Langsung ke konten utama

..pulang & rumah..

hei, katika kita berkata "saya akan pulang ke rumah" maka kita cenderung memaknakannya dengan melangkah ke tempat kita tinggal, tidur, dan berdomisili dalam jangka waktu yang lama. Rumah cenderung kita definisikan sebagai sebuah tempat kita bernaung dari panas dan hujan, tempat kita untuk beristirahat dalam wujud sebuah bangunan.

namun ada hal yang menarik yang akhirnya kupahami dari apa yang selama ini aku nonton dan baca.
orang Jepang menggunakan kata "tadaima" ketika sampai di rumah dan orang di rumah menyambutnya denga kata "okaeri nasai"..di beberapa komik dan film yang aku baca, kata "tadaima" ini diucapkan oleh seseorang tidak hanya ketika mereka baru tiba di tempat tingga yang lazim kita sebut rumah, melainkan kadang digunakan oleh orang yang telah lama berada di luar negeri atau kampung halamannya dan kemudian ketika bertemu kembali dengan orang yang menyambutnya di negeri atau kampung halamannya, maka ia akan berkata "tadaima" meskipun saat itu mereka tidak berada dalam sebuah tempat tinggal.

hingga kemudian aku akhirnya menyadari bahwa terkadang kata "tadaima" ini mereka ucapkan ketika bertemu dengan seseorang yang berarti dalam hidup mereka setelah sekian lama tak bertemu. (maaf jika ini mengingatkan anda pada beberapa adegan tipikal di komik atau drama Jepang..tapi memang begitulah adanya). ini berarti bahwa rumah yang dimaknakan sesungguhnya tidak hanya dalam wujud materi atau berbentuk sebuah bangunan. Rumah disini pun dapat berarti tempat bagi hati kita untuk pulang. Tempat dimana ada orang-orang yang kita kasihi berada.

Hm..hal ini terasa sekali saat aku berada di tanah rantau..selama ini aku bingung tentang tempat seperti apa yang layak disebut rumah. Cukupkah kriteria bahwa tempat itu kita diami selama jangka waktu yang lama?? Apa cukup jika dikatakan tempat dimana sebuah keluarga ini yang terdiri dari ayah, ibu, saudara yang berkumpul (meski kadang tidak lengkap)? Ataukah rumah adalah tempat bagi kita untuk merasakan bahwa "disinilah aku ingin kembali"?

Sangat terasa bagiku, bahwa kebahagiaan tidak akan sempurna tanpa ada rumah untuk pulang. Meski pun di Bandung aku memiliki kediaman yang sederhana, namun tempat itu tetap saja tak dapat kusebut rumah dengan sepenuh hati. Karena di tempat ini tidak ada orang yang kujadikan tempat untuk berbahagia dan ksedihan. Tempat ini tidak membawa hatiku pulang, tidak menjadi tempat bagi hati dan perasaanku untuk beristirahat.

Huft, merindukan "rumah" bagi hatiku..semoga bisa menemukan sebuah rumah kecil nan menenangkan di Bandung ini. Meski pada kenyataannya ada atau tidak rumah itu, maka Makassar akan tetap menjadi rujukan bagiku saat mengatakan "pulang".

*keluh-kesah dari orang yang tak pernah pergi jauh dari rumah dalam jangka waktu yang lama.
namun pengalaman ini mengajarkan saya untuk selalu bersyukur dan menikmati setiap detik kebersamaan yang kumiliki dengan orang-orang yang kusayangi*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…