Langsung ke konten utama

..kalimat dari “dia”..



Moshi-moshi..
Untuk memenuhi janji yang terlanjur dibuat..aku ingin memberikan penjelasan (atau malah mengisahkan) tentang sebuah statement yang sempat aku posting di Facebook milikku.

“seseorang memintaQ untuk melupaknnya tapi menyimpan ia di hatiQ”

Itu isi postinganku. Mungkin ada yang menganggap bahwa kalimat ini lucu, tidak jelas, atau bahkan tidak bermakna. Namun ini adalah kalimat yang membuatku terdiam dan berfikir saat mendengarkannya.
Aku tidak bisa menjelaskan sejumlah fakta yang melatarbelakangi pembicaraan kami karena alasan privasi. Namun aku berharap hal itu tidak akan mengurangi apa makna dari kalimat ini. Semoga.. namun satu fakta yang jelas bahwa hubungan kami cukup spesial (nggak pake telor)..he..he..
/(^_^)\v

Kami sedang terlibat pembicaraan tentang komunikasi yang menjadi bagian dari rutinitas kami yang sangat sulit untuk kuubah. Rasanya hampir semua hal menarik yang kualami dalam hari-hari yang kulewati selalu kuceritakan padanya lewat pesan singkat. Dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir ini, hubungan kami mengalami perubahan yang membuat pola komunikasi kami berubah. Dan harus kuakui dia bukanlah orang yang romantis bahkan dia lebih layak digolongkan sebagai orang yang cuek.
Namun karena dalam kurun waktu yang cukup lama aku terbiasa untuk menceritakan apa yang kurasakan dan kualami padanya, maka butuh usaha ekstra keras untuk mengubahnya. Terutama karena aku kini berada di kota dan lingkungan yang berbeda dari sebelumnya sehingga banyak hal menarik yang kualami dan ingin kubagi dengannya.

Ia kemudian berkata padaku (dengan beberapa perubahan dan penyesuaian karena dia menggunakan logat bahasa yang akan sulit dimengerti oleh sebagia besar pembaca), “Lupakan aku. Jangan terlalu sering mengingatku. Fokuslah belajar di sana, karena kamu kesana untuk sekolah. Cukup simpan aku dihatimu, itu kalimatnya yang kemudian kubantah. Memangnya bisa melupakan sesuatu namun menyimpannya dalam hati?”

“Bisa. Itu sama seperti keimanan. Dia tidak disimpan di kepala tapi di hati. Ia bisa saja kita lupakan, namun ketika ada sesuatu yang salah, maka hati akan membisikkanya. Ia akan memberi tahu bahwa ada sesuatu di dalam hati kita yang tidak menyukainya. Jika perasaan yang sekarang kamu simpan di dalam otak, maka kamu akan berusaha mengakalinya. Ketika tertarik pada seseorang kamu akan berkata, ‘ah, kan cuma untuk berteman. Jalan-jalan berdua boleh-boleh saja,’ namun ketika kamu menyimpannya di dalam hati maka hatimu akan membisikkan, ‘ini salah. Tidak boleh begini’. Tanpa perlu ada alasan karena hatimu bisa memahaminya’” penjelasannya membuatku terdiam. Sejak ia berucap “ini seperti keimanan,” kalimat itu telah membiusku dan mulai melahirkan pemahaman di hatiku.

Yah makna kalimat ini dalam. Dia memintaku untuk mengabaikannya agar waktu yang kugunakan untuk mengingat dan menghubunginya dapat kumanfaatkan untuk mengerjakan hal lain yang lebih penting untuk masa depanku. Namun, dengan menyimpan dia dihatiku, maka di saat yang sama aku akan menetapkan pagar untuk diriku sendiri agar terus menjaga hati itu. Agar ketika tiba saatnya godaan mengalihkanku maka hatiku akan mengingatkanku.

Yah sesederhana itulah maknanya. Namun aku paham apa yang dituntut dari kalimat itu.
Dan aku mulai memahami sikapnya dan menyadari bahwa dia memang cuek padaku dan sering kali terlalu sibuk dengan hal lain hingga melupakanku, namun aku kemudian menyadari bahwa aku telah disimpan di dalam hatinya karena itulah dia selalu bisa memaafkan setiap keegoisan dan kata-kataku yang menyakitkan. Dia bisa tetap peduli dan mendengarkan ketika aku sedang benar-benar butuh untuk berbagi. Karena aku disimpan di hati, maka ketika aku kembali egois dan tenggelam dengan kemaraham dia tetap saja mengirimiku pesan singkat, “bagaimana kabar mu?”. Karena dia tidak marah atas sikapku melainkan memaafkanku.
*semoga pembaca paham..
Karena kusadari bahwa yang paling bisa memahami apa yang ingin kutuliskan adalah diriku sendiri*
(^_^)v

Komentar

  1. Saya menangis. Yah, cukup kau simpan aku di hati, artinya dia masih mau suatu saat akan menjadi melikmu. Tetapi meminta untuk dilupakan karena tidak mau mengganggu tujuan utamamu si perantauan. :'( Yaa Allah, inikah cobaan dalam keDIAMan itu?!

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…