Langsung ke konten utama

Membersihkan Jaring Laba-Laba

Hari ini sudah tahun 2012 dan ternyata sudah berbulan-bulan lamanya blog ini terabaikan.
Kunjunganku di blog ini pun tanpa rencana sama sekali. Hanya mampir sebentar ketika sepintas lalu teringat namun kemudian rasa bersalah menyerangku.
Aku telah menelantarkan sesuatu yang kubuat sendiri, maka selayaknya aku harus kembali bertanggung jawab pada apa yang telah kubuat. Meski aku tahu akan tetap sulit ditengah banyak hal yang berkelebat dikepala dan buku-buku yang mebuat mata dan tanganku terus sibuk, maka blog ini harus bisa masuk dalam prioritas penting namun tak mendesak.

Banyak hal yang terjadi sejak terakhir aku menulis di blog ini..
Kuliah semester pertama di program pasca sarjanaku telah selesai.. bahkan kini semester kedua pun sudah mulai berjalan.
Gonta-ganti judul calon thesis pun terjadi dan sekarang aku  berhenti. Menanti kejelasan pembimbing unutk kemudian kembali memulai membuat judul yang layak diajukan.

Satu hal yang paling membuatku menyesal adalah ketika melihat salah seorang kawan lamaku yang dulu sama-sama memiliki tekad untuk membuat buku dan melihat karya kami dipajang di toko buku akhirnya berhasil memenuhi impian itu. Aku kemudian bertanya, kapan masaku akan tiba??
Meski terlambat aku harus bisa memenuhi impian itu!!
(lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali)

Sejauh ini, hanya itu yang bisa kutuliskan, hujan memaksaku untuk menyegerakan kegiatan online ini. Masih ada hal lain yang harus kulakukan. sampai ketemu lagi sesegara mungkin..
(^_^)

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…