Selasa, 16 Agustus 2016

9 Bulan Dibuat Penuh Cinta, Dibuai Penuh Harap


Penulis: dr. Irfan Rahmatullah, Sp.Og
Editor: Syafruddin Murbawono
Tata letak: Bintang Hanggono, M. Rizal Abdi
Ilustrasi isi: Dewantoro Purbo Gesang
Desain sampul: M. Rizal Abdi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 273 halaman
ISBN: 978-602-03-2328-2

Di dalam buku ini Anda bisa menemukan semua jawaban dari berbagai pertanyaan seputar kehamilan yang akan muncul di benak Anda. Dengan lebih dari 500 dan infografis, buku ini akan membantu Anda menemukan semua jawaban atas pertanyaan Anda.

Informasi mulai dari pra-kehamilan, proses kehamilan, komplikasi-komplikasi kehamilan, hingga persalinan- dan bahkan semua kekhawatiran tentang keadaan yang mempersulit kehamilan – dapat Anda temukan di sini. Buku ini dibuat khusus untuk para calon ibu dan ayah dalam mempersiapkan “extraordinary family” dengan informasi dan ilustrasi yang mudah dipahami.

***
Buku ini terbagi menjadi 11 Bab yang khusus membahas tentang kehamilan, yaitu: Pertama dan yang Pertama Kali; Hamil? Apa yang Harus Dilakukan; Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi; Gaya Hidup Sehat Selama Kehamilan; Menjaga Bayi yang Belum Lahir; Keluhan-Keluhan yang Paling Sering Dirasakan; Seksualitas dalam Kehamilan; Kegawatdaruratan Dalam Kehamilan; Saatnya Persalinan; Persalinan Spesial; dan Masa Nifas dan Saatnya Ber-KB.

 Jika biasanya buku parenting terkait kehamilan akan cukup banyak membahas pula tentang cara mengasuh baya pasca melahirkan, maka buku ini sedikit berbeda. Sejumlah perempuan hamil sering kali membutuhkan buku yang khusus membahas kehamilan saja, terutama bagi mereka yang baru pertama kali merasakan pengalaman menjadi ibu hamil. Sebab sering kali saat usia kandungan kurang dari 4 bulan, maka keinginan untuk fokus mempersiapkan diri menghadapi berbagai keluhan dan kekhawatiran terkait kehamilan akan lebih besar. Persoalan merawat bayi yang baru lahir masih terasa jauh.

Buku ini hadir menjawab kebutuhan perempuan seperti saya. Sejak mendapat kepastian bahwa saya tengah hamil 6 minggu saya mulai mengecek tumpukan buku koleksi saya terkait persiapan menjadi seorang ibu. Saya kemudian menyadari bahwa buku-buku yang saya miliki lebih banyak mempersiapkan saya untuk merawat bayi. Tidak banyak menjawab pertanyaan saya tentang situasi baru yang saya hadapi.

Kini saat usia kandungan saya menginjak 16 minggu, kehadiran buku ini terasa pas. Karena benar-benar membahas tentang kehamilan secara khusus namun dimensi yang lebih luas.

***
Di Bab Pertama, buku ini secara singkat, jelas dan padat membahas tentang persiapan kehamilan. Tentang hal apa yang harus dipersiapkan saat ingin hamil; seberapa penting asam folat; apa itu gen serta pewarisan penyakit melalui gen ini; organ reproduksi; usaha yang disarakan untuk dilakukan jika menginginkan anak laki-laki atau perempuan; serta masalah infertilitas dan cara penanganannya.

Di Bab Kedua, dibahas tentang kehamilan. Bagaimana cara mengetahui kehamilan; bagaimana memperkirakan hari kelahiran; tes yang perlu dilakukan sebelum hamil; juga membahas tentang toksoplasma. Toksoplasma sering kali menjadi momok yang menakutkan bagi mereka yang ingin segera memiliki keturunan. Tidak sedikit yang memilih untuk menjauhi kucing demi terhindar mikroorganisme yang membawa toksoplasma ini. Bahasan tentang hal diulas secara singkat dan jelas (Hal. 81 – 83). Terakhir, bab ini membahas tentang sejumlah pertanyaan yang melintas dibenak saat mengetahui diri positif hamil seperti amankah menggunakan high heels, bolehkah minum kopi setiap pagi, bolehkah makan durian dan daging kambing, serta sejumlah pertanyaan lainnya.

Di bab-bab berikutnya dijelaskan secara jelas perkembangan janin dari minggu ke minggu. Mulai dari ukurannya, bagaimana janin bertumbuh dan berkembang, hingga bagaimana nampaknya kondisi janin saat di USG. Ada juga bab yang menjelaskan tentang gaya hidup sehat selama kehamilan. Seperti pola makan yang tepat, obat-obatan yang aman dan tidak aman bagi ibu hamil, hingga olahraga yang aman bagi ibu hamil. Ada pembahasan tentang keluhan-keluhan umum saat hamil. Juga penjelasana lengkap tentang penyakit lain yang datang saat hamil serta keputusan medis apa yang bisa dilakukan. Hingga pembahasan lengkap tentang persalin dan jenis persalinan yang bisa saja dijalani ibu hamil.

Kesimpulan yang tepat adalah bahwa buku ini benar-benar lengkap untuk membekali ibu hamil, terutama yang baru menjalani kehamilan pertama, sehingga membuat ibu tersebut merasa lebih siap menjalani kehamilan dan persalinannya. Dan secara mental hal ini akan berdampak positif bagi ibu hamil tersebut. 

Minggu, 31 Juli 2016

Pangeran Pengelana dan Putri Malu




Teruntuk Pangeran Pengelana,

Sudah berapa lama kau menghilang dari hidupku? Sebulan? Dua bulan?

Bukankah kau selalu begitu. Menghilang bak ditelan bumi kemudian muncul kembali dengan penampilan yang bagi orang lain terlihat tak terawat, namun bagi yang mengerti itu adalah sisa perjuanganmu kemarin.
Aku perempuan yang selalu menatapmu. Akulah yang paling memahamimu.

Aku tahu, rambut yang memanjang dan kemunculan jerawat kecil di keningmu, di dekat dagumu adalah buah dari kehidupan seru yang kau jalani sesekali. “Menyapa alam,” katamu. Alasan lain yang sering kau utarakan di depan khalayak adalah bahwa dengan begitu kamu tidak akan lupa untuk selalu menjadi bermanfaat.

Hutan yang rimbun dengan pepohonan yang menjulang adalah penghasil air saat musim kemarau panjang datang. Ia memberi, meski sering kali manusia lalai mengingat kebaikannya.

Pun denganmu, aku melihatnya. Berkali-kali. Perempuan dengan kulit putih dan rambut lurus panjang sebahu yang mengerucutkan bibir itu. Ia, perempuan yang selalu kau datangi pertama kali saat pulang dari berkelana. Sering kali aku digigit kesal karenanya. Sebab aku tahu, bukan itu yang kau harapkan darinya.

Kau berharap ia akan berbangga atas apa yang kau lakukan. Toh perjalananmu kali ini sambil memanggul setumpuk buku untuk anak-anak di desa sana. Desa yang jangankan mendapatkan buku, mendapatkan listrik saja masih susah.

Kau tahu, jika aku yang ada di sisimu, aku akan memberikan senyum terbaik untukmu. Memastikan bahwa aku bisa mengurangi lelahmu. Berusaha membuatmu tertawa. Mengajakmu menonton film AADC 2 yang baru tayang demi menikmati film dan puisi. Dua hal yang aku tahu amat kau gandrungi.

Sayangnya aku tidak mungkin melakukannya. Aku hanya bisa membantumu mencari data untuk tugas-tugas kuliah yang kau lewatkan minggu lalu. Ah, andai kau tahu Pangeran Pengelan betapa aku ingin membuatmu menyadari perasaanku. Sayangnya, kau hany mencariku di saat seperti ini. Sebab bagaimana mungkin kau tertarik pada gadis dengan rambut sepundak, berbekal ransel dan sneakers serta kacamata berminus lima yang ketika berjalan hanya bisa tertunduk sebab tidak ingin menjadi pusat perhatian. Meskipun jujur, aku berharap bisa menjadi pusat duniamu.

Ah, itu kamu datang. Paling tidak aku menjadi orang kedua yang kau datangi setelah puas berkelana. Ya orang yang kau temui demi memastikan IPK-mu melewati batas minimum penerima beasiswa. Ya, aku harus berpuas dengan itu.

Salam Sayang,
Putri Malu yang Memandangimu Tanpa Jemu


Jumat, 01 Juli 2016

Ajang Kumpul Keluarga yang Kompak




Hidup sebagai perantau membuat hubungan dalam keluargaku sangat erat. Ini karena kami tahu bahwa saat di tanah rantau, tidak ada yang bisa kami andalkan selain keluarga sendiri. Papa, Mama, keempat saudaraku dan aku adalah satu tim. Pekerjaan Papa yang membuat kami hidup berpindah dari satu kota ke kota lain. Terhitung sejak kecil hingga duduk di bangku SMA, aku pernah hidup di 4 kota berbeda. Teman masa kecilku ya saudara-saudaraku sendiri. Apalagi usia kami tidak terpaut jauh. Hanya berbeda satu hingga dua tahun.

Lebaran selalu menjadi ajang pembuktian kekompakan kami. He..he.. Kenapa? Karena entah sejak kapan, muncul tradisi untuk memakai seragam lebaran. Baju keluarga. Baju kebangsaan ibn Rasyid. Biasanya sebisa mungkin warna bajunya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika pun semua tidak seragam, minimal aku dan mama memakai baju dengan model dan warna yang sama, mengingat hanya aku seorang anak perempuan yang dimiliki papa dan mama. Sedangkan papa dan saudara laki-lakiku biasanya memakai baju koko putih.

Ajang Kumpul Keluarga yang Kompak




Hidup sebagai perantau membuat hubungan dalam keluargaku sangat erat. Ini karena kami tahu bahwa saat di tanah rantau, tidak ada yang bisa kami andalkan selain keluarga sendiri. Papa, Mama, keempat saudaraku dan aku adalah satu tim. Pekerjaan Papa yang membuat kami hidup berpindah dari satu kota ke kota lain. Terhitung sejak kecil hingga duduk di bangku SMA, aku pernah hidup di 4 kota berbeda. Teman masa kecilku ya saudara-saudaraku sendiri. Apalagi usia kami tidak terpaut jauh. Hanya berbeda satu hingga dua tahun.

Lebaran selalu menjadi ajang pembuktian kekompakan kami. He..he.. Kenapa? Karena entah sejak kapan, muncul tradisi untuk memakai seragam lebaran. Baju keluarga. Baju kebangsaan ibn Rasyid. Biasanya sebisa mungkin warna bajunya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika pun semua tidak seragam, minimal aku dan mama memakai baju dengan model dan warna yang sama, mengingat hanya aku seorang anak perempuan yang dimiliki papa dan mama. Sedangkan papa dan saudara laki-lakiku biasanya memakai baju koko putih.

Senin, 20 Juni 2016

Ia Lelaki yang Tidak Peduli

http://1.bp.blogspot.com/-VkT5cnQEpbI/UCEHf2bSyXI/AAAAAAAADlA/iwu-tXq4wuk/s1600/Cara+Menghadapi+Pacar+Yang+Cuek.jpg
Sumber foto di sini



Usia pernikahan saya memang masih seumur jagung. Tanpa masa pacaran yang orang sebut sebagai penjajakan. Hingga sejak awal kami adalah dua orang asing yang memutuskan untuk bersama secara sadar.

Sejak hari pertama setelah ia mengambil alih tanggung jawab Papa dengan sumpah yang mengguncang ‘Arsy-Nya, saya sadar kami adalah dua karakter yang berbeda. Ia adalah lelaki humoris yang lebih senang membagi senyum dan cengiran daripada kata. Sedangkan saya lebih senang mengungkapkan sesuatu lewat kata baik tutur maupun tulisan dan tak pandai mengukir senyum lebar.

Bukan hal mudah untuk saling memahami. Kami menikah dipertemuan kelima, tujuh bulan setelah pertemuan pertama. Saya tidak pernah tahu betapa mandiri ia sebagai lelaki. Tidak pernah ia ingin menyusahkan saya dengan keperluan pribadinya. Hingga sering kali saya merasa tidak dibutuhkan. Sikap ini kemudian ditambah dengan sikap cueknya. Maka ramuan antara sikap mandiri, cuek, dan tidak banyak bertutur kata ini tentu membuat saya sebagai perempuan merasa tidak diperhatikan. Diabaikan.

Dua pekan setelah menikah saya harus meninggalkannya untuk menyelesaikan studi. Maka makin asinglah kami satu sama lain. Makin sulitlah kami saling memahami. Proses saling mengenal ini dihalangi jarak. Maka pertengkaran kerap terjadi. Belum lagi ia yang hanya menyisihkan waktu untuk menghubungi saya di malam hari. Siang hari? Ia raib.

Namun suatu hari, saya menyadari bahwa sayalah yang jarang memulai komunikasi. Ternyata setiap kali saya mengirim pesan singkat meski hanya berisi satu kata seperti “Kakak” –panggilan yang saya padanya– maka ia akan segera menelpon begitu membaca pesan tersebut. Ini selalu terjadi. Ia selalu berusaha memenuhi panggilan saya. Seolah memberitahu bahwa ia akan selalu ada, sesibuk apapun dirinya dan sejauh apapun kami terpisah.

Minggu, 31 Januari 2016

Surat Untuk Februari



Teruntuk, Februari
Aku berharap engkau datang membawa ceria
Tidak muluk, cukup perbanyak senyum cerah sang mentari dan minta angin bergoyang sepoi hingga menyejukkan raga dan hatiku

Aku berharap engkau pun mau berkonspirasi bersama alam
Melancarkan usaha yang tengah kuperjuangkan dengan sangat
Dan memudahkan pertemuanku agar mampu membunuh rindu hingga tamat

Teruntuk Februari,
Sejak dulu aku tidak pernah menyematkan warna padamu
Tapi untuk kali ini saja, izinkan aku menyematkan biru padamu.
Kenapa? Karena itu warna keberuntunganku.
Pertama kali bertemu suamiku, aku memakai warna itu.
Dan sejak dulu aku selalu menyukainya. Bukankah langit yang cerah pun sewarna itu?

Teruntuk Februari,
Aku tidak ingin meminta banyak padamu
Hanya saja, aku berharap banyak rencana indah bisa berjalan baik bersamamu

Untuk itu, melalui surat ini, aku ingin mengajakmu bersekutu.
Semoga kau berkenan.
Sampai bertemu esok hari.
Oiya, aku lupa mengucapkan, “Selamat untuk hari ke-29mu yang kembali pulang. Jamu dia dengan baik ya. Sebab ia akan kembali menghilang dan kau akan merindunya selama 4 tahun penuh.”

Salam hangat,

Sekutumu yang Merayumu

***

Hai, ini surat pertama yang kutulis di tahun 2016 ini. Lantas, kenapa kuperuntukkan pada Februari? Ini karena malam ini Januari akan pergi dan mentari pertama Februari akan datang.

Aku sedang menyimpan banyak harap di Februari ini, sehingga merasa perlu untuk menyapanya dengan manis. Bulan ini aku akan sidang untuk tugas akhirku. Teman-teman di komunitas Pecandu Buku pun akan mengadakan kegiatan seru. Selain itu, aku berharap di bulan ini aku pun bisa kembali memecahkan celengan rinduku.

Ah, semoga Februari ini dipenuhi dengan hal-hal baik. Begitupun dengan bulan-bulan berikutnya.

[30 Hari Menulis Surat Cinta, Day 1] 


Rabu, 30 September 2015

Pesawat Kertas Terakhir



Dear lelakiku,

Sudah 100 surat yang kuterbangkan berisi setiap harap untuk seluruh waktu yang akan kita lewatkan di masa depan. Seberapa pun singkat atau panjangnya ia kelak.

Dan ini adalah surat ke 101 yang ingin kutuliskan panjang. Mungkin saja ini menjadi surat terakhir yang kutuliskan untukmu. Atau bisa jadi ia bukan yang terakhir. Entahlah.

Ya, setidak terduga itulah masa depan. Seperti setidak terduganya semua perjalanan yang kita tempuh hingga ada di titik ini. Kau dan aku bersatu menjadi kita bukanlah bagian dari rencana saat itu. Namun sungguh Dia-lah yang paling tahu. Rencana-Nya selalu yang terindah.