Selasa, 06 November 2012

Kutipan dari Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah

"Ya, cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti" Pak Tua.
"Kalian tahu, cinta sejati laksana sungai besar. Mengalir terus ke hilir tidak pernah berhenti, semakin lama semakin besar sungainya, karena semakin lama semakin banyak anak sungai perasaan yang bertemu" Pak Tua
"Camkan, bahwa cinta adalah perbuatan. Nah, dengan demikian, ingat baik-baik, kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta, Andi. Tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi" Pak Tua
"Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi, sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta, justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir,cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. Kalau sampai pulang ke Pontianak kau tidak bertemu gadis itu, berarti bukan jodoh. Sederhana, bukan?" Pak Tua
(Ha..ha.. Pak tua dalam buku ini sangat suka berfilosofi soal perasaan)
"Bukankah Pak Tua sendiri yang pernah bilang, terkadang dalam banyak keterbatasan, kita harus bersabar menunggu rencana terbaik datang, sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan" Borno
"Nah, akhirnya kau bertanya, Borno. Banyak orang yang kadang lupa bertanya asal muasal uang kalau dia terlanjur menikmatinya. Anak lupa bertanya pada bapak. Istri lupa bertanya pada suami." Pak Tua
"Camkan ini, Borno. Banyak sekali orang yang jatuh cinta lantas sibuk dengan dunia barunya itu. Sibuk sekali, sampai lupa keluarga sendiri, teman sendiri. Padahal, siapakah orang yang tiba-tiba mengisi hidup kita itu? Kebanyakan orang asing, orang baru. Mei misalnya, baru kau kenal setahun kurang. Sedangkan Andi? Kau kenal dia sejak bayi, satu ayunan. Apa yang telah dilakukan Mei buat kau? Apa yang tidak dilakukan Andi? Apakah Mei pernah menyelamatkan kau yang hampir tenggelam di Kapuas?" Pak Tua

Ok, ini kutipan edisi satu.. Sekarang mataku sudah lelah dan waktunya beristirahat.. Besok mudah-mudahan ada sesi kedua dan mudah-mudahan buku ini sudah berhasil saya khatamkan.. :D
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)