Jumat, 09 Maret 2012

Iri yang Baik (jika mungkin ada)

akhir-akhir ini saya sering terserang rasa iri terhadap orang lain.
Ketika melihat seseorang yang lebih baik dalam menulis dan membuat saya terkagum-kagum dengan karyanya, maka saya mendadak berfikir "Kok dia bisa? kenapa saya gak bisa? saya juga mau seperti itu!"
pikiran-pikiran ini sudah mulai menghinggapi saya sejak melepas pendidikan di bangku sarjan dan melanjutkannya di jenjang yang lebih tinggi.

Ketika pertama kali duduk di kelas matrikulasi untuk persiapan kuliah pascasarjana, saya menemukan bahwa banyak orang-orang dengan pola pemikiran yang unik dan sudut pandang yang berbeda yang mereka pakai untuk memandang satu hal yang sama benar-benar berhasil membuat mental saya jatuh (sejujurnya...) karena selama ini saya punya cukup percaya diri bahwa saya cukup mampu memahami masalah yang dibahas di mata kuliah tersebut. Namun saya kembali mendogak dan terdiam menyerap limpahan ilmu baru sambil memendam malu bahwa ternyata saya berfikir dengan cara yang biasa saja.

Bayangkan ketika membahas kematian Osama bin Laden analisis yang dijabarkan benar-benar menarik. Ada yang membahasnya murni dari sudut pandang industri senjata. Ada pula yang kemudian membahasnya dalam sudut pandang budaya sosial politik Islam. Kemudian ada yang menghubungkan tentang nilai-nilai masyarakat sebagai pemicu lahirnya terorism. Saya hanya bisa mendesah dan merasa iris setangah mati dengan ilmu yang mereka miliki. Tapi kemudian ini membuat saya terpacu untuk sering-sering duduk dan mendengarkan diskusi mereka.

Kemudian beberapa waktu lalu saya mengetahui bahwa salah seorang teman lama saya yang berbagai impian untuk menjadi penulis di masa SMA berhasil menerbitkan kumpulan sajaknya. Argh!!!!! Itu membuat saya cukup tertohok. Saya sudah tidak pernah berkarya lagi. Nyaris tidak produktif lagi kecuali jika menulis skripsi terhitung sebagai karya yang cukup produktif. (^_^)v
Namun kenyataan itu menyaddarkanku bahwa sudah  cukup lama aku mengabaikan impian masa kecilku. Kembali teringat olehku sebuah buku yang berisi kumpulan puisi kanak-kanakku yang ketika pindah dari kota Palopo ke kota Tarakan, entah tercecer dimana. Kemudian kembali kubuku-buka folder "Coret coret" di drive D laptop. Yang terpampang hanyalah karya lama di masa SMA dan sejumlah potongan karya yang tidak kunjung selesai. Malu pada diri ini..malu pada impian itu sendiri..

Kemudian baru saja saya merasa iri pada teman yang ketika saya buka blog-nya ternyata dia cukup konsisten mengisi blognya dari tahun ke tahun. Kemudian ada yang berbisik di kepala saya bahwa jika seluruh blog-blog yang pernah kubuat sejak SMA dikumpukan kembali maka entah sudah berapa banyak postingan yang saya miliki. Tapi terlambat, ketidakkonsistenanku selama ini dalam mengisi blog dan ketika menyesali kevakuman sebuah blog yang saya lakukan malah membuat blog baru. Tindakan ini malah membuat saya menuduh diri saya sendiri sebagai "orang yang senang melarikan diri dari masalah".

Argh...
Bertumpuk-tumpuk rasa malu dan iri ini harus bisa menguatkan saya.Jangan sampai melemahkan saya..
Tidak pernah kata terlambat untuk mewujudkan impian.
Dan akan selalu ada jalan pulang untuk hati yang terus penuh tekad dan tidak pernah putus asa.

Mari memupuk rasa iri ini karena ia tidak menggerogoti selama tidak menjadi dengki.
Kesuksesan orang lain jangan sampai menjadi luka bagi diri sendiri melainkan harus menjadi pembakar semangat.
(^_^)v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)