Langsung ke konten utama

Sekedar Menghempas Debu dan Jaring Laba-Laba

Kesibukan selalu menjadi kambing hitam dalam setiap kegagalan memposting tulisan.
Seolah waktu 24 jam tidak lagi cukup untuk memenuhi semua rencana
menghentikan penundaan menjadi kebiasaan yang hanya sekedar menjadi resolusi tahunan.
Membaca kini menjadi rutinitas yang terlalu memforsir tenagaku. mendengar musik dan menghabiskan waktu menggelandang di jalan menjadi prioritas kedua dalam keseharianku.

Sikap sok sibuk ini membuat produktivitas menulis menurun jauh.
Memang pada saat membaca ada sejumlah ide tulisan yang terlintas
serangkaian kata yang terbaca di benar
namun keengganan menunda bacaan untuk sekedar menuliskan sebaris kata-kata membuat semua inspirasi itu berlalu begitu saja
barulah ketika terpaku di depan laptop, penyelasan membanjiri dengan kata "Kenapa dulu" dan "Seandainya"

Ah, sudahlah..
mengeluh pun tiada guna lagi..
ini kesalahanku, maka kergiannya harus mampu kutanggung.

biarlah tulisan ini menjadi pengingat bahwa aku kembali masuk ke ruang kosong..
menemukan bahwa banyak yang telah singgah di depan pintu yang selalu enggan ku buka..
tulisan ini mungkin hanya akan sekedar untuk membersihkan debu dan sarang laba-laba yang telah memenuhi blog ini..
semoga kedepannya bisa menulis lebih banyak hal lagi..

tidak perlu menunggu tahun baru untuk menetapkan sebuah resolusi
baiklah resolusi kali ini adalah:
Blog harus selalu terisi setiap hari walapun hanya sebaris kata atau sekedar kutipan kalimat bijak..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…