Langsung ke konten utama

Jalan-jalan@pare-pare..part II ..

Kisah perjalananku dengan teman2 sekerja di SPORA belum berakhir. Meskipuna awal perjalanan wisata kami cukup mengecewakan akibat tertipu oleh media. Tapi kami tetap mumutuskan untuk sebisa mungkin memanfaatkan acara jalan-jalan kami sebaik mungkin. Sama seperti yang pernah aku posting bahwa apa yang kita nikmati dan jalani adalah pilihan kita sendiri. Hal ini pun nampak dari perjalanan kami di Pare-Pare.
Meski pemandangan di taman wisata Jompie tidak berhasil memenuhi imajinasi kami tentang tempat itu. Namun ternyata saat menjelajahi hutan yang tidak terawat itu, kami mendapati bahwa kami berhasil membangun imajinasi yang baru. Teman sekerjaku –k’sam- yang senang nonton film sibuk mengimajinasikan film horor di kepalanya dengan menjadikan tempat itu sebagai settingnya. (wuih, celetukan tentang “atria, jangan sembarangan ambil foto. Nanti muncul yang aneh-aneh”, sukses meredam kegiatan ‘membekukan moment’ yang sibuk kulakukan. Maklum meski bukan penakut, aku tetap tidak ingin memiliki pengalaman spiritual apapun dengan makhluk halus). Kami juga sibuk merancang masa depan yang memungkinkan bagi hutan itu. Mulai dengan menghayalkan “english camp” di Jompie, hingga menghayalkan kondisi indah taman jompie yang dialiri sungai.
Ketika beranjak dari Jompie, kami kemudian memutuskan untuk memuaskan hasrat berenang para peserta perjalanan. Mengingat saat itu masih terlalu siang untuk menginjakkan kaki di pantai, akhirnya mobil kami melaju menuju Waterboom Pare-pare. Ketika tiba di gerbang waterboom, tim jalan2 kami nyaris terbagi dua..karena setengah mau main ari, setengahnya nggak (aku jelas nggak mau berenang..maklum berenang di kolam membuat apa yang aku sembunyikan dengan jilbab jadi kelihatan..he..he..). Setelah pikir-pikir sana sini, akhirnya semua masuk di waterboom meski hanya setengahnya yang main air. Sedangkan aku dan k’hera –dalam perjalanan itu hanya ada 2 wanita- memutuskan untuk berpose ria di tepi kolam sambil menikmati es krim dan cemilan lain.
Selepas dari waterboom kami kemudian memutuskan untuk jalan-jalan di tepi pantai.  Matahari masih cukup menyilaukan namun tak lagi terasa terik. Kami memutuskana untuk berjalan-jalan di tepi pantai dan melihat aktivitas warga di sekitar pantai. Nampak sekelompok anak muda yang sibuk di tepi pantai. Ada yang terlihat menenteng sebuah ember kecil, ada yang sibuk menunduk dan memandang air di daerah dangkal sambil sesekali menjulurkan tangan ke dalam air. Saat kami dekati mereka menjadi ramah dan mau bercerita sedikit dengan kami. Ternyata mereka sedang mencari kerang untuk di jual. Katanya setiap kilo-nya bisa dijual seharga 100ribu rupiah. Akhirnya aku dan k’sam ikut membantu mereka mengumpulkan beberapa buah kerang. Setelah beberapa menit sibuk menunduk mencari kerang di daerah dangkal aku dan teman-teman yang lain akhhirnya asyik main air dan berfoto. (jelas aku yang paling eksis. Maklum baterai hapeku jauh lebih banyak sisa cadangan energinya).
Ketika waktu menunjukkan jam 5 lebih, kami akhirnya memutuskan mengakhiri wisata kami di pantai itu dan melanjutkannya dengan wisata yang tidak kalah hebohnya. Setelah shalat ashar di salah satu masjid, kami langsung mendatangi pasar (bisa disebut pasar malam sih, karena bukanya setelah jam 5 sore) untuk berbelanja. Salah satu hal yang terkenal dari Pare-pare selain pantainya adalah adanya pasar yang menjual barang-barang import dengan harga murah. Kami kemudian menghabiskan waktu hampir 2 jam di pasar itu. Aku berhasil mendapatkan 2 buah tas cantik dengan modal 40ribu rupiah. (he..he..thanks to k’hera yang membantu saya menawar).
Selepas itu kami segera makan malam karena kami tidak ingin tiba terlalu malam di Makassar. Waktu sudah menunjukkan jam 7 malam saat aku menghempaskan pantat di salah satu kursi pelastik di pinggir pantai. Malam itu kami menyadari bahwa kami menghabiskan malam minggu di Pare-pare. Kami kemudia menyambut heboh kondisi itu. “Jauh-jauh bermalam minggu di Pare-pare. Hebatnya! Ha..ha..”..akhirnya pada saat bulan telah bersembunyi (karena ternyata saat itu adalah bulan mati bukan new moon seperti yang kami duga), dan jam menunjukkan pukul 8, kami kembali naik ke mobil dan bertolak menuju Makassar.
Yah, hari itu menjadi wisata yang cukup lengkap. Mulai dari agro wisata (meski gagal total *-*), wisata bahari hingga wisata belanja telah kami lewati. Ini moment yang indah karena dilewati bersama. Semoga tidak menjadi wisata terakhir bersama awak SPORA meski kini aku tidak lagi menjadi bagian dari SPORA. Jadi teringat sebuah kalimat tentang kebahagiaan saya lupa siapa yang menuliskannya bahwa “kebahagiaan tidaklah menjadi sesuatu yang membahagiaakan jika kita tidak punya siapa pun untuk diajak berbagi”

Komentar

  1. Tulisannya berkembang pesat a...
    beda wkt bljr dl...

    ada tips nc a:
    - untuk membuat lbh menarik, tambah donk komentar org yg ada di sekitar km

    - buat alur cerita a

    - setiap segmen lbh dideskripsikan a biar hidup, contoh saat km bertemu dgn anak2 pengumpul kerang gt...

    so, hebat a dah berkembang... mendingan jd penulis aj..

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…