Langsung ke konten utama

Malam minggu.. Bakar-bakaran..

27 Oktober 2012

Setelah kemarin sibuk dengan urusan potong memotong daging sekarang waktunya sibuk dengan bakar membakar daging.
Tapi malam ini selain daging sapi dan kambing, kita dapat kiriman dari mbah kakung sepotong ika yg ukurannya lumayan besar.
Kesibukan dimulai dengan keriuhan untuk bisa menyalakan bara. Karena semua belum ada yg pernah lulus kelas membakar sate dan hanya pernah memperhatikan kesibukan para penjual sate dan ayam bakar, akhirnya butuh waktu hampir 1 jam sebelum arang menyala dan siap untuk dipakai barbeque-an (ha..ha..sok modern dengan istilah itu). Akhirnya gelar Ratu Bakar-Bakaran jatuh pada Tante Rika yang begitu turun tangan langsung berhasil menyalakan bara. Yang berbuah pengakuan dari Om Sultan atas kekalahannya dalam adu kemampuan membakar-bakar. Tapi duet maut itu tetap nampak romantis. (Hwakakakakak.. Romantis dimananya?)
Kali ini acara bakar2nya lebih ramai dari acara makan-makan sebelumnya pada saat idul adha. Karena telah bergabung Tante Dian dan suami serta putra kecilnya yang baru akan menginjak 11 bulan. Ada pula tante Fani, om idrul, dan om afit (semoga gak salah tulis) yang menambah keriuhan di lantai tiga. Akhirnya acara makan-makan di mulai setelah di resmikan oleh mbah. Segera saja setumpuk sate kambing habis di lahap. Sambal kecap habis diperebutkan hingga sendok terakhir dan ternyata masih tersimpan semangkuk sambal kecap :D
Oiya, satu tambahan penting. Acara bakar-bakar ini tidak dilakukan di taman atau di pinggir kolam renang (halah kaya' kolam renangnya ada aja), melainkan di lantai 3 rumah. Nah ditengah acara makan-makan setelah bakar-bakaran, mendadak muncul asap hitam di dekat rumah. Karena posisi kami yang lebih tinggi asap hitam itu jadi terlihat lebih mencolok. Berbagai praduga dilontarkan, mulai dari "Ah paling ada yang bakar rumput tuh,", "eh udah padam tuh", "jangan-jangan ada mobil yg kebakar karena korslet. Soalnya asapnya gak melebar tapi di satu titik aja", dan yang terakhir "Sudah ada pemadam yang menuju TKP, kok". Dan akhirnya hingga tulisan ini diposting masih belum ada kejelasan berita terkait asap hitam itu.
Akhirnya acara makan-makan pun berakhir pada jam setengah 10 malam. Sambil melontarkan usul untuk membuat acara bakar-bakaran lagi di akhir tahun 2012, saya akhirnya diserahi tugas untuk mencari resep Sarabba demi memeriahkan rencana akhir tahun nanti (berhubung saya dibesarkan di sulawesi). Dan kini saya sudah dipembaringan. Bersiap mengakhiri malam ini dengan terlelap karena besok pagi harus berangkat ke Bandung.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!


Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…