Langsung ke konten utama

Rabb ne Bana Di Jodi

aku pikir ada baiknya aku menulis sinopsis film ini.
Mungkin sudah banyak orang yang pernah menontonnya, namun kupikir tidak ada salahnya jika di blog ini kutuliskan beberapa hal yang kuanggap menarik mengenai film ini.

Film ini mengisahkan tentang Surinder yang diperankan oleh Shah Rukh Khan dan Taani yang diperankan Anushka Sharma. Surinder atau Suri menikahi Taani saat Taani berduka akibat pernikahannya batal. Pernikahannya batal akibat mempelai pria yang akan menikah dengannya meninggal dan disusul oleh kematian ayahnya. Suri yang merupakan orang yang sangat dipercaya oleh Ayah Taani akhirnya diminta untuk menjadi Taani. Akhirnya mereka menikah.
Namun ternyata Taani tidak kunjung mampu merasa bahagia. Dia berjanji untuk menjadi istri yang baik bagi Suri namun tidak akan bisa mencintai Suri. Sedangkan Suri yang ternyata telah jatuh cinta sejak pandangan pertama pada Taani ingin membuat Taani bahagia dan tersenyum kembali. Hingga akhirnya karena sebuah kejadian, Suri pun menjadi Raj. Taani tidak mampu mengenali Raj sebagai Suri hingga akhirnya Suri memerankan kedua pribadi itu secara terpisah.
Kisah ini membuat cinta Suri diperjuangkan sekaligus diuji begitu pun kesetiaan Taani.
Film ini selalu membuatk tertarik menontonnya.


Kutipan:
"Kita berjalan di atas jalan cinta, diujung jalan kita akan bertemu kembali" ---> kalimat yang digunakan dan diajarkan Raj pada Taani saat akan berpisah.

"Kau tahu, wanita hanya ingin seseorang yang mencintainya seperti dia tidak pernah mencintai wanita lain sebelumnya" -----> jawaban Taani saat Raj bertanya

"Cinta itu pemberian Tuhan. Maka tidak akan ada rasa sakit pada cinta. Cinta itu tidak perlu balasan. Kau mencintai seseorang karena kau melihat Tuhan dalam dirinya. Aku melihat Tuhan dalam dirimu, itulah sebabnya aku mencintaimu" -----> (kalau tidak salah) itu kalimat yang diucapkan Raj saat Taani menanyakan apakah Raj tidak sakit hati dan mengharapkan Taani membalas cintanya.

"Tuhan tidak memberikan kebahagiaan yang sama, Karena itu kita harus merebut sendiri kebahagiaan dariNya" ----> kalimat yang dikatakan Raj saat Taani mengungkapkan bahwa dia tidak mencintai suaminya dan merasa tidak bahagia dengan hidupnya.


"Tuhan yang menulis kisah cinta ini. Sekarang kita serahkan kisah cinta ini kepada Tuhan" -----> kalimat yang diungkapkan Suri ketika memutuskan akan menghapus keberadaan "Suri" demi kebahagiaan Taani.

"Pergi dari seorang Pria masih bisa terjadi. Tapi bagaimana seseorang pergi dari Tuhan. Dan dimana pun Tuhan ada maka aku pun aku akan melihat dia" ----> (kalau tidak salah) itu adalah kalimat yang dikatakan Taani saat dia menyadari bahwa dia mencintai suaminya yang biasa saja itu. :D

Komentar

  1. wah semua adegan-adegan yang ku sukai, dituliskan di sini... masih ada lagi tuh "apakah Tuhan marah kalau saya lebih mencintaimu dari pada DIA?" hahahaha.... smpat mengerutkan kening aku dengan pernyataanya itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya gak nulis itu karena bagi saya itu terlalu berlebih2an (^_^)v

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…