Minggu, 06 November 2011

..puisi..


Rewind - memundurkan waktu
Menatap langit berawan seraya memikirkanmu, aku dan kita..

Masih teringat olehQ pada saat langit berawan Q menatapmu untuk pertama kali..

Saat tanah bantimurung basah oleh rintik langit itulah saat pertama kali Q memutuskan untuk blajar b'bagi beban denganmu..

Saat langit gelap dipergantian senja mengintip dibalik dahan pohon tanganmu menggenggam tanganQ dan menemaniQ melangkah.

Di bawah langit hujan pula kita berpisah dengan hati yg terluka krn kenangan masa laluQ.

Hujan kembali menemani kita saat kemanjaanQ membuatmu harus menyapaku disalah satu sisi gunung dengan jalan yg berbatu.

Kemudian disaksian oleh gelombang yang menyapa pantai, pertama kalinya aku memintamu menempatkanku sebagai bagaian masa depanmu.

Dan hujan kembali mengujiku dalam usaha untuk mengukir senyum diwajahmu pada hari bahagiamu. Kehadirannya memaksaku menggigil kedingin untuk menemukan sebatang lilin berbentuk angka 1.

Kemudian baru kusadari, hujan pun mengintip cerita "break" yang menjadi keputusan sepihakmu.

Kini, hujan pun menemaniQ..saat memikirkan tentangmu, sikapmu, hubungan ini..banyak hal yang berubah..diriku berubah, dirimu berubah..namun satu yang tidak berubah, bahwa aku selalu mencintaimu bahkan marahQ pun hadir karena rasa cinta padamu..

-sebuah puisi lama ketika hujan menghambat aktivitas namun mendukung imaji-

Senin, 31 Oktober 2011

..ngubek-ngubek tulisan lama..(part 2??)


Aku berjalan sendirian..lupa kemana aku ingin pergi..
Kehilangan tujuan dan pegangan di pertengahan jalan..
Aku memandang berkeliling berusaha menemukan tempat yang mampu menenangkan kegundahanku dan menjadi tempatku berteduh dari hujan yang mulai menitik  tanah..
Di tengah kegundahan itu aku terus berharap melihat sebuah wajah..
Wajah yang mampu memberiku ketentraman, kenyaman dan sekedar asa untuk tetap berjuang..
Namun aku tak tahu wajah siapa yang harus kupandang..
Wajah siapa yang aku cari..
Karena aku tahu..AKU SENDIRI..
Tak ada lagi yang mampu kujadikan kawan, sahabat dan tempat berbagi..
Tiba-tiba kesadaran menghantamku..
Ternyata cinta itu ada di sana..padanya yang tak mampu lagi ku raih..
Padanya yang telah kusia-siakan..
Padanya yang terus menanti hingga waktu  tak lagi memberinya sisa hari..

14-09-2009

..you and I..(part 2??)


Tepat satu setengah tahun yang lalu aku memilih untuk membiarkan seseorang ada di sampingku untuk berbagi banyak hal bersama. Meski awalnya keraguan menggelayutiku, namun pada akhirnya aku hanya berfikir akan membiarkannya mengalir seperti air. Arus yang membawaku benar-benar lembut. Hingga akhirnya kami menjadi saling terbiasa satu sama lain.
Aku terbiasa mengisahkan semua hal yang kutemui. Warna hariku terasa buram tanpa membaginya dengannya. Setiap kekesalanku kutumpahkan dan kutuangkan sederas-derasnya padanya saat kami bertemu. Dan dia dengan sikap cuek dan nampak tidak peduli dan terkesan tidak serius ternyata tetap menyediakan sekantong besar ruang untuk menampung semuanya. Aku yang selalu cemberut dibuatnya pada akhirnya hanya bisa tersenyum dan tertawa menyadari sikapnya yang tidak ingin memamerkan perasaanya di depan umum.
Dia adalah orang yang ketika kepalaku terhantuk sesuatu akan segera mengusapnya dan berkata, “Ah gak sakit kok! Iya kan tidak sakit?”. Mungkin kesannya dia tidak peduli, tapi aku tahu itu karena ia ingin aku segera melupakan rasa sakit itu. Dia juga adalah orang yang ketika aku mengeluh bahwa demam menyerangku akan segera menceramahiku dengan berkata, “Ada orang yang kemarin minum juice dingin padahal sudah tau lagi flu,” atau berkata “Memangnya semalam tidur jam berapa? Begadang lagi ya?”. Mungkin kesannya menghakimi, namun disetiap akhir telepon atau sms kami dia akan sibuk memaksaku untuk tidur lebih awal dan makan teratur serta makan sebanyak mungkin. (^_^) Dan aku paham sikapnya seperti itu sebagai teguran bagiku yang suka tidak peduli pada kesehatanku sendiri.
Dia adalah orang yang ketika kami jauh dan aku berkata aku sendirian di rumah akan bersedia memasrahkan telinganya menjadi panas untuk menemaniku hingga aku tidak sendirian atau hingga aku akan terlelap. Meski terkadang selama obrolan dia akan selalu berusaha membuatku cemberut atau marah. Namun aku mulai paham bahwa itu adalah cara dia untuk melihat senyumku yang akan merekah setelah cemberut sesaat padanya. Dan jika bahan obrolan kami habis maka kami akan memperdebatkan hal-hal yang kami tidak sepaham. Dan selalu dengan sukses membuat saya kesal dengan kengototannya menjadi pihak yang benar. Tapi, aku menikmati perdebatan itu. Karena itu menjadi salah satu warna dalam komunikasi kami.
Dan kini meskipun hal itu telah berubah dan kian memudar. Tergantikan oleh hal-hal yang membuat kisah kami kian sulit dijalani. Namun aku hanya terus berharap semoga moment itu akan kembali dan menjadi kian indah dalam bingkai kehalalan dariNya..insyaAllah..

Selasa, 20 September 2011

..pulang & rumah..

hei, katika kita berkata "saya akan pulang ke rumah" maka kita cenderung memaknakannya dengan melangkah ke tempat kita tinggal, tidur, dan berdomisili dalam jangka waktu yang lama. Rumah cenderung kita definisikan sebagai sebuah tempat kita bernaung dari panas dan hujan, tempat kita untuk beristirahat dalam wujud sebuah bangunan.

namun ada hal yang menarik yang akhirnya kupahami dari apa yang selama ini aku nonton dan baca.
orang Jepang menggunakan kata "tadaima" ketika sampai di rumah dan orang di rumah menyambutnya denga kata "okaeri nasai"..di beberapa komik dan film yang aku baca, kata "tadaima" ini diucapkan oleh seseorang tidak hanya ketika mereka baru tiba di tempat tingga yang lazim kita sebut rumah, melainkan kadang digunakan oleh orang yang telah lama berada di luar negeri atau kampung halamannya dan kemudian ketika bertemu kembali dengan orang yang menyambutnya di negeri atau kampung halamannya, maka ia akan berkata "tadaima" meskipun saat itu mereka tidak berada dalam sebuah tempat tinggal.

hingga kemudian aku akhirnya menyadari bahwa terkadang kata "tadaima" ini mereka ucapkan ketika bertemu dengan seseorang yang berarti dalam hidup mereka setelah sekian lama tak bertemu. (maaf jika ini mengingatkan anda pada beberapa adegan tipikal di komik atau drama Jepang..tapi memang begitulah adanya). ini berarti bahwa rumah yang dimaknakan sesungguhnya tidak hanya dalam wujud materi atau berbentuk sebuah bangunan. Rumah disini pun dapat berarti tempat bagi hati kita untuk pulang. Tempat dimana ada orang-orang yang kita kasihi berada.

Hm..hal ini terasa sekali saat aku berada di tanah rantau..selama ini aku bingung tentang tempat seperti apa yang layak disebut rumah. Cukupkah kriteria bahwa tempat itu kita diami selama jangka waktu yang lama?? Apa cukup jika dikatakan tempat dimana sebuah keluarga ini yang terdiri dari ayah, ibu, saudara yang berkumpul (meski kadang tidak lengkap)? Ataukah rumah adalah tempat bagi kita untuk merasakan bahwa "disinilah aku ingin kembali"?

Sangat terasa bagiku, bahwa kebahagiaan tidak akan sempurna tanpa ada rumah untuk pulang. Meski pun di Bandung aku memiliki kediaman yang sederhana, namun tempat itu tetap saja tak dapat kusebut rumah dengan sepenuh hati. Karena di tempat ini tidak ada orang yang kujadikan tempat untuk berbahagia dan ksedihan. Tempat ini tidak membawa hatiku pulang, tidak menjadi tempat bagi hati dan perasaanku untuk beristirahat.

Huft, merindukan "rumah" bagi hatiku..semoga bisa menemukan sebuah rumah kecil nan menenangkan di Bandung ini. Meski pada kenyataannya ada atau tidak rumah itu, maka Makassar akan tetap menjadi rujukan bagiku saat mengatakan "pulang".

*keluh-kesah dari orang yang tak pernah pergi jauh dari rumah dalam jangka waktu yang lama.
namun pengalaman ini mengajarkan saya untuk selalu bersyukur dan menikmati setiap detik kebersamaan yang kumiliki dengan orang-orang yang kusayangi*

Sabtu, 17 September 2011

..kalimat dari “dia”..



Moshi-moshi..
Untuk memenuhi janji yang terlanjur dibuat..aku ingin memberikan penjelasan (atau malah mengisahkan) tentang sebuah statement yang sempat aku posting di Facebook milikku.

“seseorang memintaQ untuk melupaknnya tapi menyimpan ia di hatiQ”

Itu isi postinganku. Mungkin ada yang menganggap bahwa kalimat ini lucu, tidak jelas, atau bahkan tidak bermakna. Namun ini adalah kalimat yang membuatku terdiam dan berfikir saat mendengarkannya.
Aku tidak bisa menjelaskan sejumlah fakta yang melatarbelakangi pembicaraan kami karena alasan privasi. Namun aku berharap hal itu tidak akan mengurangi apa makna dari kalimat ini. Semoga.. namun satu fakta yang jelas bahwa hubungan kami cukup spesial (nggak pake telor)..he..he..
/(^_^)\v

Kami sedang terlibat pembicaraan tentang komunikasi yang menjadi bagian dari rutinitas kami yang sangat sulit untuk kuubah. Rasanya hampir semua hal menarik yang kualami dalam hari-hari yang kulewati selalu kuceritakan padanya lewat pesan singkat. Dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir ini, hubungan kami mengalami perubahan yang membuat pola komunikasi kami berubah. Dan harus kuakui dia bukanlah orang yang romantis bahkan dia lebih layak digolongkan sebagai orang yang cuek.
Namun karena dalam kurun waktu yang cukup lama aku terbiasa untuk menceritakan apa yang kurasakan dan kualami padanya, maka butuh usaha ekstra keras untuk mengubahnya. Terutama karena aku kini berada di kota dan lingkungan yang berbeda dari sebelumnya sehingga banyak hal menarik yang kualami dan ingin kubagi dengannya.

Ia kemudian berkata padaku (dengan beberapa perubahan dan penyesuaian karena dia menggunakan logat bahasa yang akan sulit dimengerti oleh sebagia besar pembaca), “Lupakan aku. Jangan terlalu sering mengingatku. Fokuslah belajar di sana, karena kamu kesana untuk sekolah. Cukup simpan aku dihatimu, itu kalimatnya yang kemudian kubantah. Memangnya bisa melupakan sesuatu namun menyimpannya dalam hati?”

“Bisa. Itu sama seperti keimanan. Dia tidak disimpan di kepala tapi di hati. Ia bisa saja kita lupakan, namun ketika ada sesuatu yang salah, maka hati akan membisikkanya. Ia akan memberi tahu bahwa ada sesuatu di dalam hati kita yang tidak menyukainya. Jika perasaan yang sekarang kamu simpan di dalam otak, maka kamu akan berusaha mengakalinya. Ketika tertarik pada seseorang kamu akan berkata, ‘ah, kan cuma untuk berteman. Jalan-jalan berdua boleh-boleh saja,’ namun ketika kamu menyimpannya di dalam hati maka hatimu akan membisikkan, ‘ini salah. Tidak boleh begini’. Tanpa perlu ada alasan karena hatimu bisa memahaminya’” penjelasannya membuatku terdiam. Sejak ia berucap “ini seperti keimanan,” kalimat itu telah membiusku dan mulai melahirkan pemahaman di hatiku.

Yah makna kalimat ini dalam. Dia memintaku untuk mengabaikannya agar waktu yang kugunakan untuk mengingat dan menghubunginya dapat kumanfaatkan untuk mengerjakan hal lain yang lebih penting untuk masa depanku. Namun, dengan menyimpan dia dihatiku, maka di saat yang sama aku akan menetapkan pagar untuk diriku sendiri agar terus menjaga hati itu. Agar ketika tiba saatnya godaan mengalihkanku maka hatiku akan mengingatkanku.

Yah sesederhana itulah maknanya. Namun aku paham apa yang dituntut dari kalimat itu.
Dan aku mulai memahami sikapnya dan menyadari bahwa dia memang cuek padaku dan sering kali terlalu sibuk dengan hal lain hingga melupakanku, namun aku kemudian menyadari bahwa aku telah disimpan di dalam hatinya karena itulah dia selalu bisa memaafkan setiap keegoisan dan kata-kataku yang menyakitkan. Dia bisa tetap peduli dan mendengarkan ketika aku sedang benar-benar butuh untuk berbagi. Karena aku disimpan di hati, maka ketika aku kembali egois dan tenggelam dengan kemaraham dia tetap saja mengirimiku pesan singkat, “bagaimana kabar mu?”. Karena dia tidak marah atas sikapku melainkan memaafkanku.
*semoga pembaca paham..
Karena kusadari bahwa yang paling bisa memahami apa yang ingin kutuliskan adalah diriku sendiri*
(^_^)v

Kamis, 15 September 2011

..kimi ni kotode..


Ho..ho..postingan kali ini menyangkut jiwa romantis manusia landak..
(^_^)v
halah..mau berjiwa landak apa bukan, cewek tuh cenderung jadi romantis kalo suka baca komik cewek dan nonton film drama..he..he..

Oiya, film yang aku tonton ini adalah sebuah film Jepang dengan tokoh utama bernama Sawako Kuronuma. Sawako tumbuh menjadi seorang anak yang cukup pasif namun senang jika bisa bermanfaat dan melakukan kebaikan untuk orang lain. Namun akibat film horor Jepang dengan tokoh hantunya bernama “Sadako” membuat, Sawako dipanggil Sadako mengingat kehadirannya yang cenderung invisible di sekitar teman-temannya. Selain itu rambut panjang yang menutupi wajah dan wajah yang selalu menunduk serta suara kecil dan cenderung diam, membuat image Sawako sebagai seorang “Sadako” semakin menguat. Kondisi ini membuat Sawako tidak bisa memiliki teman, karena orang-orang disekitarnya langsung ketakutan saat melihatnya.

Kemudian ia bertemu dengan Shota Kazehaya di hari pertama masuk sekolah menengah atas. Di hari itu, sakura berguguran, dan salah satu kelopak sakura yang jatuh di atas rambut Sawako dan diambilkan oleh Shota. Bentuk kelopak itu unik yakni berbentuk hati. (ho..ho..khas kisah romantis..ada-ada aja) setelah itu film tersebut berkisah tentang bagaimana akhirnya Sawako mulai berani untuk memiliki teman dan menyampaikan apa yang dirasakannya. Hingga akhirnya menyadari dan memperjuangkan perasaannya.
Satu hal yang kusukai dari kisah ini adalah tentang Kazehaya-kun yang ternyata telah menyukai Sawako sejak pertama bertemu dan kemudian selalu memperhatikan Sawako yang melakukan berbagai kebaikan kecil yang tak disadari oleh orang lain. Kazehaya-kun yang kemudian menjaga Sawako diam-diam membuatku suka. (aku cenderung menyukai tokoh cowok yang menyukai seorang cewek dan selalu menjaganya diam-diam. Dimana tokoh ceweknya bahkan tidak menyadari bahwa sang cowok selalu ada disisinya saat dia tengah bersedih, bingung, dan ada masalah). Pengen deh punya seseorang yang seperti itu..he..he..
(^_^)v


Mungkin ceritanya standar..namun acting pemainnya bagus. .dan cukup romantis..tapi nggak terlalu jauh dari realitas karena tidak ada tentang kesenjangan status sosial dan lain-lain.. kisah ini mengambil setting kehidupan sekolah sehingga lebih terasa real.

..menyapa kembali impian..


Menjadi penulis adalah mengungkapkan sesutau yang baru kepada orang lain.
Perjuangan hidup yang sebenarnya adalah bukan bertarung degan orang lain melainkan bertarung mealawan nasib burukmu sendiri..

Bukan hidup jika ku berhenti hari ini..
Tak ada artinya impian jika hidup tak lagi memperjuangkannya..
Tak mudah membakar semangat juang untuk menyapa mimpiku

Kalimat di atas kutemukan sebagai sebuah tulisan yang tidak selesai di laptopku. Dari tanggal pembuatannya karya ini adalah karya yang kubuat pada bulan Maret 2010 lalu. Waktu yang sangat lama. Aku ingat bahwa ditahun yang sama aku sedang belajar untuk mebulatkan tekad kembali untuk menjadi penulis. Namun sayangnya hingga kini aku tidak kunjung menghasilkan satu karya baru. Karya yang sempat termuat dalam sebuah majalah (yang kini majalah itu sudah tidak eksis lagi) pada tahun 2010 adalah karya lama yang kuedit ulang.

Entah mengapa hingga kini aku tidak lagi mempu menulis sesemangat dulu. Sesemangat ketika kau tidak memiliki sarana dan prasarana  yang memadai dan bahkan mendapat tentangan dari ibundaku. Aku rasa ini memang sering menjadi habbit manusia, bahwa perjuangan yang dilakukan dengan sekuat tenaga akan mampu menghasilkan sesutau sedangkan ketika tantangan untuk perjuangan itu telah menghilang maka semangat pun menjadi surut.


Wah, kebisaaan yang buruk yang harus dibuang sejauh mungkin nih.
aku merasa bahwa aku harus belajar kepada diriku di masa lalu. Entah bagaimana dia selalu mampu untuk terus menulis dan tidak pernah memikirkan tentang seberapa baika atu buruknya tulisan itu, dia hanya terus menikmati kegiatan menulisnya. Banyak hal yang perlu kupelajari dari sosok Atria masa lalu. Dan mungkin sebagian besar yang mengenal sosok itu pun akan berkata bahwa mereka setuju dengan hal ini.
Ok. Untuk hari ini cukup deh..

sebaiknya aku kembali berjuang untuk meraih mimpi menjadi penulis. mungkin tidak akan pernah mudah dan tidak akan menjadi lebih mudah terutama jika tantangannya datang dari diri sendiri. Tapi tidak boleh ada kata berhenti. karena jika aku berhenti sekarang, aku nggak akan pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan. (ada gunanya juga nonton anime dan drama. banyak kalimat yang tanpa sadar akan mampu menginspirasi hidup kita /(^_^)\)
*terima kasih sudah membaca postingan ini*
(^_^)

Rabu, 14 September 2011

..mereka bukan anakku..


Buku ini berkisah tentang usaha Torey Hayden untuk membantu anak-anak yang menderita autisme..membuat mereka siap menghadapi dunia dan memperlihatkan bahwa impian dan kenyataan tidak selalu sama..

Dalam buku ini diceritakan bagaimana Torey menghadapi Lori,seorang gadis yang  mengalami gangguan otak akibat penganiayaan yang dilakukan oleh orang tuanya yang akhirnya membuat luka di otaknya yang membuat ia tidak mampu membaca dan berhitung serta mengenali symbol.

Torey juga harus menghadapi Boo, seorang anak yang memang mengalami keterbelakangan mental yang membuat Boo sibuk dengan dunia khayalnya sehingga tak menyadari lingkungan sekitarnya dan membuat ia tak mampu diajak berkomunikasi.

Torey harus menghadapi Tomaso yang menderita rasa takut yang ditamengi oleh perilaku kasar akibat harus melihat ayah dan kakaknya di tembak mati oleh ibu tirinya.

Torey pun harus mengjadapi Claudia, gadis yang hamil di usia 12 tahun dan tidak siap menjalani itu semua…

Quote fav.Q:
-          “Nggak ada yang betul-betul sempurna. Tapi di dalam kita, kita bisa melihat semua itu sempurna, asal kita mau mencoba. Karena itu aku bisa melihat semuanya bagus.” –inilah yang dikatakan Lori pada Torey-.
-          “Manusia itu seperti umbi bunga bakung. Yang bisa kita perbuat Cuma memberikan tempat agar manusia bisa tumuh. Tapi setiap manusia bertanggung jawab atas pertumbuhannya sendiri, pada waktunya sendiri-sendiri. Kalau kita ikut-ikutan campur tangan, kita Cuma akan merusak”

SO,JANGAN PAKSA IA MEKAR. BIARKAN IA TUMBUH DAN MEKAR DI WAKTU YANG TEPAT.

Mau tahu yang Q temukan dalam novel ini??

-          Bahwa dunia itu gak adil bagi merekan yang tidak normal..mereka harus mengahadapi ketidaknormalan mereka sekaligus sikap tidak manusiawi dari lingkungan mereka..
-          Bahwa setiap dari kita punya impian dan sisi kekanak-kanakan dan kadang hal itulah yang membuat kita jadi lebih manusiawi.

APA DUNIA YANG DAMAI DAN ADIL ITU HANYA UNTUK ORANG-ORANG YANG NORMAL?

P.S: ini adalah resensi yang kutilis 4tahun lalu dari buku karya Torey Hayden. Buku-buku ini memberiku banyak pelajaran tentang dunia autisme dan dunia yang berbeda dariku. Buku-buku ini jugalah yang menyebabkan saya tidak menyukai canda kawan-kawan saya yang sering menggunakan "autis" sebagai lebel bagi mereka yang senang menyendiri dan tampak berbeda..

..mari berkisah..



Saya yakin, semua orang sudah pernah membaca sedikitnya satu buku yang berisi kisah hidup seseorang baik dalam bentuk fiksi ataupun non-fiksi. Kemudian setelah membacanya, kita semua akan berfikir dari sudut pandang kita masing-masing dan menemukan sesuatu dari kisah tersebut. Kemudian tidak sedikit juga dari kisah-kisah itu yang membuat kita berujar “betapa mengharukannya kisah ini”,  “betapa menyenangkan hidupnya”, “betapa menyedihkan jalan menuju kebahagiaan”, dan entah komentar apapun yang membuat kita merasa bahwa kisah kita tidak seperti kisah itu.
Namun aku yakin, sebenarnya setiap orang memiliki kisahnya sendiri yang jika dituliskan menjadi beberapa BAB dengan intensitas emosi yang bervariasi. Ada kalanya kisah di BAB pertama menjadi kisah yang menarik jika memiliki sisi emosional tersendiri (dan sesungguhnya setiap BAB pertama kehidupan seseorang memiliki sisi emosional terutama jika yang menuliskan kisah tersebut adalah ibu dan atau ayah dari pemilik kisah) namun ada pula yang menganggap bahwa BAB pertama kehidupannya biasa saja.
Biasanya, BAB yang paling banyak menyimpan kisah dan kutipan-kutipan pelajaran yang menarik adalah BAB Usia Remaja. Karena setiap paragrafnya akan mengungkapkan gairah-gairah masa muda yang tertarik pada hal-hal baru dan menarik dalam hidupnya. Mulai dari kisah persahabatan pertama, jatuh suka untuk pertama kali, patah hati pertama, hingga kisah-kisah lain yang membuat kita menemukan banyak ibrah (pelajaran) kehidupan. Dan intensitas emosi dan kemenarikan setiap buku kehidupan dalam BAB ini berbeda-beda. Namun setiap kisah pasti memiliki titik klimaks untuk yang terjadi di usia ini.

Kemudian untuk cerita dalam BAB Kedewasaan akan labih banyak berkisah pengalaman-pengalam dalam menghadapi tantangan hidup. Menceritakan tentang pergolakan batin, kekuatan keyakinan, jatuh dan bangun dalam menghadapi berbagai problematika hidup serta banyak hal lain yang mengisi diri dan karakter kita dengan nilai-nilai positif atau pun negatif. BAB Kedewasaan ini biasanya menceritakan titik balik dan kesadaran tertentu dari seseorang dalam hidup yang mungkin mengubah hidupnya secara permanen. Namun, sekali lagi, setiap buku kehidupan memiliki kisah-kisah “khas”nya sendiri.



Maka cobalah menulis kembali kisah hidup entah di atas sebuah kertas ataukah hanya diatas sebuah buku khayalan yang ada di dalam kepala. Dalam proses penulisan ulang itu, cobalah untuk mensyukuri setiap nikmat dan memohon ampun kepada Allah atas kelalaian kita sebagai seorang hamba Allah dan memohon maaf atas kesalahan kita kepada orang lain, serta berterima kasih kepada orang-orang yang uluran tangannya membantu kita melewati hari-hari yang terasa biasa hingga hari-hari yang terasa amat berat untuk kita lewati.
Dan kemudian kita akan menemukan bahwa kisah hidup kita tidak kalah menarik dan berarti dari apa yang baru saja kita baca.


hm..manusia landak cenderung tidak pintar bergaul dengan orang lain..sehingga menulis dan membaca terkadang menjadi pelarian yang menyenangkan bagi kehidupan mereka..(^_^)
(^_^)

P.S: setiap kali membaca kisah tentang kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup, saya jadi ingin memeluk orang tua dan orang-orang terkasihku dan mengatakan betapa saya menyayanginya agar kelak tidak akan menyesal ketika tiba saatnya kita merasakan kehilangan yang sama. Setiap kali membaca kisah tentang beratnya kehidupan seseorang, maka saya akan menimbanganya dengan hidup saya sendiri, dan ketika (dan hal ini sering terjadi) saya menemukan bahwa kehidupan saya jauh lebih mudah daripada kisah yang baru saja saya baca, maka saya akan bersyukur dan kembali menata hidup yang lebih baik lagi.
sesungguhnya apa yang kita baca akan mempengaruhi kita entah itu dengan lembut atau kuat, namun dia akan tetap memberi sesuatu dalam hidup kita.
Terima kasih telah membaca
(^_^)

Minggu, 04 September 2011

..menulis lagi..


Assalamualaykum..
Hai..hai..sudah lama yah aku tidak menulis di blog ini..
Mari kita hitung, moment apa saja yang sudah terlewati..

Hm..”my graduation”..
huwa akhirnya aku lulus juga..S1 sudah di tangan dan itu berarti waktunya kembali menghadapi realita..
tapi alhamdulillah dengan rezeki dari Allah, aku bisa melanjutkan kuliah ke jenjang S2 di Hub.Internasional UNPAD..

Next, “my survival time at Bandung”..
hm..untuk yang ini aku gagal, karena ditengah bulan Ramadhan, di bulan Agustus tahun ini, aku tumbang dan jatuh sakit. Menyebabkan banyak hal terbengkalai..mulai dari kuliah, hingga puasa dan ibadah selama Ramadhan..

Kemudian ada pula moment “Idul Fitri 1432 H”..
moment ini aku lewati di Makassar bersama seluruh keluarga yang aku cintai. Ada papa, mama dan 4 saudara lelaki. Selain itu, aku bisa kembali berkumpul dengan teman terbaikku Ika Kurniasih dan keluarganya yang bagaikan rumah kedua bagiku. Tempatku melarikan diri saat tidak mampu bertahan dan menghadapi orang lain di manapun.


Terakhir adalah “The Day when I become 22th years old”..
Tanggal 2 september  22 tahun yang silam, aku lahir bersama berbagai harapan atas sebuah masa depan, meski banyak harapan itu yang tdak menjadi kenyataan. Nama belakangku “Sartika”, merupakan sebuah gambaran atas harapan orang tuaku. Mereka sebenarnya ingin aku menjadi dokter, mengingat nama itu terinspirasi dari sebuah film yang di dalamnya ada tokoh bernama “dokter sartika” yang diperankan oleh Dewi Yull. Namun meski aku tidak bisa memenuhi harapan mereka menjadi seornag dokter, maka aku akan berusaha memenuhi sedikit harapan itu. Mereka ingian aku menjadi seorang yang bermanfaat bagi orang lain menjadi orang yang bisa menolong orang lain. Maka aku pun semakin meneguhkan tekad untuk menjadi seorang dosen, yang dengan ilmu yang aku miliki aku berharap dapat membangun generasi yang kuat dan mampu membangunkan negeri ini dari mimpi buruk yang telah berlangsung selama ini. selain itu, aku pun ingin menjadi penulis, yang kelak akan mampu mempengaruhi orang lain dengan tulisannya.

Yah itulah sedikit gambaran umum tentang banyak hal yang terlewati dalam beberapa bulan ini..
_sekarang saya masih menjadi nobody, tapi saya akan berusaha menjadi somebody yang kelak mampu memberi manfaat bagi orang lain dan bagi agama dan negara saya_

Jumat, 24 Juni 2011

..jalan-jalan ke Sukabumi..


Kali ini postinganku kali ini kembali tentang kegiatan jalan-jalan.
ya maaf..karena entah kenapa sebulan terakhir kegiatanku lebih banyak berkisar tentang jalan-jalan ke berbagai tempat.
kali ini aku berkesempatan menjejakkan kaki di tanah Sukabumi. Ini pun karena saya “numpang” dengan Papaku yang sedang ada rapat kerja di kota itu. Kemudian saya pun akhirnya berfikir dari pada di rumah sendirian karena kakakku juga ada kegiatan akhirnya aku memutuskan untuk ikut serta di mobil papa (tenang..nggak jadi penumpang gelap kok..hanya jadi penumpang yang merepotkan..he..he..)

Saat mendatangi kota Sukabumi aku sama sekali tidak ada pengetahuan tentang apa saja objek wisata yang ada di kota itu (ini kelalaianku secara pribadi *_*). Alhasil saat tiba di kota ini aku jadi bingung harus jalan-jalan kemana. Akhirnya, menurut info yang ada, di Sukabumi tidak ada lokasi wisata selain sebuh Taman Wisata. Karena tidak ada pilihan lain, aku pun akhirnya memilih mendatangi tempat wisata tersebut. Karena aku masih harus menunggu Papaku selesai rapat di kantor barulah kami bisa bertolak kembali menuju Bandung.

Tempat wisatanya bernama Selabintana. Tempat wisata itu merupakan sebuah hotel yang berdiri dikawasan yang cukup luas. Dengan sebagian besar merupakan taman-taman yang sejuk dan menjadi tempat yang enak untuk menjadi tujuan wisata keluarga. Tempat ini cocok untuk kegiatan yang disebut oleh Mamaku dengan nama “pindah makan”. Ya, tempat ini punya sejumlah tanah lapang yang sangat luas dengan suhu dan sejuk namun tetap mendapat sinar matahari. Sangat menyenangkan menikmati makan siang di atas tikar di tengah tanah berumput yang luas. Anak-anak bisa menghabiskan waktu dengan berlarian bahkan sambil bermain-main layang ataupun bermain sepak bola. Yang senang membaca, bisa menikati udara yang bersih dan segar serta suasana yang sejuk sembari menikmati membaca kisah dari lembaran-lembaran buku. Sedang bagi ibu-ibu, mereka bisa sejenak beristirahat dari rutinitas dengan melepas penat dan berbaring menikmati alam yang indah.

Aku yakin, tempat wisata ini pernah berjaya. Hal ini karena disepanjang jalan dari pusat kota Sukabumi menuju taman wisata ini, sejumlah besar hotel nampak berdiri di kiri kanan jalan. Namun itu dulu. Taman wisata ini mulai redup. Bukan karena sudah rusak seperti yang terjadi pada Jompie di Pare-Pare (bagi yang belum baca..silahkan baca catatan perjalananku di Taman Wisata Jompie Pare-Pare). Alam di tempat itu masih hijau. Masih sejuk. Masih indah.

Hanya aku merasa bahwa tempat ini mulai diabaikan. Perawatannya tidak lagi menjadi prioritas. Hal ini nampak dari kondisi lapangan Tennis yang tidak terurus di salah satu bagian taman, walaupun letaknya tidak terlalu mencolok, namun ketika mengelilingi seluruh wilayah taman yang luas itu kita akan melihat lapangan tersebut. Di dekat lapangan Tennis itu nampak sebuah patung wanita yang memegang kendi seoalah tengah menuangkan air. Ketika diperhatikan akan nampak bahwa itu adalah sebuah bekas kolam yang tidak lagi terisi oleh air. Sungguh sangat disayangkan.

Namun satu hal yang patut disyukuri, tempat ini masih tetap indah dan menyenangkan. Angin sepoi-sepoi yangberhembus membuat pengunjung di tempat itu merasa nyaman untuk sekedar duduk dan menikmati bacaan atau menatap alam sekitar. Sebuah kegiatan yang patut dicoba adalah bermaian layang-layang di tempat ini. mengenang keceriaan masa kecil bisa menjadi sebuah pilihan yang pantas untuk merilekskan diri.
Oiya, di tempat ini juga ada kolam renang. Jadi bagi yang punya anak atau senang berenang bisa memanfaat fasilitas ini. Hm..satu hal yang menarik perhatianku di tempat ini adalah kehadiran sebuah pohon besar..entah jenis pohon apa (apa ada yang bisa mengindentifikasinya lewat foto??) unik dan aneh..akarnya melayang dan seolah sejumlah pohon saling menjalin satu sama lain..



Untuk penyendiri seperti sebagian besar sifat Landak, tempat ini adalah tempat yang pantas untuk diperhitungkan untuk mencari kedamaian dan bercengkrama dengan pikiran-pikiran pribadi tentang banyak hal (karena dari yang kupelajari bahwa para landak adalah tipe pemikir dan agak kikuk katika harus berkomunikasi dengan orang lain). Intinya tetap ini cukup bagus. Hanya cukup temukan cara untuk menikmatinya. (^_^)v

Kamis, 23 Juni 2011

..TKI dan permasalahannya..


Assalamualaykum..
sudah lama aku tidak lagi bercerita tentang banyak hal. Sebagian besar kisahku akhir-akhir ini adalah mengenai laporan singkat tentang perjalanan ke berbagai kota. Menulis bukanlah perkara gampang atau tidak tapi tentang perkara melakukannya atau tidak. Dan sejauh ini, menulis untuk blogku tidak menjadi prioritas utama. Alasan-alasannya mungkin akan aku jabarkan nanti, ketika punya waktu dan tidak ada bahan tulisan yang lebih baik.
bukan plakat yg mreka butuhkan tapi kepedulian
Pemberitaan di berbagai media saat ini sedang sibuk berfokus pada satu masalah yang sudah mengalami pasang surut sejak dulu. PERLINDUNGAN TERHADAP TENAGA KERJA INDONESIA bukanlah masalah yang baru timbul, seingatku masalah ini pun merupakan masalah yang sudah sibuk diperbincangkan sejak aku duduk di bangku SMA (pada saat SMA keingintahuanku perihal masalah internasional meningkat dan membuatku tertarik untuk sekedar membaca meski belum mampu menganalisisnya melebihi kecerdasan siswa SMA masa saat ini). Namun pada masa itu yang menjadi pusat perhatian adalah kondisi TKI di Malaysia.
Kini masalahnya masih tetap sama yakni masalah perlindunga  TKI dengan setting-an tempat yang berbeda yakni Arab Saudi. Ruyati binti Satubino, salah seorang TKI Indonesia di Arab Saudi, dihukum mati oleh pemerintah Arab. Hukuman mati tersebut dilakukan selang 4 hari setelah Presiden Republik Indonesia menyampaikan pidatonya pada Konfrensi International Labour Organization (ILO) yang mendapat apresiasi positif oleh peseta konfrensi tersebut.
Pemberitaan ini menuai banyak suara dari masyarakat. Semuanya menyudutkan pemerintah, sayangnya tidak ada yang secara signifikan mengarahkan pemerintah untuk melakukan tindakan lebih lanjut. Ketika memahami masalah ini lebih jauh, secara pribadi pun aku setuju bahwa ini adalah kesalahan pemerintah. Aturan memang telah dibuat namun pelaksanaan dilapangan masih jauh dari layaknya. Namun di lain pihak masalah seperti ini tidak hanya butuh sikap dari pemerintah melainkan kesadaran dari masyarakat terutama mereka yang ingin bekerja sebagai TKI di luar negeri.
Terlebih dahulu kita berbicara mengenaik kewajiban pemerintah atas warganya yang ada di luar negeri apa pun keperluannya. Aturan pembuatan passport dan atau visa merupakan salah satu langkah awal bagi pemerintah untuk memulai perlindungan atas warganya. Orang-orang yang mendaftarkan diri untuk melintasi batas negara lain tentu saja perlu melaporkan diri, maka passport dan visa-lah yag menjadi surat pengantarnya. Tentu saja pendataan bagi warga yang ingin bekerja dengan yang ingin jalan-jalan akan berbeda, bahkan pendataan warga negara yang menjadi TKI sudah selayaknya dibedakan dengan yang bekerja dalam bidang yang lain. Karena kita menyadari kondisi mereka yang jauh lebih rentan terhadap kekerasan dibandingkan warga negara lain yang datang ke luar negeri dengan alasan lain.
Seingatku, aku pernah menghadiri sebuah mata kuliah dari konsulat Indonesia untuk Australia. Pembicara sempat mengingatkan kami bahwa jika datang ke luar negeri sebaiknya segera melaporkan diri 1x24 jam untuk memudahkan pendataan dan perlindungan bagi warga negara yang ada di Australia. Maka kemungkinan besar regulasi yang sama pun seharusnya diberlakukan lebih ketat oleh konsulat ataupun kedutaan besar di negara lain (inilah yang ku katakan sebagai regulasi yang baik tanpa pelaksanaan yang berarti).
Dilain pihak seharusnya saat ini, pemerintah berperan aktif dalam mendata warga negaranya yang tinggal diluar negeri. Karena sesuai dengan ketentuan dalam Konvensi Wina 1963, maka konsuler memiliki peranan untuk melindungi  kepentingan warganya di negera penerima, menolong membantu warga negara pengirim di negara penerima. Dalam ketentuan itu seharusnya pemerintah mampu mendata warga negaranya baik yang masuk secara ilegal maupun legal yang tengah menjalani proses hukum di negara penerima tempat ia bertugas. Secara pribadi kesimpulanku adalah bahwa dari lini bawah yakni konsuler dan kedutaan besar hingga lini atas yakni Presiden menanggung kesalahan yang sama.
Di lain pihak, masyarakat pun memiliki peran dalam memperpanjang jumlah korban TKI yang mengalami penelantaran hingga penganiayaan. Pengalaman di lokasi KKN ku salah satunya menjadi fakta atas pernyataan tersebut. Sangat sulit menumbuhkan kesadaran dari masyarakat mengenai pentingnya menjadi TKI melalui jalur yang legal. Mereka merasa birokrasi pemerintah dalam pengiriman TKI mempersulit. Lebih mudah mendaftar melalui agen-agen PJTKI yang berkeliaran di lingkungan mereka. Bahkan bagi mereka lebih baik mencari kerja di Malaysia dengan menjadi alasan menjenguk sanak keluarga di Malaysia agar bisa melintasi batas. Saat hal ini dilakukan mereka seolah lupa mengenai bahaya yang mengancam mereka di negara tujuan dan nanti ketika meraka mengalami kesulitan mereka akan menuntut pemerintah tidak ingin membantu mereka.
Itu sebabnya untuk menyelesaikan masalah perlindungan TKI ini perlu kerjasama dari kedua belah pihak. Denga mendaftar melalui jalur resmi dan dengan dukung pemerintah, maka perlindungan yang diberikan bisa lebih baik. Selain itu, pemerintah pun harus lebih meningkatkan pelaksanaan regulasi dan pendataan atas warga negaranya di negara penerima TKI. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak. Para mahasiswa yang melakukan KKN di berbagai perkampungan pun sebenarnya mengemban tugas untuk mensosialisasikan regulas legal terkait pengiriman TKI sehingga memperlancar hubungan timbal balik di antara keduanya.

Rabu, 15 Juni 2011

Jalan-jalan@pare-pare..part II ..

Kisah perjalananku dengan teman2 sekerja di SPORA belum berakhir. Meskipuna awal perjalanan wisata kami cukup mengecewakan akibat tertipu oleh media. Tapi kami tetap mumutuskan untuk sebisa mungkin memanfaatkan acara jalan-jalan kami sebaik mungkin. Sama seperti yang pernah aku posting bahwa apa yang kita nikmati dan jalani adalah pilihan kita sendiri. Hal ini pun nampak dari perjalanan kami di Pare-Pare.
Meski pemandangan di taman wisata Jompie tidak berhasil memenuhi imajinasi kami tentang tempat itu. Namun ternyata saat menjelajahi hutan yang tidak terawat itu, kami mendapati bahwa kami berhasil membangun imajinasi yang baru. Teman sekerjaku –k’sam- yang senang nonton film sibuk mengimajinasikan film horor di kepalanya dengan menjadikan tempat itu sebagai settingnya. (wuih, celetukan tentang “atria, jangan sembarangan ambil foto. Nanti muncul yang aneh-aneh”, sukses meredam kegiatan ‘membekukan moment’ yang sibuk kulakukan. Maklum meski bukan penakut, aku tetap tidak ingin memiliki pengalaman spiritual apapun dengan makhluk halus). Kami juga sibuk merancang masa depan yang memungkinkan bagi hutan itu. Mulai dengan menghayalkan “english camp” di Jompie, hingga menghayalkan kondisi indah taman jompie yang dialiri sungai.
Ketika beranjak dari Jompie, kami kemudian memutuskan untuk memuaskan hasrat berenang para peserta perjalanan. Mengingat saat itu masih terlalu siang untuk menginjakkan kaki di pantai, akhirnya mobil kami melaju menuju Waterboom Pare-pare. Ketika tiba di gerbang waterboom, tim jalan2 kami nyaris terbagi dua..karena setengah mau main ari, setengahnya nggak (aku jelas nggak mau berenang..maklum berenang di kolam membuat apa yang aku sembunyikan dengan jilbab jadi kelihatan..he..he..). Setelah pikir-pikir sana sini, akhirnya semua masuk di waterboom meski hanya setengahnya yang main air. Sedangkan aku dan k’hera –dalam perjalanan itu hanya ada 2 wanita- memutuskan untuk berpose ria di tepi kolam sambil menikmati es krim dan cemilan lain.
Selepas dari waterboom kami kemudian memutuskan untuk jalan-jalan di tepi pantai.  Matahari masih cukup menyilaukan namun tak lagi terasa terik. Kami memutuskana untuk berjalan-jalan di tepi pantai dan melihat aktivitas warga di sekitar pantai. Nampak sekelompok anak muda yang sibuk di tepi pantai. Ada yang terlihat menenteng sebuah ember kecil, ada yang sibuk menunduk dan memandang air di daerah dangkal sambil sesekali menjulurkan tangan ke dalam air. Saat kami dekati mereka menjadi ramah dan mau bercerita sedikit dengan kami. Ternyata mereka sedang mencari kerang untuk di jual. Katanya setiap kilo-nya bisa dijual seharga 100ribu rupiah. Akhirnya aku dan k’sam ikut membantu mereka mengumpulkan beberapa buah kerang. Setelah beberapa menit sibuk menunduk mencari kerang di daerah dangkal aku dan teman-teman yang lain akhhirnya asyik main air dan berfoto. (jelas aku yang paling eksis. Maklum baterai hapeku jauh lebih banyak sisa cadangan energinya).
Ketika waktu menunjukkan jam 5 lebih, kami akhirnya memutuskan mengakhiri wisata kami di pantai itu dan melanjutkannya dengan wisata yang tidak kalah hebohnya. Setelah shalat ashar di salah satu masjid, kami langsung mendatangi pasar (bisa disebut pasar malam sih, karena bukanya setelah jam 5 sore) untuk berbelanja. Salah satu hal yang terkenal dari Pare-pare selain pantainya adalah adanya pasar yang menjual barang-barang import dengan harga murah. Kami kemudian menghabiskan waktu hampir 2 jam di pasar itu. Aku berhasil mendapatkan 2 buah tas cantik dengan modal 40ribu rupiah. (he..he..thanks to k’hera yang membantu saya menawar).
Selepas itu kami segera makan malam karena kami tidak ingin tiba terlalu malam di Makassar. Waktu sudah menunjukkan jam 7 malam saat aku menghempaskan pantat di salah satu kursi pelastik di pinggir pantai. Malam itu kami menyadari bahwa kami menghabiskan malam minggu di Pare-pare. Kami kemudia menyambut heboh kondisi itu. “Jauh-jauh bermalam minggu di Pare-pare. Hebatnya! Ha..ha..”..akhirnya pada saat bulan telah bersembunyi (karena ternyata saat itu adalah bulan mati bukan new moon seperti yang kami duga), dan jam menunjukkan pukul 8, kami kembali naik ke mobil dan bertolak menuju Makassar.
Yah, hari itu menjadi wisata yang cukup lengkap. Mulai dari agro wisata (meski gagal total *-*), wisata bahari hingga wisata belanja telah kami lewati. Ini moment yang indah karena dilewati bersama. Semoga tidak menjadi wisata terakhir bersama awak SPORA meski kini aku tidak lagi menjadi bagian dari SPORA. Jadi teringat sebuah kalimat tentang kebahagiaan saya lupa siapa yang menuliskannya bahwa “kebahagiaan tidaklah menjadi sesuatu yang membahagiaakan jika kita tidak punya siapa pun untuk diajak berbagi”

Senin, 13 Juni 2011

..cerita perjalanan @ Pare-pare..Part 1 Taman wisata Jompie yang terlupa namun terekspos




Atas permintaan dari teman-teman seperjalanan, aku merasa perlu untuk menulis tentang Taman Wisata Jompie  di Pare-pare secara terpisah dari kisah perjalan di Pare-pare. Ada sebuah alasan atas permintaan tersebut. Ini karena KAMI TELAH TERTIPU oleh media.

Keberangkatan kami ke Pare-pare dalam rangka perjalanan bersama dari staf SPORA (sebuah lembaga kursus bahasa Inggris kedokteran) sebenarnya menjadikan Taman Wisata Jompie sebagai tujuan utama. Dengan penuh semangat dan keceriaan, rombongan kecil kami menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam. Perjalanan dari Makassar hingga Pare-Pare diwarnai berbagai perbincangan menarik, mulai dari kondisi jalanan sebagai implikasi dari tidak terpilihnya Jusuf Kalla sebagai presiden (ini adalah pemikiran pribadiku yang ikut kucetuskan dalam pembicaraan itu..he..he..maklum penggemar JK..(^_^)v) hingga pembicaraan tentang kondisi pendidikan negeri ini.

gerbang kedua
Selama perjalanan kami cukup penasaran tentang kondisi Taman Wisata Jompie, karena menurut pencetus ide ini –K’ilo – menyatakan bahwa dari berita yang ia tonton digambarkan bahwa Taman Wisata Jompie ini adalah “Kebun Raya Bogor”nya kota Pare-Pare. Dengan semangat itulah kami semua turun dari mobil ketika sampai di pintu gerbang taman wisata tersebut. Namun pemandangan yang menyambut kami mulai terlihat ganjil.

kolam yang menghijau
Ketika melangkah ke pintu gerbang Taman Wisata Jompie dengan beberapa gundukan tangga, kami berharap (lebih tepat menyangka) bahwa kami akan ditagih uang tiket masuk. Namun ternyata tidak ada pungutan apa pun. Kami kemudian tersenyum melihat kolam renang yang cukup besar yang terletak beberapa langkah dari gerbang. Celetukan pun muncul, “Wah, mau ka berenang deh”, “Aduh lupa ka bawa baju ganti”. Namun senyum itupun memudar, langkah kami melambat, dan celetukan terhenti. Semua bertanya-tanya, “Ih kenapa kolamnya hijau?”, “Ndak terawat!”.

tak terurus
Kami segera melewati kolam renang tersebut dan kambali menjejak pada gundukan tangga yang terlalu tinggi, hingga mempersulit langkah kami karena yang dilakukan bukanlah melangkah melainkan memanjat tangga(serius..tangganya ketinggian..tapi kemudian kami meyadari ada jalur pejalanan kaki yang agak memutar dengan tangga yang normal..he..he..). Ketika melewati gerbang kedua taman wisata tersebut, kami disambut oleh tempat pembiakan tanaman yang tidak terurus. Banyak pot-pot bekas yang tergeletak begitu saja tanpa ada isinya.

Ketika melanjutkan langkah dan menaiki satu demi satu anak tangga, semakin terlihatlah bahwa taman wisata Jompie ini sudah lama tidak terurus. Daun-daun yang kekuningan dan mengering menggunung dan menutupi tanah dan undukan tangga. Bunyi gemerisik daun-daun kering tersebut mengikuti langkah kami. Kami bagaikan tersesat ke dalam sebuah hutan yang tak bernyawa. Selanjutnya kami terus melangkah sambil saling melemparkan godaan yang berisi cerita-cerita menakutkan yang terinspirasi oleh film-film horor da thriller yang pernah di nonton.

sungai yang mengering..
Banyak tempat-tempat duduk yang selayaknya enak menjadi tempat untuk bercengkrama dan beristirahat sambil mendengar nyanyian alam dan menikmati lukisan Tuhan berupa alam yang indah. Namun tempat-tempat tersebut sudah tampak berlumut, kotor dan ditutupi oleh dedaunan yang kering. Sungai di taman wisata tersebut pun telah mengering. Di beberapa tempat nampak bekas daun-daun yang terbakar entah dengan tujuan apa.

Pada akhirnya kami pulang dengan perasaan kecewa. Tempat yang menjadi tujuan utama dari perjalanan kami ternyata adalah sebuah kebohongan publik. Kami jadi bertanya-tanya, rekaman yang diputar oleh stasiun berita itu rekamanan tahun berapa? Kenapa tidak tampak sedikitpun kejayaan dari taman wisata tersebut?

Dan tahukah anda, hal yang sangat konyol kemudian terjadi. Salah satu koran lokal di wilayah Makassar malah mengangkat berita tentang taman wisata ini. aku jadi bertanya-tanya, “Apakah taman wisata yang aku datangi berbeda dengan taman wisata yang telah diliput oleh media?”..hm aku rasa tidak mungkin, karena di jalan ada penunjuk arah ke taman wisata tersbeut. Dan ketika kami mengikuti arah yang benar, kenapa pemandangan yang kami terima tampak berbeda??

Semoga ada orang lain yang mau share terkait dengan pemberitaan ini. Adakah di antara pembaca ada yang baru-baru ini menjejakkan kaki di taman wisata tersebut? Kalau iya, tolong bantu saya membuktikan kenyataan yang aku tulis ini tentang kondisi Taman Wisata Jompie.

P.S: ini adalah link pemda pare-pare. Sayang perawatan taman wisata ini hanya menjadi wacana. Begitu mendapat penghargaan berhenti dikelola dan dikembangkan.
http://bappeda-parepare.info/index.php?option=com_content&view=article&id=124:promosikan-potensi-parepare-pemkot-tour-jurnalisme-ke-jompie-&catid=40:berita-bappeda

Rabu, 01 Juni 2011

..perjalanan yang tak terlupakan..


Postingan kali ini masih menyangkut kegiatan rombongan yang saya dampingi. Jika sebelumnya saya menceritakan berbagai tempat wisata yang mereka datangi di Makassar dan Toraja serta perjalanan yang mereka lalui dari Makassar menuju Toraja melalui Enrekang, maka kali ini saya ingin mengisahkan berbagai perjalanan yang benar-benar akan membekas bagi rombongan ibu-ibu ini (seperti pengakuan mereka..although they said that it’s the dirtiest vacation..he..he..*_*)

Setelah belanja kopi Toraja, sekitar jam setengah 3 siang, rombongan langsung berangkat menuju kota Palopo karena sejak pagi rombongan sudah langsung check out dari hotel. Selama perjalanan, banyak obrolan seru perkelompok yang tercipta dan ada pula yang memilih tidur atau sekedar duduk diam menikmati perjalanan. Namuan sekitar pukul 3 dalam perjalanan menuju Palopo, kabut menyelimuti jalan. Hal ini menimbulkan rasa panik dan akhirnya gelombang dzikir pun tercipta. Kecemasan ini terjadi mengingat jalanan yang sedari tadi dilewati adalah jalan menurun berkelok-kelok dengan dibeberapa sisi adalah jurang yang tertutup rimbungan pohon. Kondisi kabut ini jelas menyulitkan supir untuk melihat kendaraan. Tapi alhamdulillah kondisi ini pun terlewati dengan selamat. Sekitar jam setengah 5 sore akhirnya rombongan tiba di Kantor Cabang di Palopo.

Di kantor cabang ini, ibu-ibu ini kemudian disuguhi kue-kue, minuman dan durian. Kue barongko yang menjadi makanan khas Palopo pun menjadi rebutan ibup-ibu. Kehebohan pun terjadi di ruangan pertemuan yang dijadikan tempat untuk menjamu ibu-ibu tersebut. Kemudian kehebohan berlanjut saat rombongan diarahkan ke gedung belakang untuk menyantap durian. Segera saja tumpukan-tumpukan durian dalam jumlah yang cukup banyak itu diserbu oleh ibu-ibu. Ada yang langsung asyik memakan satu buah, ada pula yang sibuk foto-foto dengan kulit durian. Hampir semua anggota rombongan menyantap durian dalam jumlah banyak. (beberapa waktu berikutnya saat dalam perjalanan, efek serbuan atas durian mulai terasa, ada yang mulai merasa kepananasan, ada pula yang tenggorokannya terasa tidak enak seperti merasa panas dalam..he..he..setiap tindakan memang memiliki beberapa konsekuaensi..saya sendiri hanya makan sekitar 3 biji dan setelah itu langsung minum air kelapa yang telah disediakan)
Akhirnya pada pukul 6 lewat 12 rombongan akhirnya kembali masuk ke bis dengan dibekali nasi dos untuk santap malam di perjalanan. Rombongan ini masih sibuk bersecerita tentang kesan di Palopo, dan orang-orang yang ada di kantor cabang Palopo. Cerita-cerita riang ini masih terus berlanjut hingga Bis berhenti di salah satu masjid. Setelah shalat maghrib rombongan langsung melanjutkan perjalanan dan kemudian singgah di beberapa Pom Bensin untuk numpang buang air kecil. Selama perjalanan menuju Toraja lalu dan perjalanan menuju Makassar kali ini, hal yang selalu dilakukan adalah mencari Toilet dan menyerbunya.  Pertama kali berhenti di Pom Bensin adalah sekitar jam 8 malam yang kemudian dilakukan pembagian makanan yang dibekali oleh orang-orang dari cabang Palopo. Setelah supir bis selesai menyantap makanannya, perjalanan pun dilanjutkan. Kemudian akhirnya sampai di Pom Bensin di daerah Siwa.
Setelah itu moment ketegangan pun muncul. Mamaku yang terbangun dari tidurnya di bis kemudian membangunkan ku seraya berbisik, “Ika coba deh kamu tanya supir bis. Apa dia gak salah jalan? Kok jalanannya sepi sekali. Dari tadi kita tidak pernah ketemu truk. Seharusnya sekarang kita sudah sampai di Sidrap”. Akhirnya menuruti perintah mama, saya pun maju ke depan dan menanyakan perihal tersebut kepada supir kemudian si supi menjawab, “kita sekarang ada di Sengkang”. Nah, bingunglah saya dan mama saya, karena meskipun sudah 11 tahun tidak pernah menjejakkan kaki lagi di tanah Sawerigading (Palopo), kami tahu bahwa tidak perlu masuk ke Sengkang kalau menuju Palopo. Setelah memastikan hal itu, muncullah kepanikan di antara ibu-ibu. Jalanan yang sepi semakin menambah kecemasan. Waktu menunjukkan jam 11 malam dan jalanan gelap dan penduduk sudah terlelap. Akhirnya, sambil menggerutu kesal supir bis pun turun dan bertanya ke rumah warga yang akhirnya kembali dan berkata, “kita salah arah”. Namun setelah memutar arah muncul mobil pribadi dari arah berlawanan, yang karena kembali di desak oleh seluruh rombongan akhirnya supir pun turun dan kembali menanyakan arah. Setelah kembali ke bis, dia mengeraskan gerutuannya dan berkata, “cocok ji arah ta tadi. Ndede putar arah ki lagi,”. Setelah itu terdengar gumaman “Alhamdulillah” dari rombongan, namun aku dan mamaku saling melemparkan tatapan kesal karena kami berdua menyadari bahwa meskipun kita telah mendekati jalan poros Sengkang-Pare-Pare, kita telah membuang waktu 2 jam di perjalanan karena pada akhirnya kita tetap harus masuk ke wilayah Sidrap. Dan ini berarti perjalanan yang harusnya membutuhkan waktu 8 jam molor hingga 10 jam

Namun ternyata selama perjalanan supir yang ternyata mengalami sakit kepala akibat ikut menyantap durian di Palopo, berkali-kali berhenti untuk beristirahat. Akhirnya jam 5 subuh, kami masih berada di wilayah Pangkep dan belum mencapai kota Pangkep. Namun sekitar jam 4. 30, pimpinan rombongan kami sangat membutuhkan toilet untuk buang ari besar. Akhirnya setelah sempat kesal karena beberapa keli melewati masjid dan sang supir enggan berhenti, akhirnya supir dipaksa untuk berhenti di salah satu warung penjual Dange yang parahnya ternyata tidak punya WC dan hanya punya sebuah jamban. Ritual pun sudah tak tertahankan untuk dilaksanakan, akhirnya dengan menerima semua kondisi yang ada semua ritula buang air pun dilakukannya. Akhirnya kisah ini menjadi kisah lucu tersendiri bagi rombongan. (he..he..petualangan yang hebat *_*)

Pada akhirnya perjalanan Palopo-Makassar kami membutuhkan waktu sekitar 12 jam. Setibanya di Makassar, rombongan langsung menikmati coto Makassar. Dan finallay saya pun bisa tiba di rumah dengan selamat.