Langsung ke konten utama

..cerita perjalanan @ Pare-pare..Part 1 Taman wisata Jompie yang terlupa namun terekspos




Atas permintaan dari teman-teman seperjalanan, aku merasa perlu untuk menulis tentang Taman Wisata Jompie  di Pare-pare secara terpisah dari kisah perjalan di Pare-pare. Ada sebuah alasan atas permintaan tersebut. Ini karena KAMI TELAH TERTIPU oleh media.

Keberangkatan kami ke Pare-pare dalam rangka perjalanan bersama dari staf SPORA (sebuah lembaga kursus bahasa Inggris kedokteran) sebenarnya menjadikan Taman Wisata Jompie sebagai tujuan utama. Dengan penuh semangat dan keceriaan, rombongan kecil kami menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam. Perjalanan dari Makassar hingga Pare-Pare diwarnai berbagai perbincangan menarik, mulai dari kondisi jalanan sebagai implikasi dari tidak terpilihnya Jusuf Kalla sebagai presiden (ini adalah pemikiran pribadiku yang ikut kucetuskan dalam pembicaraan itu..he..he..maklum penggemar JK..(^_^)v) hingga pembicaraan tentang kondisi pendidikan negeri ini.

gerbang kedua
Selama perjalanan kami cukup penasaran tentang kondisi Taman Wisata Jompie, karena menurut pencetus ide ini –K’ilo – menyatakan bahwa dari berita yang ia tonton digambarkan bahwa Taman Wisata Jompie ini adalah “Kebun Raya Bogor”nya kota Pare-Pare. Dengan semangat itulah kami semua turun dari mobil ketika sampai di pintu gerbang taman wisata tersebut. Namun pemandangan yang menyambut kami mulai terlihat ganjil.

kolam yang menghijau
Ketika melangkah ke pintu gerbang Taman Wisata Jompie dengan beberapa gundukan tangga, kami berharap (lebih tepat menyangka) bahwa kami akan ditagih uang tiket masuk. Namun ternyata tidak ada pungutan apa pun. Kami kemudian tersenyum melihat kolam renang yang cukup besar yang terletak beberapa langkah dari gerbang. Celetukan pun muncul, “Wah, mau ka berenang deh”, “Aduh lupa ka bawa baju ganti”. Namun senyum itupun memudar, langkah kami melambat, dan celetukan terhenti. Semua bertanya-tanya, “Ih kenapa kolamnya hijau?”, “Ndak terawat!”.

tak terurus
Kami segera melewati kolam renang tersebut dan kambali menjejak pada gundukan tangga yang terlalu tinggi, hingga mempersulit langkah kami karena yang dilakukan bukanlah melangkah melainkan memanjat tangga(serius..tangganya ketinggian..tapi kemudian kami meyadari ada jalur pejalanan kaki yang agak memutar dengan tangga yang normal..he..he..). Ketika melewati gerbang kedua taman wisata tersebut, kami disambut oleh tempat pembiakan tanaman yang tidak terurus. Banyak pot-pot bekas yang tergeletak begitu saja tanpa ada isinya.

Ketika melanjutkan langkah dan menaiki satu demi satu anak tangga, semakin terlihatlah bahwa taman wisata Jompie ini sudah lama tidak terurus. Daun-daun yang kekuningan dan mengering menggunung dan menutupi tanah dan undukan tangga. Bunyi gemerisik daun-daun kering tersebut mengikuti langkah kami. Kami bagaikan tersesat ke dalam sebuah hutan yang tak bernyawa. Selanjutnya kami terus melangkah sambil saling melemparkan godaan yang berisi cerita-cerita menakutkan yang terinspirasi oleh film-film horor da thriller yang pernah di nonton.

sungai yang mengering..
Banyak tempat-tempat duduk yang selayaknya enak menjadi tempat untuk bercengkrama dan beristirahat sambil mendengar nyanyian alam dan menikmati lukisan Tuhan berupa alam yang indah. Namun tempat-tempat tersebut sudah tampak berlumut, kotor dan ditutupi oleh dedaunan yang kering. Sungai di taman wisata tersebut pun telah mengering. Di beberapa tempat nampak bekas daun-daun yang terbakar entah dengan tujuan apa.

Pada akhirnya kami pulang dengan perasaan kecewa. Tempat yang menjadi tujuan utama dari perjalanan kami ternyata adalah sebuah kebohongan publik. Kami jadi bertanya-tanya, rekaman yang diputar oleh stasiun berita itu rekamanan tahun berapa? Kenapa tidak tampak sedikitpun kejayaan dari taman wisata tersebut?

Dan tahukah anda, hal yang sangat konyol kemudian terjadi. Salah satu koran lokal di wilayah Makassar malah mengangkat berita tentang taman wisata ini. aku jadi bertanya-tanya, “Apakah taman wisata yang aku datangi berbeda dengan taman wisata yang telah diliput oleh media?”..hm aku rasa tidak mungkin, karena di jalan ada penunjuk arah ke taman wisata tersbeut. Dan ketika kami mengikuti arah yang benar, kenapa pemandangan yang kami terima tampak berbeda??

Semoga ada orang lain yang mau share terkait dengan pemberitaan ini. Adakah di antara pembaca ada yang baru-baru ini menjejakkan kaki di taman wisata tersebut? Kalau iya, tolong bantu saya membuktikan kenyataan yang aku tulis ini tentang kondisi Taman Wisata Jompie.

P.S: ini adalah link pemda pare-pare. Sayang perawatan taman wisata ini hanya menjadi wacana. Begitu mendapat penghargaan berhenti dikelola dan dikembangkan.
http://bappeda-parepare.info/index.php?option=com_content&view=article&id=124:promosikan-potensi-parepare-pemkot-tour-jurnalisme-ke-jompie-&catid=40:berita-bappeda

Komentar

  1. keren gaya menulisnya, kontennya juga...tetaplah bercerita.... :)

    BalasHapus
  2. Tragis banget yah???? Saya cuma berharap taman itu dibenahi.

    BalasHapus
  3. sebagai orang pare / jompie sya ada cerita dulu memang wisata jompie adalah kebun raya bogor pare2..tapi sejak pemerintahannya yg memegang kendali jadi tidak terawat lagi...
    kami sebagai warga justru tersisihkan..kami mau hutan kami di kembalikan ke warga jompie...airnya gak hijau justru jernih banget..itu hanya pantuln warnah daun yg ada di sekelilingnya...

    BalasHapus
  4. trimakasih untuk komentarnya..
    memang taman itu punya potensi yang bagus kok..warna hijau di kolamnya mungkin karena lumut..
    tapi sayangnya sungai di taman itu sudah mengering..

    BalasHapus
  5. taman yang perlu perawatan,,
    agar banyak yang mengunjungi tak tidak memberikan kekecewaan lagi para pengunjung,,
    agar lebih dijaga dan dirawat pemerintah daerah,,

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…