Selasa, 17 Mei 2011

..perpustakaan dan membaca..pasangan yang terpisah??


Untuk malam ini aku sempat kehilangan ide untuk menulis.
terlintas dalam benak pertanyaan “Malam ini aku menulis tentang apa?”.
apa hanya sekedar menulis curahan hati..atau berbagi tentag banyak hal yang memenuhi isi kepalaku.
Akhirnya ketika lapotop ini sedang start up, aku meraih buku dari DATUK ke SAKURA EMAS, buku yang baru saja kubeli malam ini dengan subsidi dari papaku. (^_^)
pada kata pengantar buku ini diceritakan alasan yang melatarbelakangi lahirnya bunga rampai cerita pendek tersebut. 

Ternyata  buku ini lahir dari keprihatinan atas kesulitan ekonomi yang dialami Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin(PDS) akibat kian berkurangnya bantuan dana operasional dari pemerintah.
Sebuah kegagalan yang sangat fatal menurutku. Perpustakaan yang sekaliber PDS saja tidak diperhatikan oleh pemerintah apatah lagi perpustakaan-perpustakaan yang berada dipelosok-pelosok negeri.  Hal ini merupakan kondisi yang sangat patut disesalkan. Perpustakaan adalah tempat utama untuk menemukan buku-buku untuk dibaca, dengan membaca maka akan memperluas wawasan, menajamkan pikiran sehingga kecerdasan dan kemampuan seseorang bisa meningkat.

Pemerintah khususnya pemerintah Makassar mencanangkan program makassar gemar membaca. Pemerintah juga setiap tahunnya mengupayakan agar jumlah buta aksara meningkat dan kualitas SDM kian membaik. Namun kondisi ini akan sulit terjadi jika masalah sepenting ini masih terus dinomorduakan.
Seharusnya pemerintah memperhatikan sarana publik yang satu ini. Perpustakaan bukanlah dominasi kaum pelajar, dan intelektual. Namun perpustakaan menjadi kebutuhan masyarakat. Perpustakaan selayaknya mampu menjadi jawaban atas informasi-informasi lengkap mengenai banyak hal di dunia bagi masyarakat. Selain itu, perpustakaan menjadi tempat bagi mereka yang kurang mampu untuk memperoleh ilmu yang lebih banyak dengan membaca sebanyak-banyaknya diperpustakaan umum yang dikelola oleh negara.
Sebuah ide terbesit oleh saya, bagaimana kalo Perpustakaan yang dikelola oleh pemerintah menjadi salah satu pihak yang menyediakan pendidikan gratis bagi anak-anak jalanan. Mungkin dengan membuka program belajar membaca pada hari-hari tertentu. Membuka kelas-kelas bahasa Inggris, matematika dan lain-lain, agar pendidikan luar sekolah semacam ini tidak menjadi dominasi mereka yang  mampu dibawah bimbingan lembaga-lembaga kursus komersil. Selain meningkatkan kecerdasan bangsa juga akan mampu membantu upaya mengurangi angka kriminalitas di kalangan anak jalanan. Selain itu selayaknya sebuah perpustakaan menyediakan sudut atau ruang tertentu sebagai ruang baca anak dan membuat program mendongeng pada hari-hari tertentu sehingga minat baca anak tumbuh sejak kecil.

Ah..masih banyak hal lain yang bisa dieksplor oleh pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui perpustakaan nasional dan daerah milik pemerintah.

Kutipan dari kata pengantar buku dari DATUK ke SAKURA EMAS : ”.. sumbangan terbesar untuk perpustakaan tetap saja: rajin membaca dan mengunjungi perpustakaan, sekaligus itulah cara terbaik untuk melestarikan buku dan perpustakaan.”

2 komentar:

  1. bagaimana mw dikembangkan perpustakaan yg besar,..yg kecil saja sepi penggunjung,..tingkatkan dulku minat baca,..kebutuhan akan perpus juga ndak terlalu mendesak,,yg lebih mendesak adalah isi perut

    BalasHapus
  2. meningkatkan minat baca bisa melalui mengembangkan perpustakaan..jangan mi perpustakaan kecil..perpustakaan besar saja dulu..
    perut memang penting..tapi punya pengetahuan juga penting biar gak dieksploitasi seenaknya oleh orang yang merasa dirinya lebih pintar dari orang lain..

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)