Rabu, 01 Juni 2011

..perjalanan yang tak terlupakan..


Postingan kali ini masih menyangkut kegiatan rombongan yang saya dampingi. Jika sebelumnya saya menceritakan berbagai tempat wisata yang mereka datangi di Makassar dan Toraja serta perjalanan yang mereka lalui dari Makassar menuju Toraja melalui Enrekang, maka kali ini saya ingin mengisahkan berbagai perjalanan yang benar-benar akan membekas bagi rombongan ibu-ibu ini (seperti pengakuan mereka..although they said that it’s the dirtiest vacation..he..he..*_*)

Setelah belanja kopi Toraja, sekitar jam setengah 3 siang, rombongan langsung berangkat menuju kota Palopo karena sejak pagi rombongan sudah langsung check out dari hotel. Selama perjalanan, banyak obrolan seru perkelompok yang tercipta dan ada pula yang memilih tidur atau sekedar duduk diam menikmati perjalanan. Namuan sekitar pukul 3 dalam perjalanan menuju Palopo, kabut menyelimuti jalan. Hal ini menimbulkan rasa panik dan akhirnya gelombang dzikir pun tercipta. Kecemasan ini terjadi mengingat jalanan yang sedari tadi dilewati adalah jalan menurun berkelok-kelok dengan dibeberapa sisi adalah jurang yang tertutup rimbungan pohon. Kondisi kabut ini jelas menyulitkan supir untuk melihat kendaraan. Tapi alhamdulillah kondisi ini pun terlewati dengan selamat. Sekitar jam setengah 5 sore akhirnya rombongan tiba di Kantor Cabang di Palopo.

Di kantor cabang ini, ibu-ibu ini kemudian disuguhi kue-kue, minuman dan durian. Kue barongko yang menjadi makanan khas Palopo pun menjadi rebutan ibup-ibu. Kehebohan pun terjadi di ruangan pertemuan yang dijadikan tempat untuk menjamu ibu-ibu tersebut. Kemudian kehebohan berlanjut saat rombongan diarahkan ke gedung belakang untuk menyantap durian. Segera saja tumpukan-tumpukan durian dalam jumlah yang cukup banyak itu diserbu oleh ibu-ibu. Ada yang langsung asyik memakan satu buah, ada pula yang sibuk foto-foto dengan kulit durian. Hampir semua anggota rombongan menyantap durian dalam jumlah banyak. (beberapa waktu berikutnya saat dalam perjalanan, efek serbuan atas durian mulai terasa, ada yang mulai merasa kepananasan, ada pula yang tenggorokannya terasa tidak enak seperti merasa panas dalam..he..he..setiap tindakan memang memiliki beberapa konsekuaensi..saya sendiri hanya makan sekitar 3 biji dan setelah itu langsung minum air kelapa yang telah disediakan)
Akhirnya pada pukul 6 lewat 12 rombongan akhirnya kembali masuk ke bis dengan dibekali nasi dos untuk santap malam di perjalanan. Rombongan ini masih sibuk bersecerita tentang kesan di Palopo, dan orang-orang yang ada di kantor cabang Palopo. Cerita-cerita riang ini masih terus berlanjut hingga Bis berhenti di salah satu masjid. Setelah shalat maghrib rombongan langsung melanjutkan perjalanan dan kemudian singgah di beberapa Pom Bensin untuk numpang buang air kecil. Selama perjalanan menuju Toraja lalu dan perjalanan menuju Makassar kali ini, hal yang selalu dilakukan adalah mencari Toilet dan menyerbunya.  Pertama kali berhenti di Pom Bensin adalah sekitar jam 8 malam yang kemudian dilakukan pembagian makanan yang dibekali oleh orang-orang dari cabang Palopo. Setelah supir bis selesai menyantap makanannya, perjalanan pun dilanjutkan. Kemudian akhirnya sampai di Pom Bensin di daerah Siwa.
Setelah itu moment ketegangan pun muncul. Mamaku yang terbangun dari tidurnya di bis kemudian membangunkan ku seraya berbisik, “Ika coba deh kamu tanya supir bis. Apa dia gak salah jalan? Kok jalanannya sepi sekali. Dari tadi kita tidak pernah ketemu truk. Seharusnya sekarang kita sudah sampai di Sidrap”. Akhirnya menuruti perintah mama, saya pun maju ke depan dan menanyakan perihal tersebut kepada supir kemudian si supi menjawab, “kita sekarang ada di Sengkang”. Nah, bingunglah saya dan mama saya, karena meskipun sudah 11 tahun tidak pernah menjejakkan kaki lagi di tanah Sawerigading (Palopo), kami tahu bahwa tidak perlu masuk ke Sengkang kalau menuju Palopo. Setelah memastikan hal itu, muncullah kepanikan di antara ibu-ibu. Jalanan yang sepi semakin menambah kecemasan. Waktu menunjukkan jam 11 malam dan jalanan gelap dan penduduk sudah terlelap. Akhirnya, sambil menggerutu kesal supir bis pun turun dan bertanya ke rumah warga yang akhirnya kembali dan berkata, “kita salah arah”. Namun setelah memutar arah muncul mobil pribadi dari arah berlawanan, yang karena kembali di desak oleh seluruh rombongan akhirnya supir pun turun dan kembali menanyakan arah. Setelah kembali ke bis, dia mengeraskan gerutuannya dan berkata, “cocok ji arah ta tadi. Ndede putar arah ki lagi,”. Setelah itu terdengar gumaman “Alhamdulillah” dari rombongan, namun aku dan mamaku saling melemparkan tatapan kesal karena kami berdua menyadari bahwa meskipun kita telah mendekati jalan poros Sengkang-Pare-Pare, kita telah membuang waktu 2 jam di perjalanan karena pada akhirnya kita tetap harus masuk ke wilayah Sidrap. Dan ini berarti perjalanan yang harusnya membutuhkan waktu 8 jam molor hingga 10 jam

Namun ternyata selama perjalanan supir yang ternyata mengalami sakit kepala akibat ikut menyantap durian di Palopo, berkali-kali berhenti untuk beristirahat. Akhirnya jam 5 subuh, kami masih berada di wilayah Pangkep dan belum mencapai kota Pangkep. Namun sekitar jam 4. 30, pimpinan rombongan kami sangat membutuhkan toilet untuk buang ari besar. Akhirnya setelah sempat kesal karena beberapa keli melewati masjid dan sang supir enggan berhenti, akhirnya supir dipaksa untuk berhenti di salah satu warung penjual Dange yang parahnya ternyata tidak punya WC dan hanya punya sebuah jamban. Ritual pun sudah tak tertahankan untuk dilaksanakan, akhirnya dengan menerima semua kondisi yang ada semua ritula buang air pun dilakukannya. Akhirnya kisah ini menjadi kisah lucu tersendiri bagi rombongan. (he..he..petualangan yang hebat *_*)

Pada akhirnya perjalanan Palopo-Makassar kami membutuhkan waktu sekitar 12 jam. Setibanya di Makassar, rombongan langsung menikmati coto Makassar. Dan finallay saya pun bisa tiba di rumah dengan selamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)