Kamis, 20 Desember 2012

Habibie dan Ainun


Film itu tayang perdana hari ini. Saya bahkan belum sempat membaca buku yang berjudul sama. Tapi saya piker mungkin tidak ada salahnya jika kali ini saya memutar urutan saya yang biasanya harus menamatkan bukunya sebelum menonton film hasil adatasi buku tersebut. Saya piker keputusan saya pun tidak membuahkan penyesalan karena harus saya akui film ini memamg menarik.
Film Habibie dan Ainun mengisahkan perjalanan kisah kasih mantan Presiden Republik Indonesia yang ketiga yakni bapak BJ Habibie. Dalam film ini  Bapak Habibie diperankan oleh Reza Rahadian dan Ibu Ainun diperankan oleh Bunga Citra Lestari. Kisahnya diawali oleh perkenalan pertama antara Habibie dan Ainun. Yang berlanjut pada pertemuan mereka berikutnya yang terjadi sepulang Habibie dari Jerman. Habibie yang dulu menyebut Ainun “Gula Jawa” karena kulitnya yang berwarna coklat, berubah panggilannya menjadi “Gula Pasir” setelah melihat Ainun yang berubah menjadi wanita dewasa yang cantik.
Pendekatan Habibie tergolong berani karena meskipun belum punya pekerjaan tetap, ia ikut bersaing dengan pemuda-pemuda “potensial nan berpangkat” dalam memperebutkan hati Ainun dan restu orang tua Ainun. Terbukti niat baik pun bisa berbuah baik. Orang tua Ainun member restu dan Ainun sendiri pun jatuh hati pada Habibie. Adegan lamaran di becak sungguh membuat saya tersenyum.
Kisah berlanjut dengan perjuangan Habibie dan Ainun semasa di Jerman, kemudian ketika Habibie kembali ke Indonesia demi memenuhi janji pada Ibu Pertiwi Indonesia. Keharmonisan dan sikap saling mendukung sebagai pasangan suami-istri diuji ketika Habibie mulai masuk keperintahan hingga akhirnya menjadi Presiden di masa reformasi. Dan mereka mampu melaluinya dengan baik bersama. 
Setelah menikmati liburan berdua selepas Habibie turun dari kursi kepresidenan, keteguhan hati dan cinta mereka kembali diuji dengan sakitnya Ainun. Di masa ini menjadi moment bagi Habibie menunjukkan cintanya pada Ainun. Ia selalu percaya bahwa istrinya adalah wanita yang kuat. Ia terus mendamping Ainun dalam menjalani operasi demi operasi agar bisa sembuh dari kanker. Di saat yang sama cinta, kasih, dan perhatian Ainun tidak pernah berhenti pada Habibie. Di tengah sakitnya ia masih terus mengingatkan Habibie minum obat.
Ah, kisah mereka terlalu indah untuk saya yakini nyata. Namun kemungkinan besar memang begitulah adanya. Kisah ini mengajarkan tentang kesetiaan, pengorbanan, dan keteguhan hati dalam menjalani mahligai rumah tangga. Ketetaoan hati dan saling menopang dalam mewujudkan mimpi.
Adapun terkait kualitas aktor, saya harus member 4 jempol bagi Reza Rahadian yang sukses memerankan Habibie. Cara berjalan, sikap tubuh, cara bicara yang ditampilkannya benar-benar mirip dan membuat kita berkata “Ah, itu memang kebiasaan Pak Habibie”. Sedangkan untuk pemeran Ainun, saya tidak bisa berkomentar banyak karena harus saya akui bahwa saya tidak begitu tahu sikap tubuh ibu Ainun. Yang masih kurang dalam film ini adalah kualitas make-up artistnya. Rentang waktu yang cukup panjang dalam film ini tidak bisa diimbangi oleh kekuatan make-up untuk menampilkan aktor-aktornya (Habibie dan Ainun) yang kian menua. Oiya, satu lagi saya harus mengaku bahwa saya selalu tersenyum melihat selipan iklan-iklan sponsor dalam adegan-adegan di film ini.   (^_^)v
Tapi untuk penilaian keseluruhan, baguslah untuk sebuah film Indonesia. Nilai  moral dapat, angkting bagus, alur tidak terlalu lambat. Hm..kalau dalam ukuran angka dari 1-10, maka film ini saya anggap layak untuk dapat nilai 8. Saya spontan memberi applause ketika film berakhir, karena saya anggap sangat baik (^_^)

P.S: untuk yang suka kasih jawaban “di hatimu” lihat jawaban “ke hatimu” ala seorang Habibie. Jauh dari kesan gombal. Dan tidak mungkin dilakukan ke sembarang orang J

2 komentar:

  1. hahahaha sy stuju dgn postingannya sizt.
    andai kisahku seindah kisah Habibi & Ainun (Ngarepnya ketinggian) :P

    Ulasannya menarik,,,Two Tumbs Up 4 U Sizta :*

    BalasHapus
  2. Landak1-ku: Filmnya lebih ngena dari pada bukunya. Saya sudah baca bukunya namun yang ada kebosanan. Maaf yah penulis buku, Dear BJH :) Tapi jujur awal-awal kisahnya membuatku tahu betapa Beliau merindukan Sang Isteri yang telah menantinya di alam sana... Filmnya kalau jempolku ada 10 maka dua jempol saya acungkan tinggi-tinggi dah soalnya cuma punya 4 jempol hehehehehe....

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)