Langsung ke konten utama

Iri yang Baik (jika mungkin ada)

akhir-akhir ini saya sering terserang rasa iri terhadap orang lain.
Ketika melihat seseorang yang lebih baik dalam menulis dan membuat saya terkagum-kagum dengan karyanya, maka saya mendadak berfikir "Kok dia bisa? kenapa saya gak bisa? saya juga mau seperti itu!"
pikiran-pikiran ini sudah mulai menghinggapi saya sejak melepas pendidikan di bangku sarjan dan melanjutkannya di jenjang yang lebih tinggi.

Ketika pertama kali duduk di kelas matrikulasi untuk persiapan kuliah pascasarjana, saya menemukan bahwa banyak orang-orang dengan pola pemikiran yang unik dan sudut pandang yang berbeda yang mereka pakai untuk memandang satu hal yang sama benar-benar berhasil membuat mental saya jatuh (sejujurnya...) karena selama ini saya punya cukup percaya diri bahwa saya cukup mampu memahami masalah yang dibahas di mata kuliah tersebut. Namun saya kembali mendogak dan terdiam menyerap limpahan ilmu baru sambil memendam malu bahwa ternyata saya berfikir dengan cara yang biasa saja.

Bayangkan ketika membahas kematian Osama bin Laden analisis yang dijabarkan benar-benar menarik. Ada yang membahasnya murni dari sudut pandang industri senjata. Ada pula yang kemudian membahasnya dalam sudut pandang budaya sosial politik Islam. Kemudian ada yang menghubungkan tentang nilai-nilai masyarakat sebagai pemicu lahirnya terorism. Saya hanya bisa mendesah dan merasa iris setangah mati dengan ilmu yang mereka miliki. Tapi kemudian ini membuat saya terpacu untuk sering-sering duduk dan mendengarkan diskusi mereka.

Kemudian beberapa waktu lalu saya mengetahui bahwa salah seorang teman lama saya yang berbagai impian untuk menjadi penulis di masa SMA berhasil menerbitkan kumpulan sajaknya. Argh!!!!! Itu membuat saya cukup tertohok. Saya sudah tidak pernah berkarya lagi. Nyaris tidak produktif lagi kecuali jika menulis skripsi terhitung sebagai karya yang cukup produktif. (^_^)v
Namun kenyataan itu menyaddarkanku bahwa sudah  cukup lama aku mengabaikan impian masa kecilku. Kembali teringat olehku sebuah buku yang berisi kumpulan puisi kanak-kanakku yang ketika pindah dari kota Palopo ke kota Tarakan, entah tercecer dimana. Kemudian kembali kubuku-buka folder "Coret coret" di drive D laptop. Yang terpampang hanyalah karya lama di masa SMA dan sejumlah potongan karya yang tidak kunjung selesai. Malu pada diri ini..malu pada impian itu sendiri..

Kemudian baru saja saya merasa iri pada teman yang ketika saya buka blog-nya ternyata dia cukup konsisten mengisi blognya dari tahun ke tahun. Kemudian ada yang berbisik di kepala saya bahwa jika seluruh blog-blog yang pernah kubuat sejak SMA dikumpukan kembali maka entah sudah berapa banyak postingan yang saya miliki. Tapi terlambat, ketidakkonsistenanku selama ini dalam mengisi blog dan ketika menyesali kevakuman sebuah blog yang saya lakukan malah membuat blog baru. Tindakan ini malah membuat saya menuduh diri saya sendiri sebagai "orang yang senang melarikan diri dari masalah".

Argh...
Bertumpuk-tumpuk rasa malu dan iri ini harus bisa menguatkan saya.Jangan sampai melemahkan saya..
Tidak pernah kata terlambat untuk mewujudkan impian.
Dan akan selalu ada jalan pulang untuk hati yang terus penuh tekad dan tidak pernah putus asa.

Mari memupuk rasa iri ini karena ia tidak menggerogoti selama tidak menjadi dengki.
Kesuksesan orang lain jangan sampai menjadi luka bagi diri sendiri melainkan harus menjadi pembakar semangat.
(^_^)v

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…