Langsung ke konten utama

Disapa hujan

10.11.12
@kafe
Kata "right man in the right time" atau "right man in the right place" berkelebat begitu saja saat ini.
Karena saya merasa di moment "the right place in the right time"
Ya, saya terjebak hujan di saat ada tempat berteduh yang cukup nyaman (meski tidak gratis) :D
Sedari tadi mendung memang sudah membayangi kota Bandung (lebih tepatnya sisi Bandung yg saya tinggali). Saya akui ada payung kecil di tas saya. Namun tidak akan mampu melindungi saya dan adik saya. Kebetulan hari ini kami menghabiskan waktu bersama.
Hujan deras turun saat kami tengah berada di toko BaBe (Barang Bekas) karena si bungsu ini ingin membeli sepatu bola yang bagus dengan harga murah maka salah satu pilihannya adalah dengan mencari barang second.
Akhirnya disinilah saya, di kafe yang tepat bersebelahan dengan "BaBe". Duduk sendirian ditemani buku dan secangkir coklat panas. Adik saya?? Jangan ditanya, tampaknya dia masih sibuk mencari barang yang diinginkannya dan mungkin sama sekali tidak menyadari hujan deras yang sudah sangat lama tidak menyapa Bandung. Tapi rasanya tidak mungkin tak disadari. Sedari tadi cahaya petir beberapa kali muncul di langit Bandung disertai gemuruh yang memekakan telinga dan berkali-kali membuatku merasa takut (harus saya akui guntur adalah kawan hujan yang paling saya benci. Pelangi dan wangi tanah basah adalah favorit saya :D)
Saya rasa saya, Babe, dan hujan lebat memang berjodoh. Ini kedua kalinya saya menginjakkan kaki di toko itu. Pertama kali saat bersama ayah dan kakak sulung saya. Dan saat itu pun hujan lebat. Namun kami tetap membulatkan tekad untuk menerobos hujan dari mobil hingga pintu depan BaBe. Maka hujan kali ini seolah menggenapi ikatan kami.
Tapi, sudahlah lupakan soal hal itu.
Sekarang saya bermaksud melaporkan kondisi terakhir kafe ini. Tadi ketika mengawali postingan ini, kafe ini sepi. Hanya saya yang mengisi kursi di sini. Namun ketika hujan deras terus turun sejumlah pengunjung yang enggan basah saat harus menerobos hujan demi mencapai mobil akhirnya memilih menghabiskan waktu di kafe ini. Dan kini hanya dua meja yang kosong, itupun karena kedua meja tersebut basah oleh hujan. Dan sekarang dihadapanku duduk seorang ayah dan putrinya. Mereka tampaknya jalan berdua. Mengingatkan saya pada kedekatan saya dan papa. Sudah berbulan-bulan berlalu sejak terakhir kali kami menghabiskan waktu berdua saja. Saat celotehanku mengisi sebagain besar kebersamaan kami.
Di usia sekarang saya tetap dengan bangga berkata bahwa saya "anak papa'
Oh, hujan telah mereda. Sore ini akhirnya saya hanya sempat bercerita tentang hujan. :)
Wah jadi berharap menemukan pelangi karena tadi sebelum hujan lebat turun, wangi tanah basah tidak terbaui.. :"(
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!




Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…