Langsung ke konten utama

mengenang 8 tahun berhijab..alhamdulillah..

Bismillahirrahmanirrahim..

Ah, alhamdulillah masih diberi berkah bertemu dengan Ramadhan tahun ini.. Alhamdulillah..
Teringat kembali kenangan masa SMA ketika hidayah berhijab dengan penuh keteguhan datang bersama sebuah kesempatan untuk melaksanakannya. Moment pesantren kilat sebagai wakil dari mushallah Al-Iqra dalam peskil bersama pada 1 Ramadhan 1425 H atau 15 Oktober 2004.
Alhamdulillah niat berhijab berhasil terwujud. Dengan berbagai hambatan yang terjadi sebuah niat untuk menjadikan keputusan ini sebagai pilihan seumur hidup. Dengan tekad bahwa insyaAllah hijab itu bukanlah hijab yang dipakai untuk alasan lain selain tunduk pada perintah Allah. Dengan do'a untuk selalu dalam penjagaannya dan hijab itu menjadi wasilah untuk menjaga diri, akhirnya hijab putih yang menjadi hijab pertamaku pun kukenakan.
Setelah kucing-kucingan dengan ibunda yang awalnya tidak begitu menyetujui niatan itu, alhamdulillah berkah Ramadhan menghampiri. Ibunda menyetujui keputusan itu meski beliau tetap meminta untuk mempertimbangkannya lagi. Apalagi ketika melihat hijab yang aku kenakan adalah hijab yang tergolong panjang karena benar-benar dijulurkan menutupi dada.
Pada masa itu, hijab masih disebut jilbab. Penggunaan hijab itu lebih sering ditujukan pada jilbab yang langsung pakai dan lebar hingga menutupi tubuh dan tangan pemakainya. Alhamdulillah sebelum memakai hijab aku telah lebih dulu mengilmui mengenai kewajiban tersebut. Dan sempat mengalami penyesalan atas keterlambatan menggunakannya karena jika setiap helai rambut yang nampak akan mengalirkan dosa maka telah berapa banyak dosa yang dihasilkan oleh seluruh helaian rambutku selama bertahun-tahun sejak masa balighku.. Astagfirullah..
Hal yang hingga kini kusyukuri adalah proses mengilmui itu. Aku tidak menjadikan fashion sebagai tolak ukur utama dalam menggunakan hijab. sefashionable apa pun jika tidak terjulur hingga menutupi dada maka itu tidak menjadi pilihan. Berupaya agar tidak ada punuk unta yang muncul di belakang kepala karena takut menjadi kelompok yang disebutkan oleh Rasulullah dalam hadistnya:

"Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapl, mereka memukul manusia dengan cambuknya, dan wanita yang kasiyat (berpakain tapi telanjang baik karena tipis, atau pendek yang tidak menutup semua auratnya), Mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang) kepala mereka seperti punuk onta yang berpunuk dua. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya padahal bau surga itu akan didapati dari sekian dan sekian (perjalanan 500 th).. (HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421). 

 Hal yang sangat miris terjadi dihadapanku terutama di kota Bandung, kota tempatku menempuh pendidikan sekarang, yang merupakan pusat mode di Indonesia. Berbagai model hijab bersama berbagai bentuk cara pakai akan terus ditemukan di kota ini. Namun sayangnya sering kali pemakainya memprioritaskan keindahan dan tidak merasa risih memperindah tampilannya namun ternyata sedikit kulit mengintip ditengkuknya.. Astagfirullah..Naudzubillah.. Terkadang terbesit keingin untuk menegur mereka. Namun rasa segan membuatku mengurungkan niat.

Dan kini media semakin mengukuhkan hijab sebagai bagian dari fashion. Hijab tidak lagi menjadi bagian dari syari'at. Pilihan seseorang untuk memakai hijab kini tidak lagi karena ingin mendekat diri pada Allah dan tunduk pada perintahNya, seringkali alasannya karena mereka terlihat lebih cantik dan menarik dengan hijab yang kini sudah banyak ragamnya. Alasan seperti inilah yang membuat mereka tidak segan-segan menanggalkan hijabnya jika mereka merasa momen itu tidak cocok jika memakai jilbab. Hal ini juga yang mungkin saja membuatku kini sering mendapati seorang wanita berhijab namun merokok di tempat umum. Menemukan wanita berhijab namun menggunakan pakaian yang sangat ketat sehingga bentuk tubuhnya benar-benar tampak layaknya tidak memakai pakaian. Astagfirullah..

Telah banyak jalan yang ditempuh olah setan untuk menggoda muslimah semoga hijab tidak menjadi jalan bagi setan menghembuskan jalan yang menjauh dari keridhaan Allah.
Alhamdulillah setelah 8 tahun menggunakan hijab hingga kini tidak tertanggalkan.. semoga untuk selamanya..
mudahkan ya Rabb..
Amin..



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…