Rabu, 15 Juni 2011

Jalan-jalan@pare-pare..part II ..

Kisah perjalananku dengan teman2 sekerja di SPORA belum berakhir. Meskipuna awal perjalanan wisata kami cukup mengecewakan akibat tertipu oleh media. Tapi kami tetap mumutuskan untuk sebisa mungkin memanfaatkan acara jalan-jalan kami sebaik mungkin. Sama seperti yang pernah aku posting bahwa apa yang kita nikmati dan jalani adalah pilihan kita sendiri. Hal ini pun nampak dari perjalanan kami di Pare-Pare.
Meski pemandangan di taman wisata Jompie tidak berhasil memenuhi imajinasi kami tentang tempat itu. Namun ternyata saat menjelajahi hutan yang tidak terawat itu, kami mendapati bahwa kami berhasil membangun imajinasi yang baru. Teman sekerjaku –k’sam- yang senang nonton film sibuk mengimajinasikan film horor di kepalanya dengan menjadikan tempat itu sebagai settingnya. (wuih, celetukan tentang “atria, jangan sembarangan ambil foto. Nanti muncul yang aneh-aneh”, sukses meredam kegiatan ‘membekukan moment’ yang sibuk kulakukan. Maklum meski bukan penakut, aku tetap tidak ingin memiliki pengalaman spiritual apapun dengan makhluk halus). Kami juga sibuk merancang masa depan yang memungkinkan bagi hutan itu. Mulai dengan menghayalkan “english camp” di Jompie, hingga menghayalkan kondisi indah taman jompie yang dialiri sungai.
Ketika beranjak dari Jompie, kami kemudian memutuskan untuk memuaskan hasrat berenang para peserta perjalanan. Mengingat saat itu masih terlalu siang untuk menginjakkan kaki di pantai, akhirnya mobil kami melaju menuju Waterboom Pare-pare. Ketika tiba di gerbang waterboom, tim jalan2 kami nyaris terbagi dua..karena setengah mau main ari, setengahnya nggak (aku jelas nggak mau berenang..maklum berenang di kolam membuat apa yang aku sembunyikan dengan jilbab jadi kelihatan..he..he..). Setelah pikir-pikir sana sini, akhirnya semua masuk di waterboom meski hanya setengahnya yang main air. Sedangkan aku dan k’hera –dalam perjalanan itu hanya ada 2 wanita- memutuskan untuk berpose ria di tepi kolam sambil menikmati es krim dan cemilan lain.
Selepas dari waterboom kami kemudian memutuskan untuk jalan-jalan di tepi pantai.  Matahari masih cukup menyilaukan namun tak lagi terasa terik. Kami memutuskana untuk berjalan-jalan di tepi pantai dan melihat aktivitas warga di sekitar pantai. Nampak sekelompok anak muda yang sibuk di tepi pantai. Ada yang terlihat menenteng sebuah ember kecil, ada yang sibuk menunduk dan memandang air di daerah dangkal sambil sesekali menjulurkan tangan ke dalam air. Saat kami dekati mereka menjadi ramah dan mau bercerita sedikit dengan kami. Ternyata mereka sedang mencari kerang untuk di jual. Katanya setiap kilo-nya bisa dijual seharga 100ribu rupiah. Akhirnya aku dan k’sam ikut membantu mereka mengumpulkan beberapa buah kerang. Setelah beberapa menit sibuk menunduk mencari kerang di daerah dangkal aku dan teman-teman yang lain akhhirnya asyik main air dan berfoto. (jelas aku yang paling eksis. Maklum baterai hapeku jauh lebih banyak sisa cadangan energinya).
Ketika waktu menunjukkan jam 5 lebih, kami akhirnya memutuskan mengakhiri wisata kami di pantai itu dan melanjutkannya dengan wisata yang tidak kalah hebohnya. Setelah shalat ashar di salah satu masjid, kami langsung mendatangi pasar (bisa disebut pasar malam sih, karena bukanya setelah jam 5 sore) untuk berbelanja. Salah satu hal yang terkenal dari Pare-pare selain pantainya adalah adanya pasar yang menjual barang-barang import dengan harga murah. Kami kemudian menghabiskan waktu hampir 2 jam di pasar itu. Aku berhasil mendapatkan 2 buah tas cantik dengan modal 40ribu rupiah. (he..he..thanks to k’hera yang membantu saya menawar).
Selepas itu kami segera makan malam karena kami tidak ingin tiba terlalu malam di Makassar. Waktu sudah menunjukkan jam 7 malam saat aku menghempaskan pantat di salah satu kursi pelastik di pinggir pantai. Malam itu kami menyadari bahwa kami menghabiskan malam minggu di Pare-pare. Kami kemudia menyambut heboh kondisi itu. “Jauh-jauh bermalam minggu di Pare-pare. Hebatnya! Ha..ha..”..akhirnya pada saat bulan telah bersembunyi (karena ternyata saat itu adalah bulan mati bukan new moon seperti yang kami duga), dan jam menunjukkan pukul 8, kami kembali naik ke mobil dan bertolak menuju Makassar.
Yah, hari itu menjadi wisata yang cukup lengkap. Mulai dari agro wisata (meski gagal total *-*), wisata bahari hingga wisata belanja telah kami lewati. Ini moment yang indah karena dilewati bersama. Semoga tidak menjadi wisata terakhir bersama awak SPORA meski kini aku tidak lagi menjadi bagian dari SPORA. Jadi teringat sebuah kalimat tentang kebahagiaan saya lupa siapa yang menuliskannya bahwa “kebahagiaan tidaklah menjadi sesuatu yang membahagiaakan jika kita tidak punya siapa pun untuk diajak berbagi”

1 komentar:

  1. Tulisannya berkembang pesat a...
    beda wkt bljr dl...

    ada tips nc a:
    - untuk membuat lbh menarik, tambah donk komentar org yg ada di sekitar km

    - buat alur cerita a

    - setiap segmen lbh dideskripsikan a biar hidup, contoh saat km bertemu dgn anak2 pengumpul kerang gt...

    so, hebat a dah berkembang... mendingan jd penulis aj..

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)