Langsung ke konten utama

12.12.12.

Sudah cukup lama aku tidak mengupdate tulisan apapun.
Dan malam ini aku akhirnya berkesempatan untuk menulis atau lebih tepatnya sedang mood untuk menulis.

Tanggal hari ini berlalu begitu saja.
Padahal beberapa tahun yang lalu tanggal 12 bulan 12 tahun 2012 ini.
Sejumlah film memunculkan ketakutan bertubi-tubi bahwa pada tanggal ini kiamat akan datang.
Bahkan seingatku pada saat itu ada sejumlah orang yang menderita stress hingga menyebabkan mereka bunuh diri.
Dan hari ini berita berkisar kehebohan tentang orang-orang yang menikah dan "memaksa" melahirkan di pada tanggal yang menurut mereka bagus ini.
Yah setahuku kiamat, dalam sebuah hadist, dikatakan akan jatuh pada hari Jum'at.
Sedangkan hari ini masih hari Rabu.

Namun hari ini saya memiliki moment tertentu.
Setelah berbulan-bulan berjuang melepaskan dan merelakan sesuatu yang selalu kugenggam dengan erat, ku simpan dengan rapat di hati dan fikirku, mendadak saja banyak hal memaksaku untuk mengenang semua itu.
Setelah berusaha sekuat tenaga melupakan tetap saja banyak hal membuatku ingat.

Semua tergenapi dengan saat ini saya menyaksikan sebuah film India yang punya kenangan tersendiri dengannya. Ya film Rabb ne Bana Di Jodi yang mencritakan tentang Shah Rukh Khan yang berperan dengan dua karakter demi membahagiakan wanita yang dia cintai yang sekaligus istrinya. Film itu pertama kali ku tonton karena disarankan oleh "dia". Setelah menonton film itu kami berdebat alot sambil tertawa dan saling olok tentang pilihan karakter favorit kami. Yang mana yang lebih kami sukai Shah Rukh Khan sebagai Surinder atau sebagai  Raj? Keduanya memiliki karakter yang berbed. Aku lebih menyukai Surinder yang kalem, penyabar dan mencintai dalam diam. Sedangkan dia lebih menyukai Raj yang periang yang selalu membuat Taani tertawa.
Ha..ha..menonton film ini membuatku ingat tawa yang kami bagi bersama.
"Pertengkaran" yang mengajarkan kami karakter masing-masing.

Seperti yang kukatakan sebelumnya. Film itu hanya menggenapi apa yang terjadi seharian ini.
Aku menemukan cincin lumba-lumba yang selama ini ku cari saat bersamanya.
Namun ternyata baru hari ini bisa kutemukan.
Kemudian pada senja tadi. Setelah menunaikan shalat Maghrib dan bertadarrus, surat-surat dari dia yang kuabaikan ternyata masih terselip di halaman depan mushab kecilku. Dan setelah bertadarrus, surat itu jatuh begitu saja dan membuatku tergoda dan membacanya.
Ha..ha.. itu adalah surat cinta pertama yang ditulisnya untukku. Dan menurut pengakuannya itu adalah surat cinta pertama yang dia buat dalam hidupnya.
Surat cinta itu adalah hadiah untuk ulang tahunku. Ha..ha.. dia memaksa dirinya menuliskan karena permintaanku yang ingin dia menjadi pria romantis. Ha..ha..

Hari ini aku mengenang lagi bagaimana dia selalu bisa membuatku tersenyum bahkan tertawa setelah memendam atau bahkan memuntahkan amarahku atas sesuatu.
Aku merindukan kenyamanan itu.
Aku selalu menyukai wanginya.
Aku selalu terpana saat mencuri pandang pada mata coklatnya.
Ya Allah aku merindukannya. :)

Belum ada yang mampu membuatku berdebar seperti yang terjadi pada saat menghabiskan waktu bersamanya atau bahkan hanya sekedar menatapnya dari jauh.
Belum ada yang bisa membuatku tersenyum dan tertawa saatku marah seperti yang selalu berhasil dilakukannya.
Dan belum ada wangi yang membuatku nyaman seperti yang dimilikinya (padahal aku pernah bertanya merek parfum apa yang dipakainya bahkan aku pernah menemaninya membeli parfum itu, tapi tetap saja wangi itu berbeda jika pada orang lain)

Ok, cukup hari ini aku berkubang dalam perasaan ini.
Semoga besok semua kembali terasa baik-baik saja.
Bukan lagi rasa sakit karena melepaskan sesatu yang berarti. Tapi bisa tetap tersenyum karena pernah memilikinya. :)

Andai dia membacanya.
semoga dia pun bisa kembali mengingat tawa yang kami bagi bersama.
dan dia bisa tersenyum.

To: My 12.04.10

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…