Langsung ke konten utama

Kesan setelah menonton 5cm

Saat semua mulai heboh dengan film 5cm dan memberi rekomendasi bagus tentang film itu, saya menjadi tertarik menontonnya. Dan disinilah saya. Duduk sendiri setelah menonton 5cm di Ciwalk. Yah, saya menontonnnya sendirian, seperti saya selalu membaca buku sendirian.
Dan kini saya menanti waktu untuk menonton film berikutnya yaitu "Life of PI".
Hari ini menjadi waktu bagi "me time", waktu bagiku menikmati kesendirian sambil sibuk berjibaku dengan isi kepala yang sibuk menyerap banyak hal.

Kembali membahas tentang 5cm. Saya membaca buku itu pertama kali saat duduk di kelas 3 SMA. Buku itu punya cerita sendiri dalam hidup saya. Buku itu kubeli karena tertarik dengan sinopsisnya. Dan buku itu kubawa saat sedang berkunjung ke rumah teman lama bersama pria yang dekat dengan saya serta sahabat pria itu.
Yang paling membuat saya ingat tentang buku itu adalah resep indomie-nya. :)

Sudah bertahun-tahun berlalu sejak terakhir kali saya membaca buku itu. Buku itu sempat raib, dihilangkan oleh sahabat dari pria yang saya sebutkan sebelumnya. Dan kisah tentang buku itu sendiri menyimpan romansa typical remaja. Biar itu menjadi kisah saya sendiri.

Film 5cm ini menceritakan tentang 5orang sahabat yang selalu menghabiskan waktu bersama. Dia adalah Juple, Genta, Arial, Riani, dan Ian. Kisah dalma film ini menurutku lebih terpusat pada keterkaitan emosi mereka secara personal. Tentang bagaimana membutuhkan kehadiran sahabat-sahabat mereka yang kian terasa penting kehadirannya setelah perjanjain panjang tentang larangan untuk bertemu dan berkomunikasi selama 3bulan.

Film ini memancing banyak gelak tawa. Memang bukunya pun membuat kita merasakan hal yang sama. Namun entah mengapa bagi saya akting pemainnya tidak terlalu terkesan natural. Kalimat-kalimat yang diucapkan pemainnya pun terkesan terlalu ingin berfilosofi, terlalu indah untuk menjadi ucapan sehari-hari.
Berbeda dengan bukunya. Dialog-dialog dalam buku 5cm terkesan lebih membumi. Lebih alami.

Saya pun sempat meneteskan air mata saat kejadian ketika mereka nyaris mencapai puncak. Namun kalimat-kalimat yang diucapkan di depan Sang Saka Merah Putih di Mahameru terasa tidak alami. Bijak sih iya, tapi tetap saja terasa seperti digurui.

Selain itu saya sangat mengingat crita tentang Ian dan kuisionernya dalam buku 5cm. Sayangnya nilai yang serap dari sesi itu tidak saya temukan di film. Dalam buku kita akan belajar dari kisah Ian tentang sebuah jalan keluar kadang datang di saat yang tak terduga. Bahwa bersikap ramah pada orang lain membawa peluang kebaikan yang tak terduga.

Selain itu perihal penjelasan tentang 5cm hanya tersebut di dalam akhir film.
Sedangkan filosofi 5cm dalam buku sangat terasa sejak mereka naik kereta api kelas ekonomi menuju Malang.
Bagi saya, banyak hal yang hilang dari buku dan tak tertumpahkan dalam film ini.

Ok, itu sedikit pandangan saya.
Saya tipe manusia yang menangkap kesan atas segala hal. Saya akan mengingat sesuatu berdasarkan kesannya. Tanyakan tentang nama pemain, atau detail fashion sebuah film, maka saya hanya akan tergagap bahkan terdiam. Namun tanyakan kesan saya atas sebuah, maka saya akan menjawabnya panjang lebar.
Maaf jika apa yang saya tulis terlalu personal. Dan mungkin ada yang tidak sependapat, maka itu menjadi hak masing-masing orang.
Kita bisa saja memandang hal yang sama, namun cara menginterpretasikannya bisa jadi berbeda.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…