Langsung ke konten utama

Habibie dan Ainun


Film itu tayang perdana hari ini. Saya bahkan belum sempat membaca buku yang berjudul sama. Tapi saya piker mungkin tidak ada salahnya jika kali ini saya memutar urutan saya yang biasanya harus menamatkan bukunya sebelum menonton film hasil adatasi buku tersebut. Saya piker keputusan saya pun tidak membuahkan penyesalan karena harus saya akui film ini memamg menarik.
Film Habibie dan Ainun mengisahkan perjalanan kisah kasih mantan Presiden Republik Indonesia yang ketiga yakni bapak BJ Habibie. Dalam film ini  Bapak Habibie diperankan oleh Reza Rahadian dan Ibu Ainun diperankan oleh Bunga Citra Lestari. Kisahnya diawali oleh perkenalan pertama antara Habibie dan Ainun. Yang berlanjut pada pertemuan mereka berikutnya yang terjadi sepulang Habibie dari Jerman. Habibie yang dulu menyebut Ainun “Gula Jawa” karena kulitnya yang berwarna coklat, berubah panggilannya menjadi “Gula Pasir” setelah melihat Ainun yang berubah menjadi wanita dewasa yang cantik.
Pendekatan Habibie tergolong berani karena meskipun belum punya pekerjaan tetap, ia ikut bersaing dengan pemuda-pemuda “potensial nan berpangkat” dalam memperebutkan hati Ainun dan restu orang tua Ainun. Terbukti niat baik pun bisa berbuah baik. Orang tua Ainun member restu dan Ainun sendiri pun jatuh hati pada Habibie. Adegan lamaran di becak sungguh membuat saya tersenyum.
Kisah berlanjut dengan perjuangan Habibie dan Ainun semasa di Jerman, kemudian ketika Habibie kembali ke Indonesia demi memenuhi janji pada Ibu Pertiwi Indonesia. Keharmonisan dan sikap saling mendukung sebagai pasangan suami-istri diuji ketika Habibie mulai masuk keperintahan hingga akhirnya menjadi Presiden di masa reformasi. Dan mereka mampu melaluinya dengan baik bersama. 
Setelah menikmati liburan berdua selepas Habibie turun dari kursi kepresidenan, keteguhan hati dan cinta mereka kembali diuji dengan sakitnya Ainun. Di masa ini menjadi moment bagi Habibie menunjukkan cintanya pada Ainun. Ia selalu percaya bahwa istrinya adalah wanita yang kuat. Ia terus mendamping Ainun dalam menjalani operasi demi operasi agar bisa sembuh dari kanker. Di saat yang sama cinta, kasih, dan perhatian Ainun tidak pernah berhenti pada Habibie. Di tengah sakitnya ia masih terus mengingatkan Habibie minum obat.
Ah, kisah mereka terlalu indah untuk saya yakini nyata. Namun kemungkinan besar memang begitulah adanya. Kisah ini mengajarkan tentang kesetiaan, pengorbanan, dan keteguhan hati dalam menjalani mahligai rumah tangga. Ketetaoan hati dan saling menopang dalam mewujudkan mimpi.
Adapun terkait kualitas aktor, saya harus member 4 jempol bagi Reza Rahadian yang sukses memerankan Habibie. Cara berjalan, sikap tubuh, cara bicara yang ditampilkannya benar-benar mirip dan membuat kita berkata “Ah, itu memang kebiasaan Pak Habibie”. Sedangkan untuk pemeran Ainun, saya tidak bisa berkomentar banyak karena harus saya akui bahwa saya tidak begitu tahu sikap tubuh ibu Ainun. Yang masih kurang dalam film ini adalah kualitas make-up artistnya. Rentang waktu yang cukup panjang dalam film ini tidak bisa diimbangi oleh kekuatan make-up untuk menampilkan aktor-aktornya (Habibie dan Ainun) yang kian menua. Oiya, satu lagi saya harus mengaku bahwa saya selalu tersenyum melihat selipan iklan-iklan sponsor dalam adegan-adegan di film ini.   (^_^)v
Tapi untuk penilaian keseluruhan, baguslah untuk sebuah film Indonesia. Nilai  moral dapat, angkting bagus, alur tidak terlalu lambat. Hm..kalau dalam ukuran angka dari 1-10, maka film ini saya anggap layak untuk dapat nilai 8. Saya spontan memberi applause ketika film berakhir, karena saya anggap sangat baik (^_^)

P.S: untuk yang suka kasih jawaban “di hatimu” lihat jawaban “ke hatimu” ala seorang Habibie. Jauh dari kesan gombal. Dan tidak mungkin dilakukan ke sembarang orang J

Komentar

  1. hahahaha sy stuju dgn postingannya sizt.
    andai kisahku seindah kisah Habibi & Ainun (Ngarepnya ketinggian) :P

    Ulasannya menarik,,,Two Tumbs Up 4 U Sizta :*

    BalasHapus
  2. Landak1-ku: Filmnya lebih ngena dari pada bukunya. Saya sudah baca bukunya namun yang ada kebosanan. Maaf yah penulis buku, Dear BJH :) Tapi jujur awal-awal kisahnya membuatku tahu betapa Beliau merindukan Sang Isteri yang telah menantinya di alam sana... Filmnya kalau jempolku ada 10 maka dua jempol saya acungkan tinggi-tinggi dah soalnya cuma punya 4 jempol hehehehehe....

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…