Rabu, 07 November 2012

Kutipan dari buku "Kau, aku dan Sepucuk Angpau Merah"

"Percayalah, sepanjang kita punya mimpi, punya rencana, walau kecil tapi masuk akal, tidak boleh sekalipun rasa sedih, rasa tidak berguna itu datang mengganggu pikiran." Borno

"Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kaupamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu" Pak Tua

"Camkan ini, anakku. Ketika situasi memburuk, ketika semua terasa berat dan membebani, jangan pernah merusak diri sendiri. Orang tua ini tahu persis. Boleh jadi ketika seseorang yang kita sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Kau tanyakan ibu kau, itulah yang dia rasakan saat bapak kau dibelah dadanya, diambil jantungnya, pergi selamanya. Tapi kau masih memiliki separuh hati yang tersisa, bukan? Maka jangan ikut merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang. Satu-satunya yang paling berharga." Pak Tua ketika Borno nelangsa ditinggal pergi oleh Mei.



Pada akhirnya buku ini hanya sekedar menghiburkan diisi dengan tebaran kalimat2 bijak tentang cinta.
Meski kalimat itu pada dasarnya cukup naif mengingat dimana lagi bisa menemukan sosok seperti Borno yang berfikiran lurus.
Saya malah melihat akhir buku ini jadi antiklimaks. Tidak terlalu spesial.
┒(⌣˛⌣)┎

Tapi tetap saya bersyukur menemukan beberapa kalimat yang sedang mewakili atau menjadi teguran halus bagi apa yang berkecamuk dalam pikiran dan hatiku. :D
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)