Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2012

Biarkan Aku Bercerita

Hari ini hujan yang menderas kembali menjadi sapaan langit kepada bumi
meski bumi tampak menolak dengan membiarkannya tergenang
namun pada akhirnya bumi tetap menerima dan menyerapnya masuk ke dalam dirinya,

  karena bumi tahu,

itulah cinta dari langit yang seberapa pun ia ingin menolaknya
cinta itulah yang membuatnya tetap hidup
Cinta yang diberikan terlalu melimpah namun akhirnya membuatnya mampu memekarkan bunga-bunga yang tampak layu dan mengering

Lantas tidakkah kamu bertanya,

mengapa langit tetap melimpahi bumi dnegan butir-butir air yang turun dengan kerasa dan deras?

  karena langit tahu,

seberapa pun bumi menolak limpahan cinta yang ia titipkan bersama hujan
kelak bumi akan meresapnya dan kemudian menemukan seberapa besar langit mencintainya.

@Sukabumi 13.17

Iri yang Baik (jika mungkin ada)

akhir-akhir ini saya sering terserang rasa iri terhadap orang lain.
Ketika melihat seseorang yang lebih baik dalam menulis dan membuat saya terkagum-kagum dengan karyanya, maka saya mendadak berfikir "Kok dia bisa? kenapa saya gak bisa? saya juga mau seperti itu!"
pikiran-pikiran ini sudah mulai menghinggapi saya sejak melepas pendidikan di bangku sarjan dan melanjutkannya di jenjang yang lebih tinggi.

Ketika pertama kali duduk di kelas matrikulasi untuk persiapan kuliah pascasarjana, saya menemukan bahwa banyak orang-orang dengan pola pemikiran yang unik dan sudut pandang yang berbeda yang mereka pakai untuk memandang satu hal yang sama benar-benar berhasil membuat mental saya jatuh (sejujurnya...) karena selama ini saya punya cukup percaya diri bahwa saya cukup mampu memahami masalah yang dibahas di mata kuliah tersebut. Namun saya kembali mendogak dan terdiam menyerap limpahan ilmu baru sambil memendam malu bahwa ternyata saya berfikir dengan cara yang biasa saja.

Bayangk…

Menemukan Diriku

Dalam perjalanan keluar dari tempat yang kusebut rumah entah mengapa terbesit pikiran tentang bagaimana orang-orang memandang pribadiku. Bertanya "Mengapa" ketika kemudian bahwa seringkali orang memberikan penilian lebih terhadap pribadiku. Sering kali mereka berharap bahwa aku bisa melakukan hal-hal yang besar yang kadang diriku pribadi agak meragukannya.

Sejak kecil harapan-harapan itu telah mulai membebaniku karena latar belakang keluargaku yang notabene dianggap keluarga yang berisi orang pintar-pintar mengingat pekerjaan yang dimiliki ayahku dan prestasi dari kakak-kakakku. Tidak jarang itu menjadi beban yang tidak bisa diterima oleh seorang gadis kecil. Kalimat "Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?" menjadi jawaban dari orang-orang sekitar ketika gagal meraih prestasi sebaik kakak-kakakku. Namun ketika keberhasilan kuraih kalimat yang kudapatkan hanya "Wajar dia begitu. Kakaknya juga seperti itu", seolah apa yang kuraih bukan atas usahaku sendiri…