Sabtu, 17 September 2011

..kalimat dari “dia”..



Moshi-moshi..
Untuk memenuhi janji yang terlanjur dibuat..aku ingin memberikan penjelasan (atau malah mengisahkan) tentang sebuah statement yang sempat aku posting di Facebook milikku.

“seseorang memintaQ untuk melupaknnya tapi menyimpan ia di hatiQ”

Itu isi postinganku. Mungkin ada yang menganggap bahwa kalimat ini lucu, tidak jelas, atau bahkan tidak bermakna. Namun ini adalah kalimat yang membuatku terdiam dan berfikir saat mendengarkannya.
Aku tidak bisa menjelaskan sejumlah fakta yang melatarbelakangi pembicaraan kami karena alasan privasi. Namun aku berharap hal itu tidak akan mengurangi apa makna dari kalimat ini. Semoga.. namun satu fakta yang jelas bahwa hubungan kami cukup spesial (nggak pake telor)..he..he..
/(^_^)\v

Kami sedang terlibat pembicaraan tentang komunikasi yang menjadi bagian dari rutinitas kami yang sangat sulit untuk kuubah. Rasanya hampir semua hal menarik yang kualami dalam hari-hari yang kulewati selalu kuceritakan padanya lewat pesan singkat. Dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir ini, hubungan kami mengalami perubahan yang membuat pola komunikasi kami berubah. Dan harus kuakui dia bukanlah orang yang romantis bahkan dia lebih layak digolongkan sebagai orang yang cuek.
Namun karena dalam kurun waktu yang cukup lama aku terbiasa untuk menceritakan apa yang kurasakan dan kualami padanya, maka butuh usaha ekstra keras untuk mengubahnya. Terutama karena aku kini berada di kota dan lingkungan yang berbeda dari sebelumnya sehingga banyak hal menarik yang kualami dan ingin kubagi dengannya.

Ia kemudian berkata padaku (dengan beberapa perubahan dan penyesuaian karena dia menggunakan logat bahasa yang akan sulit dimengerti oleh sebagia besar pembaca), “Lupakan aku. Jangan terlalu sering mengingatku. Fokuslah belajar di sana, karena kamu kesana untuk sekolah. Cukup simpan aku dihatimu, itu kalimatnya yang kemudian kubantah. Memangnya bisa melupakan sesuatu namun menyimpannya dalam hati?”

“Bisa. Itu sama seperti keimanan. Dia tidak disimpan di kepala tapi di hati. Ia bisa saja kita lupakan, namun ketika ada sesuatu yang salah, maka hati akan membisikkanya. Ia akan memberi tahu bahwa ada sesuatu di dalam hati kita yang tidak menyukainya. Jika perasaan yang sekarang kamu simpan di dalam otak, maka kamu akan berusaha mengakalinya. Ketika tertarik pada seseorang kamu akan berkata, ‘ah, kan cuma untuk berteman. Jalan-jalan berdua boleh-boleh saja,’ namun ketika kamu menyimpannya di dalam hati maka hatimu akan membisikkan, ‘ini salah. Tidak boleh begini’. Tanpa perlu ada alasan karena hatimu bisa memahaminya’” penjelasannya membuatku terdiam. Sejak ia berucap “ini seperti keimanan,” kalimat itu telah membiusku dan mulai melahirkan pemahaman di hatiku.

Yah makna kalimat ini dalam. Dia memintaku untuk mengabaikannya agar waktu yang kugunakan untuk mengingat dan menghubunginya dapat kumanfaatkan untuk mengerjakan hal lain yang lebih penting untuk masa depanku. Namun, dengan menyimpan dia dihatiku, maka di saat yang sama aku akan menetapkan pagar untuk diriku sendiri agar terus menjaga hati itu. Agar ketika tiba saatnya godaan mengalihkanku maka hatiku akan mengingatkanku.

Yah sesederhana itulah maknanya. Namun aku paham apa yang dituntut dari kalimat itu.
Dan aku mulai memahami sikapnya dan menyadari bahwa dia memang cuek padaku dan sering kali terlalu sibuk dengan hal lain hingga melupakanku, namun aku kemudian menyadari bahwa aku telah disimpan di dalam hatinya karena itulah dia selalu bisa memaafkan setiap keegoisan dan kata-kataku yang menyakitkan. Dia bisa tetap peduli dan mendengarkan ketika aku sedang benar-benar butuh untuk berbagi. Karena aku disimpan di hati, maka ketika aku kembali egois dan tenggelam dengan kemaraham dia tetap saja mengirimiku pesan singkat, “bagaimana kabar mu?”. Karena dia tidak marah atas sikapku melainkan memaafkanku.
*semoga pembaca paham..
Karena kusadari bahwa yang paling bisa memahami apa yang ingin kutuliskan adalah diriku sendiri*
(^_^)v

1 komentar:

  1. Saya menangis. Yah, cukup kau simpan aku di hati, artinya dia masih mau suatu saat akan menjadi melikmu. Tetapi meminta untuk dilupakan karena tidak mau mengganggu tujuan utamamu si perantauan. :'( Yaa Allah, inikah cobaan dalam keDIAMan itu?!

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)