Senin, 17 Desember 2012

Kesan setelah menonton 5cm

Saat semua mulai heboh dengan film 5cm dan memberi rekomendasi bagus tentang film itu, saya menjadi tertarik menontonnya. Dan disinilah saya. Duduk sendiri setelah menonton 5cm di Ciwalk. Yah, saya menontonnnya sendirian, seperti saya selalu membaca buku sendirian.
Dan kini saya menanti waktu untuk menonton film berikutnya yaitu "Life of PI".
Hari ini menjadi waktu bagi "me time", waktu bagiku menikmati kesendirian sambil sibuk berjibaku dengan isi kepala yang sibuk menyerap banyak hal.

Kembali membahas tentang 5cm. Saya membaca buku itu pertama kali saat duduk di kelas 3 SMA. Buku itu punya cerita sendiri dalam hidup saya. Buku itu kubeli karena tertarik dengan sinopsisnya. Dan buku itu kubawa saat sedang berkunjung ke rumah teman lama bersama pria yang dekat dengan saya serta sahabat pria itu.
Yang paling membuat saya ingat tentang buku itu adalah resep indomie-nya. :)

Sudah bertahun-tahun berlalu sejak terakhir kali saya membaca buku itu. Buku itu sempat raib, dihilangkan oleh sahabat dari pria yang saya sebutkan sebelumnya. Dan kisah tentang buku itu sendiri menyimpan romansa typical remaja. Biar itu menjadi kisah saya sendiri.

Film 5cm ini menceritakan tentang 5orang sahabat yang selalu menghabiskan waktu bersama. Dia adalah Juple, Genta, Arial, Riani, dan Ian. Kisah dalma film ini menurutku lebih terpusat pada keterkaitan emosi mereka secara personal. Tentang bagaimana membutuhkan kehadiran sahabat-sahabat mereka yang kian terasa penting kehadirannya setelah perjanjain panjang tentang larangan untuk bertemu dan berkomunikasi selama 3bulan.

Film ini memancing banyak gelak tawa. Memang bukunya pun membuat kita merasakan hal yang sama. Namun entah mengapa bagi saya akting pemainnya tidak terlalu terkesan natural. Kalimat-kalimat yang diucapkan pemainnya pun terkesan terlalu ingin berfilosofi, terlalu indah untuk menjadi ucapan sehari-hari.
Berbeda dengan bukunya. Dialog-dialog dalam buku 5cm terkesan lebih membumi. Lebih alami.

Saya pun sempat meneteskan air mata saat kejadian ketika mereka nyaris mencapai puncak. Namun kalimat-kalimat yang diucapkan di depan Sang Saka Merah Putih di Mahameru terasa tidak alami. Bijak sih iya, tapi tetap saja terasa seperti digurui.

Selain itu saya sangat mengingat crita tentang Ian dan kuisionernya dalam buku 5cm. Sayangnya nilai yang serap dari sesi itu tidak saya temukan di film. Dalam buku kita akan belajar dari kisah Ian tentang sebuah jalan keluar kadang datang di saat yang tak terduga. Bahwa bersikap ramah pada orang lain membawa peluang kebaikan yang tak terduga.

Selain itu perihal penjelasan tentang 5cm hanya tersebut di dalam akhir film.
Sedangkan filosofi 5cm dalam buku sangat terasa sejak mereka naik kereta api kelas ekonomi menuju Malang.
Bagi saya, banyak hal yang hilang dari buku dan tak tertumpahkan dalam film ini.

Ok, itu sedikit pandangan saya.
Saya tipe manusia yang menangkap kesan atas segala hal. Saya akan mengingat sesuatu berdasarkan kesannya. Tanyakan tentang nama pemain, atau detail fashion sebuah film, maka saya hanya akan tergagap bahkan terdiam. Namun tanyakan kesan saya atas sebuah, maka saya akan menjawabnya panjang lebar.
Maaf jika apa yang saya tulis terlalu personal. Dan mungkin ada yang tidak sependapat, maka itu menjadi hak masing-masing orang.
Kita bisa saja memandang hal yang sama, namun cara menginterpretasikannya bisa jadi berbeda.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)