal-hal yang familiar dengan hidup mereka. Melihat kata Tarakan dalam judul buku ini membuat saya tertarik membacanya. Alasannya cukup sentimentil. Saya pernah tinggal di kota ini dan sampai sekarang masih menganggap kota itu sebagai salah satu “rumah” tempat saya pulang. Salah satu hal yang membuat saya tertarik dengan buku ini adalah adanya keterangan dari sampul yang menuliskan
”Sebuah tank Matilda milik Angkatan Darat Australia mendarat di Pantai Lingkas melintasi jembatan ponton besi yang disiapkan kesatuan Zeni Angkatan Laut AS “Sea Bee”. Dewasa ini kawasan tersebut dinamakan “Jembatan Besi” untuk mengenang operasi amfibi Sekutu di Tarakan” Keterangan itu jelas menggugah saya yang mengenal daerah tersebut dan bahkan dulu sering …

TIPS MENULIS RESENSI BUKU

Halo!



Buat kamu hobi yang banget baca buku dan ingin berbagi pengalaman membaca dengan teman-teman atau lebih banyak orang di luar sana, kamu bisa loh membuat review dari buku-buku yang kamu baca di blog, facebook atau media apapun yang kamu suka. Atau bahkan kamu pengen banget bisa menulis dengan baik? Hmm... kamu tau gak sih kalo menulis resensi buku bisa menjadi awalan yang baik buat kamu belajar menulis. 

Nah, biar tulisan resensi kamu enak dibaca, PlotPoint punya tips menulis resensi buku nih. Silahkan disimak dan diresapi baik-baik ya guys. :) Hehe...

1. Sinopsis tidak sama dengan resensi. 2. Beberapa elemen penting dalam resensi: penokohan (karakternya siapa aja? apa yang menarik?); alur cerita (flashback? alur lurus? atau maju-mundur?); penjelasan plot cerita (sinopsis singkat, hindari spoiler!); dan sudut pandang (siapa naratornya? menggunakan sudut pandang orang pertama? atau orang ketiga?) 3. Jangan klise! Hindari komentar yang terlalu umum seperti: “Karakternya san…

Sedikit Bernostalgia Pada Dunia Literasi-ku

Sudah lama rasanya saya tidak membuat curhatan pribadi di blog ini. Dari niat awal membuat blog untuk menuliskan resensi buku dan cerita jalan-jalan yang sempat beberapa kali saya lakukan, blog ini berhasil mencapai usia yang jauh lebih panjang dari blog-blog lain yang sebelumnya saya buat. Dengan tulisan yang lebih sering di update tentu saja. Nasib blog-blog lain yang saya buat dengan semangat menggebu-gebu untuk menuliskan buah pikiran saya kini benar-benar lapuk dimakan waktu. Seingat saya, blog pertama saya buat saat saya masih duduk di bangku SMA kelas 1. Berbarengan dengan membuat akun Friendster yang baru booming di Indonesia saat itu. Sayangnya sekarang saya sudah melupakan URL-nya.
Nasib blog-blog ini mengingatkan saya pada nasib diary-diary yang saya tulis sejak SD. Semuanya hanya berhasil terisi maksilam ¼ halaman. Bukan hal yang patut dibanggakan. Tapi itu bisa menjadi salah satu penanda bagi awal kesukaan saya menulis. Seingat saya, saat SD saya pernah memenuhi sebuah b…

Jilbab..mengganggu pikiranku

hm..beberapa hari ini saya beberapa kali membaca tulisan "Jilbab Antem" atau "Ciput Antem". Sejak tinggal di Bandung dan jadi anak kost-kostan, saya bisa tergolong "Kudet" (Kurang Update -istilah ini pun baru saya ketahui beberapa hari lalu (-_-")). Sejak dulu menonton tv tidak pernah menjadi aktivitas yang saya gemari. Membaca majalah fashion pun saya lakukan dengan teknik membaca skimming dan sekedar melihat gambar-gambar yang menarik.

Nah istilah "Antem" ini pun baru saya ketahui setelah tanpa sengaja membacanya disebuah review buku tentang hijabers-hijabers-an. Kata Antem ternyata merujuk pada frasa "Anti Tembem". Ya, ternyata ada sejumlah muslimah yang ragu pakai jilbab karena takut terlihat semakin tembem atau chubby. Nah buku ini mencoba memberika tips-tips cara memakai jilbab agar tidak membuat pipi terlihat tembem.

Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe)

Penulis: Haryoto Kunto Penerbit: Granesia Cetakan: Pertama 1996 Jumlah hal.: 114 halaman
Buku Ramadhan di Priangan ini adalah salah satu bacaan yang menarik untuk menghabiskan waktu menanti waktu berbuka puasa tiba. Meskipun membahas sejarah dan hal-hal berbau tempo doeloe, buku ini ditulis menggunakan bahasa tutur sehingga lebih mudah dipahami. Menyenangkan membaca suasana Ramadhan masa lalu yang pasti sudah banyak berbeda.
Masyarakat Bandung benar-benar membuat “sambutan” khusus untuk bulan Ramadhan ini. Diceritakan fenomena yang tidak mungkin lagi dirasakan oleh masyarakat Bandung masa kini. Salah satunya adalah cerita bahwa dulu bunyi kentongan Mesjid Agung Bandung bisa terdengar sampai ke wilayah Bandung Utara seperti wilayah Dago Simpang, Mentos (Jl.Siliwangi sekarnag), Terpedo (Wastukencana). Fenomena ini tidak akan lagi bisa terulang sebab meskipun kentongan sudah diganti dengan pengeras suara, tetap saja bunyi dari Masjid Agung tersebut tidak akan terdengar lagi ke wilayah Dago.…

Gelap Terang Hidup Kartini

Penulis :Tim Penulis Tempo Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Cetakan: Pertama, Juni 2013 Jumlah hal.: 148 halaman
Seorang Raden Ajeng Kartini merupakan sosok yang banyak dikenal oleh bangsa Indonesia. Mulai dari anak-anak SD sampai generasi-generasi yang lebih tua.Namun bentuk pengenalan yang diketahui masyarakat umum hanyalah sedikit. Mereka hanya akan berkata bahwa, “Kartini adalah pahlawan perempuan. Ia memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh pendidikan. Menyuarakan tentang persamaan derajat perempuan dan pria,”.
Sejujurnya kalau saya ingin mendebat salah satu pernyataan tentang “Kartini adalah orang pertama yang mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi” maka ada data yang bisa dijadikan perbandingan. Seorang Raden Dewi Sartika, pahlawan perempuan dari tanah Sunda, telah lebih dulu membuat sekolah ini. Dewi Sartika tercatat telah mulai mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi sejak 1902 di halaman belakang ibunya. Sekolah itu bernama “Sakola Istri”. Sekolah y…

Apresiasi Film "Le Grand Voyage"

Siang ini Aleutian! nggak jalan-jalan menyusuri kota Bandung. Kali ini kita menyusuri kehidupan (tsaaahh) melalui apresiasi film. Ya, Le Grand Voyage adalah film yang dipilih untuk menghabiskan waktu sambil menunggu info adzan Maghrib di TimeLine Twitter (ha..ha.. generasi zaman sekarang..) Berikut profil Le Grand Voyage Directed by Ismaël Ferroukhi Produced by Humbert Balsan Written by Ismaël Ferroukhi Starring Nicolas Cazalé,
Mohamed Majd Distributed by Pyramide Distribution Release date(s) September 7, 2004Running time 108 minutes
Le Grand Voyage adalah sebuah film berbahasa Perancis tentang perjalan seorang ayah dan anaknya menuju Mekah untuk menunaikan ibadah Haji. Film ini diawali dengan kesibukan sang anak, Reda, yang tengah memperbaiki sebuah mobil. Setibanya di rumah ia mendapat kabar bahwa ia harus menggantikan kakaknya menyupiri sang ayah ke Mekah. Hal ini karena kakaknya, Khalid, ugal-ugalan di jalan sehingga SIM nya dicabut. Jadilah dengan berat hati ia menemani sang ayah menempuh perj…

Wajah Makassar Hari Ini

Setelah cukup lama tidak menginjakkan kaki di kota Daeng, maka saya jadi sedikit lebih sensitif tentang apa yang terjadi dengan kota itu. Makassar sejak dulu memang terkenal sebagai kota yang panas, mengingat posisinya yang terletak di pinggir pantai, maka hal itu menjadi hal yang wajar. Namun kedatangan saya setelah merantau ke tanah Sunda, dan hidup dalam kondisi yang lebih sejuk dan dingin, membuat saya menjadi semakin sensitif di Makassar.

Dulu saat masih tinggal di Makassar, maka hawa panasnya menjadi hal yang biasa. Terjebak di angkot selama satu jam lebih demi mencapai Kampus Unhas pun saya jalani dengan biasa saja, meski rasanya saya bak ikan kering yang dijemur. Namun sejak tahun lalu, saat berlibur dari kepenatan kuliah, saya mulai lebih perasa atas panas matahari di Makassar. Saat harus menjelaskannya, saya akan berkata, "Panas di Makassar sekarang benar-benar terik. Rasanya seperti ditusuk-tusuk di bagian kulit yang tidak terlindung oleh kain pakaian".
Ya, benar.…

Makassar International Writers Festival 2013

Malam ini saya alhamdulillah sempat menghadiri pembukaan "Makassar International Writers Festival 2013". Ini menjadi moment pengingat bahwa Makassar tidak selalu dianggap sebagai kota para demonstran.
Kegiatan ini menjadi ritual pulang kampung untuk mereka yg merantau ke berbagai kota hingga negara dan menjadi media bagi mereka untuk membangun kota ini. Kegiatan ini juga jadi bukti dan buah cinta para budayawan yang ada di dalam rumah budaya bernama Rumahta'.

Makassar International Writers Festival 2013 ini adalah perhelatan ke-3. Dan kali ini penulis yang ikut berasal dari 8 negara diantaranya Australia, Singapura,  dan Malaysia. Harapannya Festival ini bisa menjadi catatan sejarah sendiri bagi kota Makassar.

Acara Makassar International Writers Festival 2013 ini dibuka oleh Walikota Makassar dengan menulis dan membacakan penggalan puisi AM Dg Myala. AM Dg Myala adalah salah seorang sastrawan era Pujangga Baru yg berasal dari Makassar. Festival kali ini pun mengambil t…

Menengok kembali my wish book list

Di akhir tahun 2012 saya sempat memposting mengenai buku-buku yang menjadi target saya untuk segera dimiliki (baca selengkapnya di sini )
Ada yang berhasil saya miliki dan sudah dibuat resensinya yakni:
Catatan Musim - Tyas Effendi
Jostein Gaarder - Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Jostein Gaarder - Misteri Soliter


Nah ternyata ada beberapa yang berhasil saya miliki namun belum sempat dibaca.
Yaitu: Seri The Lord of The Rings (masih belum sempat membaca ulang buku ini)
dan
Dunia Sophie by Jostein Gaarder (buku lain entah kenapa selalu lebih menarik)

Ada juga beberapa yang sudah dibaca namun belum sempat dibuat resensinya.
CInta Kemarin - Dila Putri (buku ini dipinjam oleh ibu kost saya. Jadi belum bisa dibuat resensinya)

Goodbye Happiness - Arini Putri  (selalu lupa membuat resensinya..he..he..)

Tapi yang paling sedih adalah ada juga yang belum berhasil saya miliki yaitu : Seri Lima Sekawan yang lengkap (T_T)

selain itu daftar buku yang ingin saya miliki (lainnya) dan kemudian berhasil saya…

Meniti Jembatan Emas

Penulis: Yan Daryono Penerbit: PT Grafiti Budi Utami Cetakan: Pertama, 2008 Jumlah hal.: 369 halaman
Jika berbicara tentang pahlawan wanita Indonesia, maka nama RA Kartini menjadi nama yang paling familiar. Hal ini mungkin ada hubungannya dengan kurikulum sekolah kita yang memang lebih mengedepankan sepak terjang seorang Kartini (entah dengan alasan apa *maaf ini pendapat pribadi*). Nama Raden Dewi Sartika tidak cukup dikenal bahkan oleh mereka yang tinggal di kota Bandung. Perempuan-perempuan Bandung kadang lebih banyak tahu tentang RA Kartini daripada Raden Dewi Sartika.
Hal ini cukup disesalkan. Bisa jadi karena tulisan tentang R.Dewi Sartika masih sangat sedikit. Saya sendiri saat mencoba mencari buku-buku tentang beliau hanya berhasil menemukan 3 buku yang benar-benar berisi tentang kisah hidup dan perjuangan beliau.Selain ketiga buku tersebut, penulis berhasil menemukan 2 buku yang merupakan kumpulan tulisan yang salah satu tulisannya membahas tentang Dewi Sartika. Tapi sudahlah, t…

Kutipan "Perpustakaan Bibbi Bokken"

"Ini pemikiran yang penting, Nils. Maksudku, fantasi tak berbeda dengan kebohongan. Terkadang fantasi adalah kebohongan itu sendiri.""Jika fantasi sama dengan kebohongan, para penulis mestilah merupakan pembohong yang paling antusias. Maksudku mereka hidup dari situ dan orang-orang dengan sukarela membeli kebohongan mereka.""Aku rasa, beberapa orang senang berbohong, sedangkan yang lain senang dibohongi. Dalam setiap masyarakat, dibangun gedung-gedung besar yang didalamnya kebohongan berkumpul berbaris-baris, dan kita menyebutnya sebagai perpustakaan. Kita pun dapat menjulukinya sebagai "laboratorium kebohongan" atau yang paling mirip2 itu. Mungkin paling baik kita menamai perpustakaan dengan "tempat penyimpanan lelucon dan fakta""

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…